MENCICIPI ANEKA RASA BERIBADAH

“Konsep Eklesiologi Jemaat GPM Imanuel OSM, Klasis Pulau Ambon Menyikapi Kehadiran Gereja The Representative of Christ Kingdom (R.O.C.K) Cabang Ambon”

A. LATAR BELAKANG MASALAH
Kehidupan bergereja di Maluku tidak homogen. Tidak dapat dipungkiri bahwa akhir-akhir ini banyak warga gereja yang bingung menyaksikan muncul dan berkembangnya berbagai aliran gereja di Maluku, secara khusus di kota Ambon. Mereka bingung oleh karena aliran-aliran gereja ini seolah-olah saling berlomba menawarkan produk teologi masing-masing kepada warga gereja. Eksistensi berbagai aliran-aliran gereja yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari yang biasa, berbicara lebih nyata dari gambaran ini. Gereja Sidang Jemaat Allah (SJA), Gereja Advent Hari Ketujuh, Gereja Bala Keselamatan, Gereja Pentakosta, Saksi Jehova, Gereja beraliran Kharismatik : The Representative of Christ Kingdom (R.O.C.K) telah turut menyajikan beragam cita rasa teologi dalam konteks bergereja di Maluku secara khusus. Kenyataan yang demikian ini menyediakan banyak pilihan bagi warga gereja. Setiap warga gereja bisa dengan gampang menemukan pilihan yang dirasakan sesuai dan yang paling penting adalah menyentuh kebutuhan dan menjawab ekspektasinya. Upaya mencari dan menemukan pilihan ini baru tampak jelas atau defenitif ketika ada “gerakan keluar” dari GPM sebagai gereja yang di dalamnya mereka dibesarkan dan menjadi anggota gereja lain.
Pembangunan jemaat mengarahkan diri pada praksis gereja. Praksis gereja meliputi berbagai aktifitas individual dan kelompok yang dicirikan oleh orientasi transformatif, ini berarti gereja secara terus-menerus berubah seiring dengan perubahan lingkungan sosialnya. Komunikasi iman di dalam gereja selalu berhubungan dengan konteks masyarakat. Dengan demikian aneka rasa teologi ini tidak hanya ada dan diterima sebagai keragaman, tetapi kerap kali menimbulkan beragam reaksi, baik dalam pandangan maupun sikap. Dalam rangka menawarkan “produk” teologi yang beraneka rasa tersebut, tidak jarang aliran gereja yang satu mencela aliran gereja yang lain sehingga kerap kali timbul pertentangan di antara penganut aliran-aliran tersebut. GPM sebagai gereja yang “tua” di Maluku boleh dikatakan mengalami situasi “baru” dengan berkembangnya berbagai aliran lain. Dari beberapa aliran gereja yang ada di Maluku, Gereja The Representative of Christ Kingdom (R.O.C.K) adalah gereja yang perkembangannya bisa dikatakan lebih pesat dibandingkan yang lainnya. Tanda perkembangan gereja ini secara kasat mata dapat dilihat pada segi kuantitasnya. Gereja The Representative of Christ Kingdom atau yang akrab dikenal dengan singkatannya The R.O.C.K berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Jalan Nn. Saar Sopacua yang biasanya lenggang pada hari Minggu kini telah berubah menjadi jalur yang rentan macet karena semakin banyak orang yang mengunjungi gedung gereja The R.O.C.K untuk beribadah. Pengaruh tidak langsung dari berkembangnya Gereja The R.O.C.K terhadap Gereja Protestan Maluku tampak dalam upaya-upaya mengembangkan “ibadah kreatif” yang umumnya mengarah pada ibadah yang berbentuk puji-pujian dan upaya untuk menciptakan nyanyian gerejawi yang baru.
Sekalipun tidak semua orang yang beribadah di situ adalah anggota Gereja The R.O.C.K, namun fakta ini memberi indikasi bahwa ternyata cita rasa teologi yang lain, selain yang ditawarkan oleh GPM, juga menarik dan menggiurkan banyak orang dari berbagai gereja asal (jemaat). Reaksi umum yang bermunculan di sekitar fakta ini pun beragam. Mulai dari yang lunak sampai pada reaksi yang keras yang memunculkan berbagai slogan : pencurian domba, menjala ikan dalam jala orang lain, gereja orang kaya, gereja anak muda, gereja supporter (karena lagu-lagu tempo cepat dan riuh tepuk tangan), dan sebagainya. Reaksi yang muncul dalam bentuk slogan-slogan ini masih lunak jika dibandingkan dengan reaksi yang lebih ekstrem yang bermunculan di sekitar fakta berkembangnya gereja The R.O.C.K seperti tindakan sengaja menghina dan melecehkan pribadi atau keluarga yang keluar dari GPM dan masuk ke Gereja The R.O.C.K. Beragam reaksi yang muncul ini tidak hanya berasal dari anggota jemaat saja, melainkan dari para pelayan khusus juga (pendeta, penatua, dan diaken). Kenyataan ini bisa dijumpai di hampir semua jemaat GPM di wilayah Klasis Kota dan Pulau Ambon. Ada saja anggota jemaat GPM yang mencari suasana beribadah yang baru atau bahkan beralih status keanggotaannya.
Jemaat GPM Imanuel OSM yang berada pada wilayah Klasis Pulau Ambon adalah jemaat yang langsung mengalami dari dekat berbagai perubahan yang terjadi dalam konteks bergereja di Maluku, khususnya yang berkaitan dengan kehadiran Gereja The R.O.C.K. Sudah pasti ada banyak reaksi yang muncul dalam sikap-sikap tertentu terhadap hal ini. Mulai dari yang biasa saja, yakni yang tidak menganggap Gereja The R.O.C.K sebagai kawan atau sebagai saingan dan berlaku sebagaimana biasanya, sampai pada yang “ekstrem”, yakni yang memandang gereja tersebut sebagai saingan bahkan sebagai eksistensi yang mengancam dan karena itu, memusuhi orang-orang yang masuk menjadi warga gereja tersebut.
Reaksi warga jemaat GPM terhadap realita hidup bergereja mencerminkan konsep eklesiologi yang dianutnya. Jadi, bagaimana sikap warga jemaat GPM terhadap kehadiran Gereja The R.O.C.K tergantung pada konsep eklesiologi yang dianutnya dan yang mengarahkan sikap dan perilaku bergerejanya. Gereja The R.O.C.K dan gereja-gereja lainnya dapat dipandang sebagai kawan seperjalanan atau musuh dalam selimut, itu sangat tergantung pada konsep eklesiologinya. Oleh karena itu, skripsi ini kelak akan menggali dan menemukan konsep eklesiologi yang tercermin dalam sikap dan perilaku warga Jemaat GPM Imanuel OSM terkait kehadiran Gereja The R.O.C.K dan pengaruhnya terhadap eksistensi jemaat setempat. Ini penting agar darinya dapat dikembangkan konsep eklesiologi yang menjadi arah baru bagi kehidupan bergereja dalam konteks yang telah berubah, secara khusus terkait dengan muncul dan berkembangnya berbagai aliran gereja di Maluku, di samping GPM sehingga kenyataan keberagaman aliran gereja yang tampak jelas hari ini tidak berimbas pertentangan yang merugikan, melainkan menjadi kekayaan bersama yang darinya setiap aliran gereja dapat belajar dan bertumbuh bersama.

