Kritisisme Rakyat Jelata

Pembahasan

Kant kerap dipandang sebagai tokoh paling menonjol dalam bidang filsafat setelah era yunani kuno. Perpaduannya antara rasionalisme dan empirisme yang ia sebut dengan kritisisme, ia mengatakan bahwa pengalaman kita berada dalam bentuk-bentuk yang ditentukan oleh perangkat indrawi kita, maka hanya dalam bentuk-bentuk itulah kita menggambarkan eksitensi segala hal. Kant dengan pemikirannya membangun pemikiran baru, yakni yang disebut denagan kritisisme yang dilawankan terhadap seluruh filsafat sebelumnnya yang ditolaknya sebagai dogmatisme. Artinya, filsafat sebelumnnya yang ditolaknya sebagai dogmatism. Artinya, filsafat sebelum dianggap kant domatis karena begitu saja kemampuan rasio manusia dipercaya, padahal batas rasio harus diteliti dulu.
Filsafat kant disebut dengan kritisime. Itulah sebab ketiga karyanya yang besar disebut “kritik”, yaitu kritik der reinen vernunft, atau kritik atas rasio murni (1781), kritik der praktischen vernunft, atau kritik atas rasio praktis (1788) dan kritik der urteilskraft, atau kritik ats daya pertimbangan (1790).
Secara harfiah kata kritik berarti pemisahan. Filsafat kant bermaksud membed-bedakan antara pengenalan yang murni dan yang tidak murni, yang tiada kepastiannya. Ia ingin membersihkan pengenalan dari keterikatan kepada segala penampakan yang bersiifat sementara. Jadi filsafatnya dimaksud sebagai penyadaran atas kemampuan—kemampuan rasio secar obyektif dan menentukan batas-batas kemampuannya, untuk memberi tempat kepada iman dan kepercayaan.

Rakyat Jelata Berfalsafah

Seperti setiap hari dinamika tentag kehidupan tersus berjalan secara continiu, manusia terus dan terus berpikir mulai dari manusia yang sangat kuno yakni Homo Sapiens merupakan manusia yang berpikir terus. Sampai pada kita manusia modern 2011 terus berpikir tentang semua hal atau peristiwa yang terjadi di sekitar. Sebab berpikir itulah yang mencirikan hakekat manusia dank arena berpikirlah kita menjadi “manusia”.
“Rakyat Jelata” bukan orang yang bodoh, rakyat jelata juga belajar dari jalanan dan belajar dari pinggiran-pinggiran kota. Rakyat Jelata bukan permainan untuk dimainkan oleh mereka yang berkuasa, pemerintah yang memerintah dengan hati manusia yang terkadang meniadakan “bisikan” TuhanNya. Pada porsinya rakyat jelata selalu dimengerti sebagai orang-orang kecil, selalu di kesampingkan, di pandang sebelah mata, tak di perhitungkan, kurang lebih demikian asumsinya. Rakyat bersuara, rakyat menggugat pemerintah dengan caranya, sebab rakyat jelata berfalsafah demikian rupanya bukan menjawab pertanyaan kita namun mempersoalkan jawaban yang diberikan. Kemajuan rakyat jelata dalam berfalsafah bukan saja diukur dari jawaban yang diberikan namun juga dari pertanyaan yang diajukan.

 

Rakyat Jelata Menilik Kota Ambon
Buat sang penguasa kami adalah rakyat menggugat sebuah keadilan yang dipertanyakan dan dijawab oleh pemerintah kota Ambon. Menilik tata kota yang memperindah “Kota Ambon” benarkah.? Sang penguasa memberikan tugas kepada bawahannya untuk melihat dan menertibkan para pedagang kaki lima (PKL) yang berada di emperan jalan / “pasar” Batu Meja. Boleh dikatakan yang berwewenang terhadap hal itu adalah satuan Polisi PP. yang diberikan tugas agar mampu melihat kota ini dan memperindahnya sesuai aturan.
Rakyat Jelata mencari sesuap nasi di ladang pemerintah, seperti emperan jalan dan juga di pasara-pasar. Pasal 33 dikatakan fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara, benarkah ? dengan berjualan di emperan ”pasar” Batu Meja itu berarti mempergunakan fasilitas pemerintah, sebab pemerintah itu dari Rakyat serta dengan cara demikian memperkecil kemiskinan secara material dan memperbaiki perekonomian kota dan rakya, juga membuka peluang bagi mereka yang inging bekerja disitu. Aturan pemerintah dijawab oleh rakyat dengan memperhatikan kebersihan dan tidak membangun bangunan permanen di atas bangunan pemerintah, tanggung jawab tersebut telah di jawab Rakyat.
Pemerintah menjawabnya dengan menertibkan “pasar” Batu Meja yang di kordinasi oleh Sat POL PP Kota Ambon. Dengan alasan bahwa Rakyat berjualan di atas bangunan pemerintah dan katanya juga itu bukan “pasar”. Rakyat kembali mempertanyakan jawaban tersebut. Dengan melontarkan sebuah keadilan bahwa sedapatnya menertibkan dengan seadilnya sebab di pasar arumbae sana juga tidak ditertibkan sedangkan mereka telah berjualan di atas bangunan pemerintah dan membuat bangunan permanen di atas bangunan pemerintah dan juga jalan raya di situ bukan pasar sebab mereka berjualan di atas jalan raya milik pemerintah. [Peristiwa 6 Arpil 2011]. Rakyat mengkritisi keadilan yang model bagaimana yang sedang dilakoni. Surat perintah yang diberikan oleh SAT PP bukan perintah untuk berbuat anarkis atau memperlakukan Rakyat Jelata dengan menggunakan “bahasa binatang”. Sebab amatan Rakyat Jelata demikian dalam tindakan mereka selalu berujung anarkis. Mati kita belajar dari peristiwa lampau tanjung Priuk.

 

Rakyat Jelata Bukan Orang Bodoh
Rakyat Jelata bukan orang bodoh yang selalu di permainkan oleh sang penguasa pemerintahan. Ambon Kota yang Manise, kami sebagai rakyat juga berpikir tentang itu dan kami tahu tugas kami juga memperindah kota Ambon supaya Manise. Rakyat Jelata orang yang berperikemanusiaan yang beradab yang selalu berpikir untuk mencari makanan dengan cara yang tepat. Yang menguntungkan banyak orang serta menguntungkannya juga yaitu dengan cara berdadang atau berjualan di emperan pasar Batu Meja atau emperan kota lainnya. Rakyat yang belajar rakyat yang kritis, kritis melihat tingkah laku pemerintahan dengan lakonnya. Rakyat yang berjualan tidak melakukan korupsi yang merugikan banyak orang serta dunia Ambon ini. Rakyat mengkritisi pemerintah, Rakyat Oh Rakyat dapatkah suara rakyat sedikit saja di dengar. Serta di pertimbangkan para penguasa sebab Rakyat Jelata bukan orang bodoh. Sebab mereka terus belajar dan belajar, berpikir dan terus berpikir dari realitas kejadian-kejaidian di kota Ambon ini. Hay Pemerintah Kota Ambon dan Sat POL PP, Lihatlah Rakyat Jelata sebagai manusia yang memanuasiakan orang lain sebab mereka berjualan menghidupi kalian dahulu waktu Ambon Bergejolak kalian makan dari pasar batu meja bukan ? ingatlah cerita itu. Bersikaplah layaknya manusia yang berakhlak buat kalian Pemerintah Kota Ambon dan Sat POL PP.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s