PROSES PENYELAMATAN

Bagian ini secara khusus hendak mencakapkan tentang proses penyelamatan dalam perspektif Rasul Paulus. Dalam kaitan itu ada dua hal besar yang akan diuraikan secara lebih rinci ke dalam beberapa bagian. Dua hal itu adalah Ketegangan Eskatologis dan tentang Israel dalam hubungan dengan proses penyelamatan itu sendiri.
Pada awal bab 5 telah dicatat bahwa menurut Paulus ada dua fase keselamatan, yakni fase awal dan kelanjutannya. Setelah melihat secara rinci tentang tahap-tahap itu pada bab 5, maka sekarang yang akan dilihat adalah prosesnya. Tentu saja, dua fase ini tidak terpisah secara tajam. Sebab Paulus dalam suratnya kepada Jemaat Galatia mengisayaratkan bahwa tahap awal juga menentukan tahap selanjutnya (bnd. Gal. 3:3 dengan Fil. 1 : 2). Oleh karena itu, bab ini, khususnya mengenai pembenaran oleh iman, partisipasi dalam Kristus, dan karunia Roh. Namun demikian, ada beberapa aspek dari tahap proses yang memerlukan pertimbangan khusus dan oleh karena itu pantas diperhatikan secara khusus. Sebagian besar dari studi teologi Paulus yang akan berlaku merupakan upaya untuk mengisi apa yang bagi Paulus bagian dari proses “menjadi selamat” (being saved).
Hal ini penting sebagai langkah awal adalah memperoleh perspektif yang benar. Seperti yang sudah-sudah, beberapa kali, khususnya dalam surat individu Paulus terdapat koherensi antara fase-fase itu, bahwa konteks dialog dalam surat itu sendiri adalah salah satu bagian dan konteks teologi yang sedang terjadi dan berteologi Paulus. Dalam hal ini kerangka berpikir tentang proses keselamatan sangat penting. Karena tanpa itu, berbagai elemen menjadi terputus satu sama lain, dan koherensi dari keseluruhannya kemungkinan hilang. Ini adalah struktur eskatologis dari pemikiran Paulus yang penting.
Seperti yang kita lihat sebelumnya bahwa dalam pola pikir Ibrani, waktu biasanya dipahami sebagai suksesi usia. Sejarah lebih dipahami sebagai sebuah gerakan maju atau kemajuan, dengan penciptaan sebagai awal (creation) dan penghakiman sebagai akhir (final judgment), daripada sebagai siklus berulang. Ini dibagi menjadi dua atau lebih zaman. Pertama adalah untuk menjadi berhasil dan yang lain adalah sesuai dengan rencana yang telah ditentukan Allah sebelumnya. Garis lurus, dengan kata lain, memisahkan antara masa sekarang dan masa yang akan datang. Kegagalan dan penderitaan zaman sekarang akan teratasi seiring datangnya zaman baru. Dalam beberapa skema, walaupun tidak semua, masa transisi akan terjadi oleh atau bertepatan dengan kedatangan Mesias. Dengan begitu maka karakteristik untuk zaman yang akan datang dikenal sebagai “zaman mesianis.” Memang ada data yang beragam terkait hal ini, tetapi secara keseluruhan perspektif eskatologis ini cukup konstan. Ini sudah cukup untuk bisa mengatakannya sebagai skema eskatologis Paulus. Paulus menganggap zaman sekarang sebagai sesuatu yang rendah dan kedatangan Kristus sebagai puncak rencana Allah yang akan menjadi “zaman penggenapan” (Galatia 4.4). Misteri Tujuan Allah yang sebelumnya tersembunyi dari zaman dan generasi sekarang telah dinyatakan di dalam dan melalui Kristus (Kol 1:26-27).