B. PERUMUSAN MASALAH
Berdasar pada latar belakang yang telah dideskripsikan sebelumnya, maka masalah utama yang akan dikaji dalam skripsi ini adalah :
1. Bagaimana konsep eklesiologi Jemaat GPM Imanuel OSM Klasis Pulau Ambon menyikapi kehadiran Gereja The R.O.C.K ?

C. TUJUAN PENULISAN
Dengan demikian maka tujuan penulisan skripsi ini adalah :
1. Mengkaji konsep eklesiologi Jemaat GPM Imanuel OSM, Klasis Pulau Ambon terkait kehadiran Gereja The R.O.C.K.

D. MANFAAT PENULISAN
Skripsi ini diharapkan dapat :
1. Menambah referensi ilmiah yang mengkaji perubahan konteks bergereja di kota Ambon.
2. Memberikan kontribusi konseptual bagi Gereja Protestan Maluku secara umum dan Jemaat GPM Imanuel OSM secara khusus, terkait dengan kehadiran berbagai aliran gereja dan pengaruhnya, salah satunya Gereja The R.O.C.K.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

E. KERANGKA TEORITIK
Fakta beragamnya aliran di dalam gereja memiliki cerita yang yang panjang dan alasan-alasan kemunculan yang tersendiri sesuai konteks gumulnya. Bentangan panjang sejarah gereja menyajikan titik-titik di mana satu demi satu aliran bermunculan. Aliran-aliran dalam gereja dengan aksentuasi teologi dan praktik yang khas seperti yang dijumpai sekarang ini sesungguhnya merupakan reaksi terhadap realitas konteks bergereja pada zamannya. Gereja pada mulanya, secara eksistensial, hanya satu. Bagaimana dalam gereja muncul berbagai aliran adalah sejarah yang panjang sepanjang sejarah gereja itu sendiri, sehingga tidak mungkin dideskripsikan secara sempurna pada bagian ini. Bagian ini hanya akan mencoba menampilkan fakta yang mendasari lahirnya beberapa aliran dalam gereja. Fakta yang mendasari lahirnya aliran-aliran dalam gereja cenderung negatif. Artinya, setiap kemunculan aliran baru yang kemudian memisahkan diri atau terpisah karena tidak diterima di gereja asalnya selalu ditandai dengan masalah-masalah tertentu, baik menyangkut konsep atau pandangan teologi, maupun tindakan praktis.
Sejarah gereja mencatat bahwa hingga dewasa ini terdapat tiga “rumpun gereja” yang besar, yakni Gereja Ortodoks, Gereja Katolik Roma, dan Gereja Protestan. Berbeda dengan rumpun Ortodoks dan rumpun Katolik Roma yang tetap solid, rumpun Protestan adalah rumpun yang dalam perjalanan sejarahnya paling sering terpecah belah. Dari rumpun protestan ini bermunculan berbagai gereja dengan coraknya masing-masing, yang oleh Jan S. Aritonang disebut sebagai “aliran-aliran gereja”. Dewasa ini terdapat kurang lebih 13 aliran gereja yang muncul dari rumpun Protestan , masing-masing dengan aksentuasi teologi tersendiri yang berbeda dan khas yang menjadi citra eklesiologinya. Perhatikanlah deskripsi singkat dari dua aliran berikut ini, yakni Calvinis dan Kharismatik yang sengaja dipilih untuk dideskripsikan sebab berkaitan dengan kajian skripsi ini.
Calvinis
Sulit ditentukan dengan tepat kapan awal kemunculan aliran Calvinis ini sebab hingga aliran ini diberi nama Calvinis (diambil dari nama Johannes Calvin, sang reformator), prosesnya cukup panjang dan rumit pula. Jika mengacu pada “pembakuan” ajaran Calvin, tahun 1536 dapat disebut sebagai awal kemunculan aliran Calvinis sebab pada tahun tersebut muncul suatu karya besar dari Calvin sendiri yang berjudul Relegious Christianae Institutio, yang umumnya dikenal dengan sebutan Institutio. Karya Calvin inilah yang di kemudian hari menjadi ciri dan sekaligus pusat teologi gereja-gereja Calvinis. Tetapi jika mengacu pada kelembagaan atau organisasi, maka tahun 1559 dapat disebut pula sebagai awal kemunculan aliran Calvinis sebab pada tahun tersebut Sidang Sinode pertama para pengikut Calvin diadakan di Perancis. Aliran Calvinis ini pertama kali bertumbuh dan berkembang di Swiss dan Perancis. Tetapi perkembangan pesat aliran ini justru terjadi di Belanda. Perlu dicatat bahwa berbeda dengan Gereja Lutheran, tidak ada satu pun gereja pengikut Calvin yang menamakan dirinya Gereja Calvinis. Pada umumnya mereka menamakan diri Gereja Reformed. Ada pula yang menamakan diri Gereja Presbyterian, dan ada pula yang menamakan diri Gereja Congregational.
Gereja-gereja Calvinis memiliki beberapa pokok penting Ajaran yang khas yang menjadi citra eklesiologinya, yang secara nyata dapat ditemukan dalam cara pandang warga GPM. Pokok-pokok penting ajaran itu antara lain :
– Kedaulatan dan Kemuliaan Allah. Kedaulatan Allah terutama tampak dalam perkara penciptaan dan keselamatan. Sedangkan mengenai Kemuliaan Allah, Calvin menegaskan bahwa Allah menciptakan dunia dan manusia demi untuk kemuliaanNya. Karena itu segala yang terjadi di dunia ini dan segala yang dikerjakan manusia mestinya bertujuan memuliakan Dia.
– Hakikat Gereja. Gereja adalah persekutuan orang-orang yang telah diselamatkan di dalam Yesus telah dibenarkan kendati tetap merupakan manusia berdosa, yang kesemuanya disambut dan diterima manusia melalui iman. Gereja adalah tempat yang bisa ditemukan dimana saja, asalkan di sana Firman atau injil yang murni diberitakan dan sakramen yang murni dilayankan (Baptisan dan Perjamuan Kudus).
– Tata Gereja dan jabatan. Menurut Calvin, di dalam gereja ada empat jabatan, yakni: gembala/pendeta, pengajar, penatua, dan syamas/diaken. Khusus mengenai “pengajar”, jabatan ini mencakup semua fungsionaris gereja yang terlibat dalam tugas pengajaran yang berhubungan dengan iman kristiani, mulai dari guru agama (di sekolah), guru katekisasi, sampai dengan dosen-dosen teologi. Sedangkan mengenai Tata Gereja, gereja-gereja beraliran Calvinis pada umumnya menganut sistem Presbyterial-Synodal. Sistem ini disebut Presbyterial-Synodal oleh karena semua keputusan jemaat diambil pada tingkat presbyterium (majelis para penatua, termasuk pendeta sebagai presbyter yang berkhotbah dan mengajar), sedangkan perkara-perkara yang menyangkut kepentingan seluruh gereja diputuskan pada tingkat sinode, yang dalam hal ini diwakili oleh wakil-wakil presbyterium dari setiap jemaat.

