MULTIMEDIA (Suatu Kajian PAK Terhadap Keberadaan Alkitab Elektronik di Kalangan Pelayan Khusus Jemaat GPM Bethel)

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. LATAR BELAKANG

Pada abad ini, dunia telah memasuki dan sedang berada dalam perubahan serta perkembangan cepat sebagai akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Berbagai layanan informasi, jaringan komunikasi, dan sejumlah peralatan canggih yang dioperasikan lewat komputer  membuat segala sesuatu menjadi semakin mudah untuk dijangkau. Di mana-mana setiap orang berlomba-lomba untuk menyesuaikan diri dengan perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terjadi melalui adaptasi dengan berbagai media , seperti komputer, telepon genggam, dan berbagai sarana  yang lain. Namun, disadari juga bahwa tidak semua orang mampu beradaptasi untuk dan menerima setiap revolusi teknologi yang terjadi dalam masyarakat dan lebih khusus secara bergereja. Pemanfaatan dan pengaruh teknologi ini terjadi di segala bidang kehidupan dan gereja pun tidak luput dari hal itu. Multimedia merupakan penggunaan komputer untuk menyajikan dan menggabungkan teks, suara, gambar, animasi dan video dengan alat bantu (tool) dan koneksi (link) sehingga pengguna dapat berinteraksi, berkarya dan berkomunikasi.

Multimedia sering digunakan dalam dunia hiburan. Selain dunia hiburan, multimedia juga diadopsi oleh dunia permainan (game). Multimedia dimanfaatkan juga dalam dunia pendidikan dan bisnis. Di dunia pendidikan, multimedia digunakan sebagai media pengajaran, baik dalam kelas maupun secara sendiri-sendiri.[1]

Media  adalah bukti bagaimana manusia berupaya mengembangkan diri dan berusaha mengatasi kesulitan-kesulitan hidup, menyediakan kemudahan kerja, kemudahan berbagi informasi, dan sebagainya. Hal ini membawa dampak bagi kehidupan masyarakat di berbagai bidang kehidupan, termasuk yang religius. Media  telah banyak dimanfaatkan oleh gereja dalam gerak pelayanannya. Penggunaan komputer di bidang administrasi, penggunaan proyektor, laptop, keyboard, televisi, dll, sebagai sarana pendukung dalam ibadah ritual adalah bukti pemanfaatan itu. Sungguh sebuah perkembangan yang luar biasa jika dibandingkan dengan ibadah ritual yang dilakukan gereja pada abad-abad yang lalu. Satu hal yang positif adalah berbagai media  digunakan memberikan banyak kemudahan dalam mendukung pelayanan. Secara langsung gereja menempatkan pemanfaatan media  pada sarana yang sebenarnya, yakni membantu manusia dalam mengatasi berbagai kesulitan hidup dan menikmati hidup.

Realita yang dijumpai di dalam kehidupan bermasyarakat adalah bahwa semua orang berlomba untuk memiliki media  dengan berbagai motivasi yang berbeda. Masyarakat telah menjadi pengguna media  dan telah memanfaatkannya untuk berbagai kemudahan dalam menunjang kelancaran aktivitas dan sebagai sarana rekreasi, termaksuk ibadah, baik ritual maupun sosial, meskipun  memang dalam konteks Maluku, semua orang belum menggunakannya.

Dalam pelayanan gereja akhir-akhir ini sering dijumpai penggunaan Alkitab  dalam proses ibadah ritual (konteks ibadah ritual di daerah Jawa). Alkitab  adalah salah satu aplikasi yang dapat beroperasi jika terintegrasi dalam telepon genggam atau komputer. Itu berarti penggunaan Alkitab Elektronik tidak bisa dipisahkan dari telepon genggam dan komputer.