Intinya adalah bahwa kedatangan Kristus berbenturan dengan skema sebelumnya dan perlu untuk dimodifikasi. Kedatangan Kristus dan kebangkitan orang mati adalah puncak eskatologis – “kepenuhan waktu” (Gal. 4.4), awal dari “kebangkitan orang mati” (Rm. 1.4). Tapi akhirnya tidak datang: orang mati tidak dibangkitkan, penghakiman tidak berlangsung. Peristiwa puncak eskatologis dengan demikian menjadi tidak lengkap. Oleh karena itu dibutuhkan penyelesaian dari tujuan ilahi dalam tindakan puncak yang lebih lanjut. Kristus yang telah datang, harus datang lagi! Hanya itu sisa peristiwa akhir yang akan terungkap. Dengan kata lain, bagian dari garis waktu yang satu terbagi lagi, yakni kedatangan Mesias yang merupakan titik akhir sejarah dan Kristus yang sudah datang di titik tengah sejarah.
Konsekuensi dari pengamatan ini agak mendasar bagi pemahaman kita
tentang soteriologi Paulus. Kuncinya adalah bahwa di celah yang terbuka antara kedua kedatangan Kristus terdapat tumpang tindih zaman. Awal zaman yang datang ditarik kembali ke zaman sekarang mulai dengan kebangkitan Kristus. Tapi zaman sekarang belum berakhir, dan akan bertahan sampai parusia. Ini berarti bahwa bagi Paulus mereka yang telah percaya dalam Kristus dan menerima Roh menjalani hidup mereka seperti Kristus di antara titik tengah (salib dan kebangkitan) dan titik akhir (parousia). Artinya, mereka hidup dalam tumpang tindih zaman, “antara dua waktu” (between the times). Jika kita mengambarkan skema ini dalam konteks Adam-Kristus, maka intinya adalah sama bahwa orang-orang percaya berada “dalam Adam” dan terus menjadi “dalam Adam” tetapi mereka belum mati karena mereka juga “di dalam Kristus,” dan telah mulai mengalami hidup, meskipun belum mengalaminya secara penuh dalam kebangkitan Kristus – kebangkitan tubuh. Hal mendasar dari konsepsi Paulus tentang proses keselamatan adalah bahwa orang percaya belum tiba, belum sempurna, selalu dalam perjalanan. Hal inilah yang menentukan pengalaman “menjadi selamat” sebagai proses “ketegangan eskatologis”, ketegangan antara “mulai” tetapi tidak “lengkap,” antara pemenuhan dan penyempurnaan, antara yang “sudah” ditentukan dan apa yang “belum,” yang masih harus dikerjakan.
Dari uraian di atas ada dua hal penting yang harus diperhatikan. Pertama, ciri khas
teologi Paulus pada titik ini bukan eskatologi, namun ketegangan eskatologis yang direvisi olehnya. Sebab kita tahu bahwa harapan eskatologis adalah hal umum yang diwariskan dalam agama Yahudi. Hal yang baru dalam teologi Paulus adalah ketegangan antara “sudah” dan “belum.” Hal kedua adalah bahwa penekanan eskatologi Paulus bukan mengarah ke depan (forward-looking), namun mengarah ke belakang (backward-looking), atau setidaknya terletak antara ketegangan keduanya. Oleh karena itu Cullmann sebagaimana dikutip Dunn menulis bahwa Injil Paulus itu eskatologis bukan karena dia mengharapkan akan terjadi sesuatu, tetapi karena ia percaya bahwa sesuatu itu telah terjadi. Sesuatu yang sudah terjadi dan bersifat eskatologis itu adalah Paskah dan Pentakosta. Paskah dan Pentakosta menjadi juga ciri dari akhir zaman. Ini berarti bahwa karakter dari masa “eskatologis” tidak tergantung pada parousia saja, atau pada kesegeraan atau keterlambatan parousia itu sendiri. Yang penting adalah kenyataan bahwa “kekuatan zaman yang akan datang” (Ibr 6.5) itu sudah membentuk kehidupan dan masyarakat dan juga pada waktunya
akan membentuk kosmos.