Jalan Masuk dan Perkembangannya di Indonesia
Aliran Calvinis ini masuk ke Indonesia pertama kali bersamaan dengan datangnya orang-orang Belanda (VOC) ke Indonesia pada permulaan abad ke-17. Sebagian besar pegawai VOC adalah orang-orang Kristen Protestan-Calvinis, dan mereka inilah yang pertama kali mendirikan Gereja yang beraliran Calvinis di Indonesia. Di kemudian hari, mulai abad ke-18, aliran gereja ini masuk dengan lebih deras lagi ke Indonesia berbarengan dengan datangnya zending-zending Protestan dari Negeri Belanda. Hasil dari pekerjaan zending-zending ini adalah berdirinya sejumlah besar gereja di Indonesia, khususnya di Indonesia bagian Timur yang menyatakan diri beraliran Calvinis. Dari segi kuantitas, aliran Calvinis ini memiliki penganut terbesar di antara gereja-gereja di Indonesia. Paling tidak hal ini dapat dilihat dari jumlah gereja anggota PGI. Di antara 68 gereja anggota PGI (sampai dengan 1993), sebagian besar mengaku Calvinis. Beberapa di antaranya yang dicatat oleh Jan S. Aritonang ialah: GPM, GMIM, GMIT, GPIB, GBKP, GKI (Jabar, Jateng, Jatim), GKP, GKJ, GKJW, GKPB, GKS, GMIST, GKST, Gereja Toraja, GTM, GKSS, GEPSULTRA, GMIH.

Kharismatik
Aliran atau Gerakan Kharismatik dikenal juga dengan nama “Gerakan Pentakostal Baru”. Dengan demikian jelaslah bahwa aliran atau gerakan ini berpangkal pada gerakan Pentakostal. Ciri utama yang menunjukkan bahwa gerakan Kharismatik berpangkal dan mirip dengan gerakan Pentakostal ialah, keduanya memberi tekanan pada “Baptisan Roh” dan “Penyembuhan Ilahi” (Divine Healing). Cikal bakal Gerakan Kharismatik ini adalah sebuah organisasi para pengusaha Kristen yang bernama The Full Gospel Business Men’s Fellowship (FGBMF), yang dibentuk oleh Demos Shakarian, seorang milyuner di kota California, Amerika Serikat. Sejak semula kalangan FGBMF sudah menggunakan nama “Persekutuan Kharismatik” untuk pertemuan-pertemuan mereka. Suatu peristiwa yang sering diacu sebagai awal kemunculan gerakan Kharismatik ini ialah peristiwa yang terjadi di lingkungan Gereja Episkopal di sekitar kota Los Angeles-California, pada tahun 1959. Dalam peristiwa tersebut sepasang suami-istri yang masih muda, John dan Joan Baker, menerima Baptisan Roh disertai tanda berbahasa lidah, setelah bersentuhan dengan kalangan Pentakostal. Segera menyusul 10 orang lagi, lalu mereka berhimpun mengadakan kebaktian sendiri. Peristiwa ini (Baptisan Roh) kemudian dialami pula oleh jemaat-jemaat Episkopal di sekitarnya, dan mengakibatkan api kharismatik menyulut kobaran di mana-mana. Gereja Kharismatik disebut sebagai gerakan gelombang kedua (second wave). Sebagai suatu gerakan, gereja kharismatik muncul dan menyebar ke seluruh dunia sejak tahun 1960-an yang berawal dari Amerika. Sebenarnya, tanda-tanda awal dan persiapan sudah mulai pada tahun 1940-an. Padaakhir tahun 1940-an, sejumlah tokoh Pentakosta, yang tak terikat secara kelembagaan padagereja pentakosta tertentu, memperkenalkan pengalaman rohani (baptisan Roh) dan karunia Roh lainnya ke luar lingkungan petakosta.
Pokok-pokok Penting Ajaran Aliran atau Gerakan Kharismatik sebagaimana yang diulas Aritonang, yang menjadi citra eklesiologinya adalah :
– Pujian. Hasil pertama dari kedatangan Roh Kudus lewat Baptisan Roh adalah luapan pujian dari lubuk hati orang percaya. Hasilnya, orang percaya memiliki kemampuan baru memuliakan Allah, sebagaimana nampak dalam lagu-lagu pujian Kharismatik yang spontan dan – pada sebagian – dilambangkan oleh pemberian karunia berbahasa lidah.
– Penginjilan. Kedatangan Roh Kudus melalui Baptisan Roh memimpin kepada penginjilan. Bagi sebagian orang hal ini mendorong mereka untuk menginjili lebih efektif lagi, sedangkan bagi sebagian orang yang lain merupakan dorongan untuk menginjili untuk pertama kalinya. Sama seperti orang-orang Kristen yang dibaptis dalam Roh menerima kemampuan baru untuk berbicara secara bebas kepada Allah di dalam pujian, begitu juga mereka memiliki kemampuan dan keberanian baru untuk berbicara kepada orang lain tentang Tuhan.
– Karunia-karunia Roh. Hal yang paling banyak disebut sebagai ciri Kharismatik adalah karunia-karunia Roh yang didaftarkan antara lain dalam I Korintus 12:8-10. Kendati daftar ini memuat sembilan charismata, namun karunia yang paling utama dan paling banyak dibicarakan adalah glossolalia (bahasa lidah), nubuat dan penyembuhan.
– Kuasa Rohani. Unsur ini merangkumi seluruh aspek pandangan dan praktek gerakan Kharismatik. Kuasa Rohani yang mendampingi Baptisan Roh mewujud-nyata dalam kemampuan memuji Allah, menginjili, mengusir dan mengalahkan si jahat, serta mempraktekkan karunia-karunia Roh.

