Gereja Berada di tengah-tengahManusia Teknologi

      Gereja dalam perkembangannya yang pesat beserta para peleyan khusunya. Untuk menciptakan sebuah gereja yang heterogen dari berbagai aspek. Entah itu dari sisi pelayanan, pengabdian masyarakat dan lainnya. Itu berarti gereja memiliki peran yang sangat sentral untuk mengontrol perubahan budaya dalam masyarakat ataupun merubah person sehingga dapat meluruskan sesuatu yang ingin di luruskan oleh gereja terkait kontabinasi gereja, dimana gereja sendiri berada di tengah-tengah dunia ini.

Gereja memainkan peranannya secara penuh untuk mengarahkan manusia menanggapi dan memahami keterbukaan dunia dengan perkembangan yang sangat signifikan yang  tidak terbendungi. Bagaimana pelayan khusus menyikapi perubahan zaman yang sudah terkomputerisasi. Untuk berkembang bersama-sama dengan lajunya perkembangan teknologi. Dimana telephone genggam suda semakin pintar yang tidak hanya memainkan peranannya sekedar berkomunikasi seperti telepone saja tetapi suda dilengkapi dengan berbagai media fitur “agama”, “game”, Soaial media” ; seperti Alkitab dan Kidung Jemaat, berbagai fitur sosial media, sebuah dunia maya merupakan dunia fantasi suatu lingkungan simulasi komputer bagi pengguna untuk berinteraksi.

Beranekaragam interaksi perkantoran disimulasikan dengan kekuatan visual. Yang menyebabkan urusan perkantoran tak perlu lagi kita menghadiri kantor tetapi cukup dengan koputer yang memiliki internet maka kita bisa mengontrol pekerjaan kita dari rumah.

Gereja di perhadapan dalam dunia pasca modernisasi mempertanyakan apa itu sebuah kebenaran ? jawaban modernisasi tidak ada sebuah kebenaran absolut. Dalam era pasca modernisasi kebenaran dan kesalahan adalah istilah-istilah yang tidak lagi relevan karena kita menciptakan kebenaran kita sendiri. Budaya komunikasi menjadi ladang pertumbuhan kebenaran dimana kebenaran menyesuaikan diri dengan budaya yang di terima oleh kelompok. “There is no truth, only truths. There are no principles, only preferences. There is no grand reason, only reasons” ((Grand Rapids: Baker, 1994).Sadar atau tidak sadar kita telah masuk pada era skeptis, Stuart SimMenjelaskanAliranPasca-ModernisasiSebagaiSuatuBentukSkeptisismeTerhadapKekuasaan, Kebijaksanaan, Budaya, dan Norma-Norma Politik , dsb  yang Diterima.

Internet menjadi permainan pasca modernisasi, Dalam Cyberspace NasibKebenaran Makin KehilanganArtinya.Tak Ada Arti yang Tetap: SemuanyadapatDinegosiasi, dapatDipertukarkan, danBerganda. Karena generasi baru saat ini adalah generasi digital. Ada sebuah penilitian menyatakan bahwa manusia saat ini sudah sadar media sampai umur 21 tahun rata-rata orang menghabiskan waktu sebagai berikut ;

10,000 jam  video game

200,000 email

20,000 jam  TV

10,000 jam ber-hp

Dibawah  5,000 jam membaca

Dan sekarang kita sudah samapi pada generasi jejaringan sosial yang sangat memampukan kita berinteraksi atau berkolaburasi dengan tidak lagi memerlukan perjumpaan langsung. Sadar tidak sadar keakraban kita suda masuk didalam kebutuhan jejaringan sosial yang sangat maksimal. Orang MencariKebenarandanKebutuhanJiwaMereka Di Internet: MerekaAdalahJiwa-Jiwa Di Internet (Cyber Souls), komunitas di temukan serta terbentuk didalam internet melalui  forum, chating, blog dan sebagainya.

Sisi gelapnya

Don Tapscott  “Grown Up Digital” :

1)Merekalebihdungudaripadakitasaatberumursepertimereka.  Merekatidaksukamembacadankomunikator yang buruk.Psikiater  Edward Hallowell dalambukunyaCrazyBusymenyebutkanmerekasebagaigenerasi yang memilikikelainankekuranganperhatian (attention deficit disorder). Merekamenghabiskanwaktulebihbanyak di duniamayasehingganilaiujianmereka di kelasmenjadiburuksekali.

2)  Merekagenerasilayarkaca (Screenagers), kecanduan internet,  kehilanganketrampilansosial, dantakmemilikiwaktuuntukkegiatanolahragadankebugaranjasmani.  Ketikamerekamenjadiketagihan video game, hasilnyamenjadibertambahparah, samasepertipengaruhalkoholdanobat-obatan.

3) Merekatakmemiliki rasa malu.  Terutamapararemajaputri, tidakmalumengunggah (upload)   gambar-gambarprovokatifdirimerekasecara online. Para remajainitakmenyadaribahwainformasi-informasi yang terlalurincidanpribadiyang mereka posting di internet dapatsajaberbalikmengejarmereka, sepertisaatmerekamemasukiperguruantinggi, melamarpekerjaan, ataumenjadi target parafedofilia, danagenpemasaran online.

4)Karenaorangtuamerekaterlalumelindungimereka, merekamenjauhidunianyatadantakutmemilihjalanhidupmereka. Merekatakmampumandiri.

5) Merekamencuri.  Merekadenganmudahnyamelanggar HAKI denganmengunduhmusik, mempertukarkan, danberbagikesesamateman, tanpa rasa hormatsedikitpunkepadapenciptadanpemiliknya.

6) Merekasukamenggertakdanmenekantemansecara online. Sebagaicontohdelapanremaja, enamdiantaranyaputri, memukulseorangremajapadabulan April 2008 danmengunggahnya di YouTube.

7) Merekakejam.  Berbagaipermainan  video games yang mengumbarkekerasandankekejamantelahmendidikmerekamenjadigenerasi yang menyukaikekejaman, kekerasan, kesadisan, kebrutalandanseksualitas.

8) Merekabukanpekerjakerasdanakanmenjadipekerja yang buruk.

9) Merekagenerasi paling narsis, “Generasi Me”. Kata “narsis” mengacukepadaperasaancintaterhadapdirisendiri.Media jejaringsosial, seperti MySpace atau Facebook, telahmemperkuatsifatnarsisremajasaatiniuntukmencuriperhatian orang kepadadirimerekasendiri.

10) Merekatakmemilikinilai-nilaidanbersifattakpeduliterhadap orang lain.  Ketertarikanmerekahanyapadabudayapopuler, selebriti, dantemanmereka

Demikianlah relevansi kehidupan kita sekarang sebagai manusia sadar media manusia teknologi, manusia digital, manusia jejaring sosial. Yang “haus” akan kebutuhan teknologi. Karena teknologi bisa menjadi “Tuhan” setiap detik dan menit. Itu berarti kesediaan berpikir manusia, gereja (pelayan khusus) atau sebagai pengguna teknologi seharusnya memiliki kepekaan mengkritisi lajunya perubahan dan perkembangan teknologi. Jangan kita di “perbudak” oleh teknologi. Menjadi manusia yang pandai memilih dan memilah teknologi mana yang seharusnya bisa dipakai menjadi kebutuhan untuk menjawab serta memberikan kontribusi bagi diri sendiri pada khususnya dan pada umumnya bagi lingkup Gereja.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s