Sudah-Belum
Ketegangan eskatologis implisit dalam skema keselamatan Paulus dan berlaku dalam semua soteriologinya. Keberadaan skema itu diakui secara teratur. Melalui konsensus, ketegangan eskatologis itu secara umum dikenal dengan istilah “sudah” dan “belum” dari teologi Paulus. Istilah ini menunjukkan bahwa sesuatu yang menentukan telah terjadi dalam iman (already), tetapi bahwa karya Allah dalam memulihkan manusia belum lengkap (not yet).
Contoh ketegangan antara sudah dan belum dalam soteriologi Paulus
tampak dalam metaforanya tentang keselamatan karena ketegangan antara sesuatu yang sudah dicapai dan sesuatu yang belum terjadi menonjol dalam hal ini. Misalnya, “penebusan” yang pada satu sisi dirasakan oleh Paulus dan pembacanya sebagai hal yang sudah “dimiliki.” Tapi pada sisi yang lain, mereka masih menunggu penebusan, “penebusan tubuh.” Hal yang sama juga berlaku untuk “kebebasan.” Kebebasan adalah sesuatu yang sudah dinikmati tetapi belum sepenuhnya dialami. Semua ciptaan juga menunggu untuk “dibebaskan dari perbudakan ke dalam kebebasan kemuliaan anak-anak Allah”(Roma 8,21). Hal yang sama kuatnya dengan hal-hal sebelumnya adalah gambaran tentang warisan yang sudah dikonfirmasikan dan telah menjadi bagian dari hidup (terutama Gal. 4.1-7). Di samping itu, Paulus juga berbicara, dan lebih sering, tentang Kerajaan Allah sebagai warisan yang masih dinantikan.
Jika kembali pada prinsip “pembenaran oleh iman,” maka terdapat gambaran yang sama. Tentu Paulus menekankan bahwa yang “sudah” itu yang menentukan penerimaan Allah terhadap orang berdosa. Roma 5 menunjukkan akan hal itu : “Karena itu, yang telah dibenarkan oleh iman. . . “(5.1). Tetapi dalam apa yang kita lihat di atas tentang “kebenaran Allah” itu sama pentingnya untuk menekankan bahwa apa yang telah dimulai (oleh kasih karunia Allah) memiliki hubungan yang berkelanjutan. Dalam hubungan itu tampak bahwa kebenaran Allah menopang orang berdosa di dalam hubungan itu. Penghakiman terakhir juga mengisyaratkan pembenaran. Hal ini jelas tersirat, meskipun sering diabaikan, misalnya dalam kata kerja “pembenaran” (dikaioô) yang merujuk pada penghakiman terakhir. Penggunaan kata “pembenaran” ini tidak aktual dan tipikal Paulus, tetapi yang lebih mengkarakterkan teologinya adalah pembicaraan tentang “harapan akan kebenaran” (atau harapan karena kebenaran) sebagai sesuatu yang “ditunggu-tunggu” (Galatia 5.5). Pengakuan dimensi “belum” dari pembenaran oleh iman ini memberikan tambahan kekuatan untuk Simul peccator et iustus dari Luther.
Demikian pula dengan partisipasi dalam Kristus. Dicatat bahwa kata “dalam Kristus” biasanya digunakan untuk menunjukkan status masa sekarang, termasuk bagian dalam keselamatan yang merupakan efek dari peristiwa salib. Sedangkan kata “bersama Kristus” mencakup baik masa lalu dan masa depan (dalam lingkup penuh) – “bersama Kristus” dalam kematian dan penguburan, dan “bersama Kristus” dalam surga atau pada saat parousia. Dengan kata lain, unsur “mistik Kristus” dalam soteriologi Paulus juga meluas meliputi sudah dan belum. Oleh karena itu jika dilakukan penekanan pada satu aspek dengan mengabaikan aspek yang lain, maka akan mendistorsi teologi Paulus secara keseluruhan. Intinya adalah bahwa keberadaan di antara dua kedatangan Yesus ini mencerminkan penyelamatan atas mereka yang adalah milik Kristus. Jadi, mereka berbagi “dalam Kristus” dan “bersama Kristus” mengungkapkan bahwa meraka berada di antara dua kedatangan yang sudah dibahas sebelumnya.