Jalan Masuk dan Perkembangannya di Indonesia
Aliran atau Gerakan Kharismatik pertama kali masuk ke Indonesia pada bagian kedua tahun 1960-an melalui penginjil-penginjil dari Amerika Serikat dan Eropa. Ketika terjadi kebingunagan dan kekosongan rohani, sehingga orang mencari kepastian dan pegangan hidup. Akan tetapi gereja-gereja kurang tanggap terhadap kebutuhan rohani warga jemaat tersebut. Gereja Kharismatik yang tampil dalam bentuk kelompok-kelompok doa mengisi kekosongan ini dengan memperlihatkan kekristenan dalam format iman yang menyala-nyala, tuntutan moral yang serius, persaudaraan yang hangat dan karunia-karunia yang nyata. Para aktifis kelompok-kelompok doanya rajin mendalami Alkitab dengan menonjolkan penguasaan alkitab dan kosakata kristen yang khas serta menonjolkan kesalehan formal. Dalam waktu sangat singkat gerakan ini berkembang dengan sangat pesat di Indonesia, sambil “menggerogoti” sebagian besar warga gereja “arus utama”. Dewasa ini hampir di seluruh wilayah Indonesia aliran atau gerakan ini memiliki pengaruh yang sangat besar, terutama di kalangan pemuda dan mahasiswa. Selain karena semangat yang luar biasa dari para penginjilnya, “keunggulan” aliran ini terletak pada pola peribadahannya yang sangat memikat, yang ditunjang oleh musik yang ditata dengan sangat apik.

Perjumpaan Aliran Calvinis (GPM) dan Aliran Kharismatik (Gereja The R.O.C.K) di Ambon