Di Maluku nilai tradisi terkait ibadah ritual dengan menggunakan Alkitab buku sudah menjadi identitas. Setiap kali pergi beribadah, orang-orang selalu menggunakan Alkitab buku. Hal ini telah berlangsung lama dan membentuk pemahaman yang diwariskan. Pemahaman tersebut didukung oleh argumentasi yang kuat bahwa beribadah dengan menggunakan Alkitab buku itu lebih etis dan juga kelihatan khusyuk. Tentu pandangan ini muncul sebagai reaksi terhadap munculnya Alkitab Elektronik.

Sekalipun demikian, dengan positif pihak gereja juga menerima transformasi teknologi masuk di dalam gereja. Namun, terkait dengan kehadiran Alkitab Elektronik di dalam gereja, tidak menutup kemungkinan akan terjadi juga transformasi dalam menggunakan Alkitab yang berbeda fisik yakni Alkitab Elektronik. Kehadiran Alkitab Elektronik di samping Alkitab buku memunculkan berbagai tanggapan. Ada yang kemudian merespon bahwa penggunaan Alkitab Elektronik boleh diterima namun penggunaannya dalam ibadah-ibadah ritual itu yang menjadi mungkin masih menjadi persoalan. Dengan kata lain, masih mengalami penolakan dari banyak pihak walaupun diketahui Alkitab Elektronik adalah sebuah kitab suci. Dengan demikian maka hal tersebut bukan berarti semua orang menolaknya namun dari setiap manusia dengan prespektif pikirnya masing-masing ada yang menerima dan menggunakannya dan ada pula yang belum menerima.

Penggunaan Alkitab elektronik dalam ibadah ritual dilakukan dengan berbagai alasan yang sederhana, yakni kepraktisan dan adaptasi dengan perkembangan zaman. Dari segi kepraktisan, dapat dipastikan bahwa ke mana pun telepon genggam akan dibawa karena ukurannya kecil lagi pula banyak fungsinya sebagai telepon dan itu berarti Alkitab yang adalah salah satu aplikasi di dalamnya dibawa serta ke mana pun. Di samping itu, hal yang unik dari penggunaan media elektronik di kalangan pemuda erat dengan gengsi yang berkaitan dengan kemampuan seseorang berakses dengan kecanggihan teknologi.

Bethel sebagai jemaat kota dengan latar belakang masyarakat yang berkembang dari sisi pendidikan, pekerjaan, maupun ekonomi membuatnya terbuka untuk menerima berbagai perkembangan teknologi termasuk Alkitab Elektronik. Oleh sebab itu, Alkitab elektronik sebagai sebuah media baru kiranya mampu untuk digunakan secara maksimal demi pelayanan. Berbicara mengenai pelayanan gereja, maka di sana akan ditemukan keberadaan para pelayan khusus sebagai orang-orang yang ditahbis untuk melayani umat. Pelayan khusus (majelis jemaat) terdiri dari ; Pendeta dan atau penginjil, penatua-penatua dan diaken-diaken. Mereka memiliki tugas dan tanggung jawab untuk melayani umat. Karena pelayanan yang dilakukan (ibadah ritual) sering sekali membutuhkan Alkitab dan sebagai gereja reformasi yang menekankan sola scriptura, maka Alkitab sangat penting bagi pelayan khusus; untuk khotbah, renungan, meditasi, mengajar, dan lain-lain. Dapat dikatakan bahwa Alkitab adalah sumber pemberitaan dan pengajaran gereja.

Memang harus diakui bahwa menggunakan Alkitab Elektronik itu bukan tindakan menyimpang. Dalam arti sederhana adalah tidak melanggar hukum dan aturan gereja. [2] Namun, tidak jarang penggunaan telepon genggam dengan aplikasi Alkitab elektronik di dalamnya, dalam ibadah ritual cenderung mendapat penilaian buruk sebagai akibat dari salah tafsir banyak orang terhadapnya.  Sebab, tidak sedikit penyalahgunaan media elektronik yang terjadi (akses pornografi, dll), atau perbedaan pandangan antara para pemuda penggunaan Alkitab elektronik dengan warga jemaat yang lain. Hal ini sudah sering dijumpai dalam kehidupan bersama di jemaat. Padahal jika dilihat lebih luas, maka akan dijumpai bahwa sebenarnya media elektronik yang lain juga telah digunakan dalam ibadah ritual, tetapi mengapa telepon genggam dengan aplikasi Alkitab elektronik dalam penggunaannya mempunyai banyak penilaian negatif.

