Ibadat Orang Mati di Maluku dan Sinkronisasinya Israel Alkitabiah

  • Ibadat Orang Mati di Maluku

Sejak dahulu hingga sekarang orang Maluku telah melakukan sebuah ritual terhadap orang yang sudah meninggal. Kalau yang saya lihat dan amati ini merupakan sebuah tanda penghargaan atau penghormataan terakir dengan rasa berduka dari pihak keluarga serta kerabat. Dan di dalam ritual yang dilakukan itu berupa”penghiburan” kepada keluarga yang telah ditinggalkan. Sehingga biasanya setelah kematian berlalu bebrapa hari kemudian ada syukuraan juga yang dilakukan dengan melakukan ibadah ritual. Namun terlihat jelas bahwa kekerabatan tidak berakhir setelah mati sebab keluarga dari orang yang telah mati selalu menjenguk makam, memelihara makam, terkadang juga ada pembicaraan-pembicaraan di depan kubur. Ini mungkin sebagian kecil yang saya paparkan dari tradisi ini.

  • Belajar dari Alkitab (Ibadat Orang Mati)

Melakukan ibadat orang mati merupakan sebuah cirri khas masyarakat Israel. Hal ini sebenarnya dilakukan untuk kepentingan anggota keluarga yang telah mati. Di Israel kuno “Yahwisme resmi” menentang segala bentuk kontak langsung maupun tidak langsung dengan orang mati, sementara “agama popular”, yang secara langsung mendapat pengaruh dari orang Kanaan, mengizinkan pemujaan terhadap para nenek moyang atau leluhur. Tetapi di dalam Agama Rakyat, ibadat orang mati merupakan sebuah cara yang umum untuk memperoleh berkah dari orang mati atau untuk menenangkan mereka. Menariknya orang mati dilengkapi dengan barang-barang pribadinya mengimplikasikan bahwa barang-barang ini akan berguna sesudah kematian. Mempertahankan hubungan antara satu generasi dengan generasi berikutnya merupakan wujud pemeliharaan kepada orang mati.

  • Sudut Pandang Deuteronomi

Deuteronomi sangat menentang ibadat kepada orang mati, “ Janganlah kamu berpaling kepada arwah atau kepada roh-roh peramal ; janganlah kamu mencari mereka dan demikian menjadi najis karena mereka ; Akulah Tuhan Allahmu” (Im. 19:31). “ di antaramu janganlah didapati seorangpun…….yang berkata kepada arwah atau kepada roh peramal atau yang meminta petunjuk kepada orang-orang mati” (Ul. 18:10-11). Dari kedua teks tersebut terlihat kenyataan bahwa peraturan Alkitab menentang ibadat kepada demikian memperlihatkan kenyataan yang terbukti adanya praktik tersebut secara berkelanjutan. “ Tidak kulangkahi atau kulupakan sesuatu dari perintahMu itu. Pada waktu aku berkabung sesuatu tidak kumakan dari persembahan kudus (qodes, persembahan persepuluhan) itu, pada waktu aku najis sesuatu tidak kujauhkan daripadanya, juga sesuatu tidak kupersembahkan dari padanya kepada orang mati” (UL. 26:13-14). G Ernest Wright menolak bahwa didalamnya terdapat rujukan pada persebahan korban kepada orang mati karena, karena dalam pandangannya, kebiasaan seperti itu tidak ada di ISRAEL. Mari terus kita lihat, bukti-bukti yang didapat dari Mesopotamia, dan khususnya dari Ugarit, telah memaksa perhitungan kembali tentang kehidupan sesudah kematian dalam Agama ISRAEL, dengan mengubah anggapan negative ini.

  • Melihat kepada Teks dan Bukti Arkheologi

Bukti perkembangan ibadat kepada orang mati yang terjadi di Ugarit (Ras Shamra), siria sekarang. Melihat secara metodologis bukti-bukti yang sangat kuat secara tekstual berasal dari Ugrait yang dengannya terdapat bukti yang bersifat Arkheologis. Banyak terdapat makam perunggu Akhir di Ras Shamra dan tempat lain, termasuk di Palestina, digali dengan sangat menyedihkan dan isi dari makam-makam tersebut dilaporkan secara buruk sehingga semuanya dapat dimengerti dengan teks-teks yang berkaitan.

  • Tanggung Jawab Keluarga Kepada Orang Mati

Saya melihat tanggung jawab, tujuannya adalah untuk memberikan pelayanan kepada orang yang sudah mati dengan bertujuan untuk mendapatkan berkah bagi kehidupan ini. Berikutnya saya melihat dari epik’Aqhat, hanya berkaitan secara tidak langsung dengan ritus penguburan. Dengan demikian ia mendaftarkan enam tugas, kultik dan prafon, yang harus dipenuhi oleh seorang anak yang bertanggung jawab terhadap Ayahnya. Dari dua tugas tersebut jelas ia besifat kultik, orang yang mendirikan tugu nene moyang ilahinya (skn ilibh) dan Orang yang makan persembahan sajiannya di kuil Baal, bagiannya di kuil EL. Dan pada akhirnya menyatakan bahwa “kekuatan supranatural yang murah hati dari orang mati”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s