Hal yang sama tercermin dalam apa yang mungkin dianggap sebagai konsepsi Paulus yang paling mendasar tentang proses keselamatan sebagai salah satu transformasi pribadi (Metamorfosis), yang secara khusus dipahami sebagai transformasi untuk menjadi seperti Kristus. Aspek yang dimunculkan di situ adalah aspek presentis yang menandakan suatu proses berkelanjutan namun tujuannya jelas belum sepenuhnya terwujud. Yang menonjol dalam pemikiran ini adalah kata “gambaran” dan “Kemuliaan.” Proses ini merupakan transformasi dari satu derajat kemuliaan kepada derajat yang lain serupa dengan Kristus (2 Kor 3.18.), menjadi serupa dengan gambar Anak Allah (Roma 8,29). Kristologi Adam menonjol di sini. Paulus memandang Kristus sebagai citra Sang Pencipta, yaitu gambar Allah yang dimaksudkan untuk kemanusiaan. Keselamatan adalah penyelesaian terhadap tujuan penciptaan yang asli – untuk memperbarui citra itu, untuk membawa umat manusia ke dalam kepenuhan kemuliaan ilahi.
Ketegangan eskatologis juga jelas dalam kerunia Roh. Hal mendasar dalam pemberitaan Paulus adalah klaim bahwa karunia Roh adalah awal dari proses penyelamatan. Memang, dapat dikatakan bahwa bagi Paulus karunia Roh adalah kunci yang mengantar pada ketegangan eskatologis. Karena dengan datangnya Roh ketegangan itu terbentuk. Roh adalah jembatan antara masa kini dan masa depan, antara yang sudah dan yang belum. Intinya yang paling jelas terlihat dalam tiga metafora Paulus.
Salah satunya adalah metafora dari “adopsi.” Paulus menggunakan metafora ini dua kali dalam beberapa ayat satu sama lain – pertama dalam aspek “sudah” dan kedua dalam aspek “belum”. Untuk aspek “sudah” adalah adopsi yang memungkinkan kita berseru : ya Abba, ya Bapa (Rm. 8.15) Tetapi yang belum adalah tindakan ilahi lebih lanjut “adopsi,” yang dinamakan “penebusan tubuh” (Roma 8.23) dan itu juga adalah karya Roh (8,11 23).
Metafora kedua adalah metafora yang berkaitan dengan istilah dari dunia bisnis, yakni arrabon atau “angsuran pertama, jaminan.” Roh Kudus bagi Paulus adalah angsuran pertama dari keutuhan penyelamatan. Dengan menghubungkan Roh sebagai arrabon istilah ahli waris kerajaan Allah maka hal ini menjadi eksplisit bahwa Roh juga adalah angsuran pertama Kerajaan Allah.
Metafora ketiga adalah metafora yang diangkat dari dunia pertanian, yakni aparche atau “buah sulung,” yaitu berkas yang pertama dari panen gandum atau panen awal (Rm. 8.23). Karunia Roh adalah tahap pertama dari panen yang termasuk di dalamnya adalah kebangkitan tubuh. Paulus di sini, tidak diragukan lagi, ada dalam pemikiran tentang kebangkitan tubuh sebagai pneumatikon soma (1 Kor 15,44-46.), Yaitu, tubuh yang ditentukan sepenuhnya oleh Roh dan tidak lagi oleh jiwa (soma psychikon), apalagi oleh daging. Karunia Roh adalah awal dari proses tersebut.