Sejak dulu di Maluku hanya ada dua aliran gereja yang memiliki pengaruh besar, yakni Gereja Katolik Roma (GKR) dan Gereja Protestan Maluku yang Calvinis. Fakta yang tidak mengejutkan karena memang gereja-gereja tersebut adalah gereja-gereja arus utama (mainstream) yang secara historis lebih dulu datang dan berkembang di Indonesia dan menyentuh Maluku secara khusus. Kenyataan hari ini berbicara lain. Kehidupan bergereja di Maluku tidak lagi dualis tetapi pluralis. Hal mana ditandai dengan muncul dan berkembangnya berbagai aliran gereja di Maluku sendiri, namun yang lebih kentara di kota Ambon.
Dari sekian banyak aliran gereja yang baru berkembang di kota Ambon dan sekitarnya, Gereja The R.O.C.K yang kharismatik merupakan gereja yang lebih pesat perkembangannya jika dibandingkan dengan yang lainnnya. Sebagaimana ditulis sebelumnya oleh Z. J. Ngelow bahwa Aliran atau Gerakan Kharismatik berkembang cepat dengan menjaring banyak warga jemaat, khususnya golongan menengah dan para pemuda serta mahasiswa di kota-kota besar yang kemudian juga meluas ke pedalaman. Apa yang diungkapkan oleh Ngelow dapat diamati lebih dekat dan jelas pada Gereja The R.O.C.K Ambon. Dalam waktu sangat singkat gereja ini berkembang dengan sangat pesat di kota Ambon, sambil ‘menggerogoti’ sebagian besar warga Gereja Protestan Maluku. Perkembangan pesat Gereja The R.O.C.K merupakan perubahan konteks bergereja di kota Ambon yang mulanya hanya dilayani oleh dua gereja arus utama, yakni GPM yang Calvinis dan Gereja Katolik Roma (GKR) dan keadaan ini merupakan pengalaman yang baru bagi warga gereja. Gereja The R.O.C.K yang sedang berkembang ini terus mengadakan ‘penginjilan’ sebagaimana karakternya dan hal itu pada kesempatan tertentu berujung pertentangan, sebab wilayah ‘penginjilan’ yang dirambah adalah wilayah yang tidak lagi tanpa tuan. Artinya, gereja tersebut ‘menginjili’ orang-orang yang pada dasarnya adalah anggota jemaat GPM atau yang lainnya.
Gerakan penginjilan oleh Gereja The R.O.C.K ini menimbulkan berbagai reaksi, namun secara umum dapat digolongkan dalam dua model. Pertama, ada sebagian pelayan khusus (pendeta, penatua, diaken) dan warga jemaat setempat dengan terbuka menolak secara tegas upaya ‘penginjilan’ yang dilakukan oleh gereja tersebut dan menuduh gereja itu sebagai gerakan yang menyesatkan karena ajaran dan prakteknya (salah satu yang menonjol dan mendapat banyak celaan adalah ajaran dan praktek Baptis Ulang) , bahkan ada yang yang lebih keras – walaupun ini tidak diorganisir oleh gereja – yakni pengucilan yang dilakukan terhadap keluarga tertentu yang beralih status keanggotaanya. Kedua, ada sebagian pelayan khusus (pendeta, penatua, diaken) dan warga jemaat yang dengan bijak menyambut dan menerima upaya ‘penginjilan’ gereja The R.O.C.K ini dengan berusaha menyelenggarakan pelayanan yang lebih intensif. Di sini sekali lagi tampak dengan jelas perbedaan konsep eklesiologi yang mengarahkan para pelayan khusus dan warga jemaat dari dua model reaksi di atas dalam menentukan sikap.
Eklesiologi
Sebagaimana arah penulisan ini, yang nantinya mengkaji konsep eklesiologi Jemaat GPM Imanuel OSM, Klasis Pulau Ambon terhadap kehadiran Gereja The R.O.C.K Cabang Ambon, maka dipandang penting untuk memaparkan secara mendasar tentang eklesiologi agar dapat menjadi acuan bersama.