Kenyataan ini menjadi menarik untuk dikaji lebih dalam mengingat bahwa warga gereja adalah manusia yang hidup dalam dunia moderen yang serba elektronik. Kajian terhadap keberadaan dan pemanfaatan Alkitab elektronik dalam ibadah ritual bermaksud meneliti bagaimana pandangan pelayan khusus terhadap keberadaan Alkitab Elektronik serta bagaimana pemanfaatannya dalam pelayanan agar dari padanya dapat diambil suatu  pandangan dan sikap yang tepat, khususnya bagi warga jemaat GPM di tengah perkembangan dunia yang semakin canggih, terkait dengan berbagai pandangan tentang penggunaan Alkitab elektronik melalui telepon genggam dalam proses Pendidikan Agama Kristen.

B. Perumusan Masalah

Berdasar pada latar belakang yang telah dideskripsikan sebelumnya, maka masalah utama yang akan dikaji dalam skripsi ini adalah :

  1. Bagaimana pemahaman pelayan khusus Jemaat GPM Bethel tentang keberadaan Alkitab Elektronik ?
  2. Bagaimana penggunaan dan pemanfaatan Alkitab Elektronik di kalangan pelayan pada Jemaat GPM Bethel?
  3. Bagaimana Alkitab Elektronik dapat digunakan sebagai media pengajaran dan pemberitaan firman dalam pelayanan Gereja

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penulisan skripsi ini :

  1. Mengkaji Pemahaman pelayan khusus Jemaat GPM Bethel tentang Alkitab Elektronik
  2. Mengkaji penggunaan dan pemanfaatan Alkitab Elektronik di kalangan pelayan khusus GPM Bethel.
  3. Mengkaji Alkitab Elektronik, dapat digunakan sebagai media pengajaran dan pemberitaan firman dalam Pelayanan Gereja.

D. Manfaat Penelitian

Skripsi ini diharapkan dapat :

Memberikan kontribusi pikir bagi pengembangan wawasan tentang modernisasi dan IPTEK dan kedudukannya dalam pelayanan gereja serta pemanfaatan media elektronik (Alkitab) dalam proses Pendidikan Agama Kristen.

 

E. Kerangka Teoritik

Alkitab merupakan kumpulan buku-buku (tulisan-tulisan) yang pada awalnya ditulis di atas papirus dengan begitu tradisionalnya. Sebagai kumpulan buku-buku (tulisan-tulisan), Alkitab pasti memiliki sedikit kekeliruan, misalnya ketidakcocokan antara tempat, waktu, tokoh, antara buku yang satu dengan yang lain dan sebagainya. Dalam gagasan ineransi Alkitab dikatakan bahwa Alkitab tidak mungkin salah, berdasar pada Allah yang selalu benar dan bukan pada manusia yang sering berbuat kesalahan. [3]

Dengan sebuah cara lisan manusia hidup dan berinteraksi dengan sesamanya pada awalnya. Para leluhur adalah orang-orang yang peka dan suka bertutur cerita, tetapi karena mereka tidak dapat mengaktualisasikan apa yang mereka rasakan lewat tulisan maka hanya mampu dimengerti hanya dengan cara memahami apa yang mereka pikirkan, rasakan, yakini, dan hargai.