“Karunia Roh” bagi Paulus dan orang Kristen pada abad pertama umumnya memahami Roh itu sebagai hadiah. Paulus tidak menganggap arrabon dan aparche sebagai hanya sebagian dari Roh. Ia juga tidak menganggap keselamatan sebagai proses memperoleh atau menerima suatu saham semakin besar dari Roh. Sebaliknya, Roh itu sendiri sebagai yang arrabon dan aparche dan “pembayaran” penuh atau “panen” adalah keutuhan keselamatan yang diberikan Roh sehingga akan bekerja dalam dan melalui individu.
Hal yang sama muncul ketika berbicara tentang baptisan dan pengggambaran tentang baptisan karena terlihat jelas dalam Rom. 6:3-4 bahwa Paulus menyamakan baptisan
dengan penguburan/kematian dengan Kristus (6:4), namun dia tidak mengatakan “di mana atau melalui apa umat juga dibangkitkan dengan dia.” Penggambaran yang lebih terbataas lebih terbatas muncul dalam arti dasar dari kata baptizo yakni “terjun ke dalam atau membenamkan ke dalam.” Namun, ayat berikutnya menunjukkan bahwa ada lebih banyak penekanan pada jaminan kebangkitan daripada sekedar makna sebenarnya dari kata itu. Intinya kemudian adalah konfirmasi Paulus bahwa bagian dalam kebangkitan Kristus masih merupakan bagian dari yang “belum.” Orang-orang yang percaya dan dibaptis memang telah diberikan hak untuk mengambil bagian dalam kematiannya. Tapi ada proses penyelamatan yang terus dikerjakan sebelum mereka juga dapat memgambil bagian dalam kebangkitan-Nya.
Paulus pada bagian ini juga berbicara tentang dualitas dalam diri orang percaya. Dualitas dalam diri orang percaya ini oleh Paulus disebut “Aku yang terbagi.” Roma 7: 7-25 adalah salah satu masalah yang paling dipersengketakan dalam studi Perjanjian Baru. “Aku” yang terbagi itu adalah “aku” yang ingin berbuat baik dan menghindari berbuat jahat, tetapi itu adalah “aku” yang sama yang gagal untuk melakukan yang baik dan melakukan yang jahat (7,18-19) dan penyebabnya adalah dosa yang memperbudak pada kedagingan “aku” dan dengan demikian mencegah “Aku” untuk mencapai apa yang dikehendaki (7.20).
Penafsiran lebih lanjut yang melihat hal ini dari ketegangan eskatologis. Ketegangan dari Rom. 7,7-25 adalah ketegangan antara yang “sudah” dan yang “belum.” Hal ini timbul karena orang percaya hidup di tumpang tindih zaman. Karena itu “aku” tidak terlepas dari alam daging tetapi telah percaya.
Dalam Roma 9-11 Paulus juga berbicara lebih spesifik tentang visi masa depan Israel. Identitas personal dan logika pemberitaannya sangat erat dikaitkan rasul untuk bangsa-bangsa lain. Keyakinan dan harapannya ternyata bahwa pekerjaan misinya sendiri akan menjadi pemicu penting bagi penyempurnaan akhir (11,13-15). Harapan melakukan misi ke Spanyol (15,24, 28) tidak berarti bahwa dia berpikir tentang perkembangan misi kepada dunia yang masih harus diselesaikan. Sebaliknya, ia mungkin melihatnya sebagai akhir misi untuk mencapai keturunan Yafet sesuai dengan hubungan seperti yang awalnya digambarkan dalam Kejadian 10. Karena itu, saat ini para teolog sulit untuk memisahkan secara jelas antara teologi Paulus yang terkait dengan pemahaman dirinya sendiri dan sebagai misionaris. Pandangan Paulus tentang bagiannya sendiri yakni membawa injil kepada “bangsa-bangsa lain” telah terpenuhi.

Tantangan Paulus pada titik ini, kemudian, adalah justru kebalikan dari
apa yang telah begitu sering dipahami. Secara tradisional Paulus adalah seorang
“Rasul dan seorang yang menyangkali agama”. Paulus sebagai “non-Yahudi dan Yahudi,” atau yang berciri “kekristenan dan Yudaisme.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s