Kata Eklesiologi berakar pada kata Yunani “ekklesia” dan “logos”. Jadi eklesiologi secara hurufiah dapat diartikan sebagai bidang studi teologi yang secara khusus menempatkan gereja sebagai pusat kajiannya. Dalam Perjanjian Baru, kata “ekklesia” digunakan untuk menunjuk dua sifat dari gereja. Pertama, eklesiologi menunjuk pada gereja setempat. Kedua, menunjuk pada gereja dalam pengertian yang umum. Dengan demikian maka ada dua sifat gereja yang natural, yakni yang partikular (local church) dan yang universal (universal church). Menurut Alan Richardson, kata ‘eklesia’ yang dipahami sebagai gereja dalam Septuaginta (LXX) digunakan untuk menerjemahkan dua suku kata Ibrani ‘edhah’ dan ‘qahal’. ‘Edhah’ berarti jemaat atau umat, sedangkan ‘qahal’ berarti sidang atau perkumpulan. Namun, di kemudian hari kata ‘edhah’ digunakan untuk menyebut sinagoge, yakni komunitas lokal Yahudi yang berhimpun untuk beribadah dan kemudian dari itu pengertiannya hanya sebatas perkumpulan atau perhimpunan. Sedangkan kata ‘qahal’ memiliki pengertian teologis sebagai ‘qahal YHWH’ atau ‘umat TUHAN’, yakni suatu himpunan baru yang secara khusus memiliki hubungan dengan ‘Mesias’, kerena itu Yesus menyebutnya jemaat-Ku.
Konsep Eklesiologi secara sederhana namun sarat makna diungkapkan oleh John Chr. Ruhulessin bahwa Eklesiologi, pada satu sisi adalah konsepsi teologi dasar tentang jati diri gereja, tetapi di sisi yang lain, eklesiologi juga adalah kompas operasional yang memberi arah bagi gereja dalam mengembangkan berbagai sistem berjemaat, sistem kepemimpinan, sistem organisasi dan pola pelayanannya. Pada sisi yang satu, eklesiologi terwujud dalam rumusan pengakuan iman dan ajaran gereja, sedangkan pada sisi yang lain, eklesiologi memberi arah bagi gerak pelayanan gereja dalam konteksnya.
Sejalan dengan pandangan Ruhulessin di atas, maka konsep ekesiologi Jemaat GPM Imanuel OSM yang dimaksudkan di sini adalah suatu teologi yang membimbing warga jemaat dalam menyikapi berbagai hal di sekitar kehidupannya. Ini adalah asumsi dasar dari kajian ini. Bahwa ada konsep eklesiologi tertentu yang mengarahkan umat dalam bersikap. Sebagaimana dikatakan oleh Andar Ismail bahwa setiap orang (warga gereja) bergerak dengan eklesiologi tertentu di benaknya. Konsep eklesiologi ini bisa berupa akumulasi pemahaman teologis yang diperoleh dari pengajaran gereja maupun dari kegiatan belajar dan pengalaman. Pengalaman yang dimaksudkan di sini adalah dialektika kritis gereja (anggota jemaat) dengan konteksnya.
Berbagai sikap yang merupakan reaksi warga Jemaat GPM Imanuel OSM terhadap kehadiran Gereja The R.O.C.K Cabang Ambon mencitrakan konsep eklesiologi yang ada di kepala mereka, baik pelayan khusus (pendeta, penatua, diaken) maupun anggota jemaat dan lebih lanjut merupakan eklesiologi gereja setempat, sebab jemaat pada hakekatnya merupakan gereja yang sesungguhnya karena di sana seluruh aktivitas pelayanan gereja (peran pendeta, penatua, dan diaken bahkan umat) dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari yang biasa. Inilah akar dari perbedaan atau keragaman reaksi warga jemaat.