Sekitar tahun 3300 sM terjadi perubahan besar dalam komunikasi manusia. Beberapa orang telah berhasil menemukan suatu sistem untuk menyampaikan pidato secara lisan dan dibuat dalam bentuk tulisan. Plato memahami sesuatu yang berubah karena kemajuan pemikiran manusia dari lisan ke tulisan pada masa kini, harus dipahami sebagai sebuah peralihan oleh kemajuan ke komunikasi elektronik sehingga yang menjadi benang merah yang Plato simpulkan yaitu komunikasi itu mengubah bukan hanya yang dipikirkan, melainkan juga bagaimana berpikir.[4]

Dengan kemampuan berpikirnya manusia mulai untuk membuat manuskrip kepada rekan-rekan mereka dengan menggunakan sebuah media papyrus.  Kata “papyrus” diturunkan dari kata “papuro” bahasa Koptik kuno (Mesir kuno). Dalam bahasa Yunani πάπυρος – papuros, adalah asal kata dari kata Inggris “paper” atau “papier” (Belanda) yang berarti kertas. Kata dalam bahasa koptik “papuro” ini bermakna “termasuk milik raja”, mengisyaratkan bahwa pembuatan kertas termasuk monopoli raja pada zaman dulu.[5]

Dengan sebuah kebingungan lalu manusia mulai berpikir terhadap sebuah kemajuan, seperti yang telah Plato ungkapkan, Dunia seakan makin kecil untuk dijangkau karena melihat fenomena-fenomena era informasi dalam masyarakat yang cenderung berkembang. Kemajuan IPTEK melahirkan salah satu produk teknologi komunikasi yang paling luas pengaruhnya dalam kehidupan manusia pada era informasi sekarang ini ialah televisi. Media komunikasi televisi membuat manusia dapat menyaksikan bagaimana opini dunia telah dibentuk melalui media televisi. Itu berarti ada sebuah fenomena massifikasi, globalisasi, dan seluruh masyarakat dunia dipengaruhi oleh semacam kebudayaan massa yang bersifat menyeragamkan kebudayaan-kebudayaan lokal dengan memunculkan suatu jenis budaya yang bermunculan.

Pembangunan komunikasi ini pada dasarnya merupakan suatu upaya interpretasi atas diri dalam terang pimpinan Roh Allah. Allah telah dan sedang bertindak membangun komunikasi manusia baru yang selalu diberi kemampuan menerjemahkan tradisi dalam istilah yang menimbulkan saling pengertian dan dapat dimengerti, sebab banyak mitos-mitos baru terkandung dalam media masa kini, yang tidak menolong ke arah perubahan masyarakat yang manusiawi.[6] Untuk menjembatani hal tersebut Gereja sebagai sentralisasi pelayanan kekristenan guna menumbuhkan nilai-nilai Kristiani, juga mendapatkan tantangan di bidang pendidikan yang serba modern dari sisi kemajuan teknologi. Karena gereja bukan barang antik sebagai pajangan yang enak untuk dipandang, melainkan gereja harus menjadi pohon yang rindang dan berbuah lebat.

Gereja yang hidup di dalam perubahan zaman harus menumbuhkan nilai didik kristiani karena itu gereja harus bersikap mengajak dan menstimulisasi para ilmuwan dan teknologiawan Kristen untuk berusaha merelasikan imannya dengan ilmu dan teknologi yang digelutinya. Sehingga gereja dan para teolog harus mau banyak mendengar dari mereka, dan sebaliknya, mereka perlu mendengar dari gereja dan para teolog agar secara bersama dapat memperdengarkan tugas profetis dalam pembangunan ilmu dan teknologi.[7]