F. KERANGKA BERPIKIR
Keragaman di dalam konteks bergereja di Maluku terjadi karena sudah banyak tawaran cita rasa teologi yang beraneka ragam dari berbagai aliran-aliran gereja. Hal ini sangat dirasakan akhir-akhir ini, khususnya oleh Jemaat GPM Imanuel OSM yang hidup berdampingan Gereja The R.O.C.K yang telah mendapat tempat untuk menghadirkan cita rasa teologi mereka yang berbeda. Gereja The R.O.C.K. yang secara geografis sangat berdekatan, bahkan boleh dikatakan berada dalam wilayah pelayanan Jemaat GPM Imanuel OSM. Gereja The R.O.C.K yang hadir dan berkembang dalam wilayah pelayanan Jemaat GPM Imanuel OSM memberikan pengaruh yang cukup signifikan bagi kehidupan bergereja Jemaat GPM Imanuel OSM yang pada awalnya hanya dilayani oleh GPM. Pengaruh kehadiran Gereja The R.O.C.K ini dapat diamati secara konkrit pada kenyataan hidup sehari-hari dalam kehidupan berjemaat. Banyak orang yang pada awalnya adalah warga Jemaat GPM Imanuel OSM kini telah beralih status keanggotaannya menjadi warga Gereja The R.O.C.K. Alasan yang paling sering muncul terkait ‘gerakan keluar’ dari GPM adalah tawaran cita rasa teologi yang berbeda, dan juga masalah praksis meyangkut pelayanan yang (menurut mereka yang berpindah gereja) kurang diterima di GPM sehingga tawaran dengan cita rasa yang baru membuat mereka yang menikmatinya seketika merasa terpuaskan secara spiritual maupun material. Contoh konkritnya adalah ibadah yang yang ditata secara emosionil (gembira, sedih), mengalami karya Roh Kudus dalam ibadah, dan sebagainya, bahkan pemberian bantuan berupa beras dan kebutuhan material yang lain.
Kenyataan ini memberi stimulus bagi warga Jemaat GPM Imanuel OSM untuk bereaksi dan reaksi yang muncul kemudian adalah wujud konkrit dari konsep eklesiologi warga Jemaat GPM Imanuel OSM. Dalam kondisi bergereja yang baru ini, banyak warga jemaat yang berupaya memberikan penjelasan terhadap realitas yang sementara dialami dan terhadap reaksi yang muncul. Ini berarti konsep eklesiologi Jemaat GPM Imanuel OSM sedang mengalami ujian karena kehadiran Gereja The R.O.C.K dan banyak jemaat yang beralih ke Gereja The R.O.C.K.
Kajian terhadap konsep eklesiologi Jemaat GPM Imanuel OSM mengarah pada penggalian konsep eklesiologi (pemahaman bergereja) yang muncul sebagai reaksi terhadap kehadiran Gereja The R.O.C.K dan hendak menyimpulkan konsep eklesiologi yang sesuai dengan konteks pelayanan yang terus berubah dengan berbagai dinamika di dalamnya dan diharapkan mampu menjawab berbagai persoalan keumatan (fungsional), setidaknya secara temporal, sebab perubahan dan perkembangan zaman dan perubahan dan perkembangan konteks bergereja mengisyaratkan perubahan eklesiologi.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

G. JENIS PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian deskriptif maksudnya ialah menjelaskan seluruh fenomena yang terjadi terkait dengan masalah yang penulis kaji secara sistematis, faktual dan akurat. Dengan kata lain, penelitian deskriptif berusaha menggambarkan sifat suatu keadaan yang sementara berjalan pada saat penelitian dan melihat sebab dari sebuah fenomena tertentu. Pendekatan kualitatif lebih memfokuskan pada manusia yang selalu berubah sebagai alat, proses daripada hasil dan perhatian pada kedalaman dan ketepatan data.

H. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN
Tempat dan waktu penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di Jemaat GPM Imanuel OSM, Klasis Pulau Ambon dan Gereja The Representative of Christ Kingdom (R.O.C.K).
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini direncanakan akan berlangsung pada Agustus sampai dengan Oktober 2010.

I. SUMBER DATA
Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari :
1. Sumber data primer penelitian ini adalah informan kunci dalam hal ini anggota jemaat dan pelayan khusus (pendeta, penatua, diaken) yang ada di Jemaat GPM Imanuel OSM dan anggota Gereja Representative of Christ Kingdom (R.O.C.K) yang pada awalnya adalah anggota GPM.
2. Sumber data sekunder yang dipakai dalam penelitian ini adalah sejumlah dokumen-dokumen gereja berupa Tata Gereja Gereja Protestan Maluku, perarturan pokok gereja, dokumen persidangan jemaat, dan sejumlah referensi lain berupa buku-buku, diktat, serta bahan-bahan lain yang diakses melalui internet.

J. TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Data-data yang menunjang penulisan ini didapat melalui wawancara dengan informan kunci yang terdiri dari beberapa anggota jemaat dan pelayan khusus yang ada di Jemaat GPM Imanuel OSM, Klasis Kota Ambon dan beberapa anggota gereja dan pelayan Gereja Representative of Christ Kingdom (R.O.C.K) dan observasi partisipatif.

K. TEKNIK ANALISA DATA
Teknik analisa data yang digunakan adalah analisa kualitatif yang bertujuan menggali dan memberi makna terhadap semua data penelitian yang diperoleh.

L. DEFINISI OPERASIONAL
Agar pemahaman yang sama dapat terbangun dan tidak terjadi misskomunikasi, maka sejumlah defenisi operasional dari masalah yang dikaji akan dijelaskan pada bagian ini, antara lain :
1. Eklesiologi. Eklesiologi adalah konsepsi teologi dasar tentang jati diri gereja, tetapi di sisi yang lain, eklesiologi juga adalah kompas operasional yang memberi arah bagi gereja dalam mengembangkan berbagai sistem berjemaat, sistem kepemimpinan, sistem organisasi dan pola pelayanannya.
2. Gereja The Representative of Christ Kingdom (R.O.C.K), disingkat The R.O.C.K. Gereja The R.O.C.K Cabang Ambon adalah salah satu gereja yang berada dibawah naungan Gereja Bethel Indonesia R.O.C.K.

M. CARA PENYAJIAN
Penulisan skripsi ini terdiri atas beberapa bab yakni Bab I yang merupakan pendahuluan skripsi ini memuat latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka teoritik, kerangka berpikir, jenis penelitian, tempat dan waktu penelitian, sumber data, teknik pengumpulan data, teknik analisa data, definisi operasional dan cara penyajian. Bab II berisikan gambaran umum lokasi penelitian, deskripsi seluruh data penelitian yang didapat dan analisa data tersebut yang bermuara pada penemuan situasi problematik. Bab III berisikan refleksi teologi atas masalah yang dikaji. Tujuannya adalah untuk menjawab permasalahan yang dikaji secara teologis. Bab IV merupakan penutup dari penulisan ini yang berisikan kesimpulan dan saran.

KEPUSTAKAAN

Aritonang, Jan S., 2008, Berbagai Aliran di Dalam dan di Sekitar Gereja, Jakarta : BPK Gunung Mulia.

Ismail, Andar, 1999, Awam dan Pendeta : Mitra Membina Gereja, Jakarta : BPK Gunung Mulia.

John Chr. Ruhulessin, Eklesiologi GPM dalam Konteks Masyarakat Kepulauan (Materi Seminar Eklesiologi GPM: Jemaat Khusus, Kategorial dan Konteks Kepulauan), 2-3 September 2008.

Radjawane, A. N., 2009, Kemurahan Allah yang Mengampuni, Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Richardson, Alan., (ed), 1957, A Theological Word Book of the Bible, London: SCM Press.

Strauss, Anselm dan Corbin, Juliet., 2007, Dasar-dasar Penelitian Kualitatif: Tatalangkah dan Teknik-teknik Teoritisasi data, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

http://www.rockministry.net/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s