Selain itu Gereja juga harus peka membaca perubahan perkembangan zaman dari sisi teknologi multimedia sehingga dapat menjadi jembatan melalui pelayan khusus guna memberikan informasi beserta rasionalisasinya kepada masyarakat yang majemuk ini tentang perkembangan zaman dengan spesifikasinya menyangkut peribadahan seperti Proyektor dan Alkitab Elektronik. Dari situ masyarakat akan belajar untuk terbuka terhadap sebuah kehidupan globali, kemajuan ilmu dan teknologi yang dikemas secara cyber space yang sedang bertumbuh subur. Cyber space secara substansi sebenarnya adalah keberadaan informasi dan komunikasi yang dalam konteks ini dilakukan secara elektronik dalam bentuk visualisasi tatap muka interaktif. Komunikasi virtual (virtual communication) tersebut yang dipahami sebagai virtual reality sering disalah pahami sebagai (alam maya), padahal keberadaan sistem elektronik itu sendiri adalah konkrit di mana komunikasi virtual sebenarnya dilakukan dengan cara representasi informasi digital yang bersifat diskrit. [8] Masyarakat memiliki potensi  untuk menghadapi perkembangan itu, masyarakat perlu mengadakan perubahan paradigma dalam berteologi dan mengajarkan tentang pemahaman iman dalam konteks demikian. Oleh karena itu warga jemaat juga belajar memahami Alkitab dengan kacamata baru.

Elektronik adalah alat yang dibuat berdasarkan prinsip elektronika.[9] Elektronika adalah ilmu yang mempelajari alat listrik arus lemah yang dioperasikan dengan cara mengontrol aliran elektron atau partikel bermuatan listrik dalam suatu alat seperti komputer, peralatan elektronik, termokopel, semikonduktor, dan lain sebagainya. Ilmu yang mempelajari alat-alat seperti ini merupakan cabang dari ilmu fisika, sementara bentuk desain dan pembuatan sirkuit elektroniknya adalah bagian dari teknik elektro, teknik komputer, dan ilmu/teknik elektronika dan instrumentasi.[10]

Semua hal atau benda yang menggunakan prinsip dan alat tersebut adalah benda elektronik. Sekarang dengan kemajuan IPTEK, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) telah menghadirkan sebuah Alkitab Elektronik terbitan  yang bisa dioprasikan atau dimediasi oleh sebuah media elektronik seperti komputer, laptop, dan handphone (telepon genggam); yang bisa digunakan oleh siapa saja yang ingin mengaksesnya.

Meskipun dalam bentuk yang elektronik, Alkitab dilihat sebagai firman yang hidup yang dapat berbicara setiap saat kepada setiap orang di tempat  dan dalam suasana yang berbeda-beda. Apabila membaca secara baru arti dan makna isi Alkitab, maka akan ditemukan banyak sekali pelajaran yang baru yang akan membantu dalam mempersiapkan Pendidikan Agama Kristen secara lebih baik dan tepat. Demikian juga dengan perspektif  baru “kacamata baru” dalam membaca Alkitab yang membantu umat menghadapi era “kebudayaan massa” sekarang ini, konkritnya dalam era cyber space.

Perlu disadari juga bahwa untuk menerima sebuah transformasi Teknologi computerisasi tidaklah mudah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Kupersmith (1992) bahwa simptom utama bagi mereka yang mempunyai sikap yang tidak suka atau takut terhadap komputer ialah kebimbangan. Kebimbangan ini boleh diluapkan melalui berbagai cara, yaitu sakit kepala, irritability, nightmare, menentang pembelajaran komputer dan menolak sama sekali teknologi. Technoanxiety lebih mengganggu mereka yang merasa tertekan oleh majikan, rekan sekerja atau budaya umum untuk menerima dan menggunakan komputer.[11]

Weil dan Rosen  mendefinisikan teknostres sebagai kesan negatif terhadap perlakuan, pikiran, tingkah laku atau psikologi badan disebabkan oleh teknologi secara langsung atau tidak langsung. Teknostres juga ialah reaksi pengguna terhadap teknologi dan bagaimana perubahan berlaku atas kesan teknologi tersebut.[12] Teknostres (stres yang berkaitan dengan komputer) merupakan kombinasi yang terdiri daripada kebimbangan prestasi, lebihan beban maklumat, konflik peranan dan faktor organisasi. Terdapat pengkaji-pengkaji yang menyatakan bahawa teknostres adalah kesan negatif disebabkan oleh teknologi ke atas pemikiran, perlakuan, tingkah laku atau beban seseorang individu. Ia disebabkan penggunaan peralatan elektronik dalam kehidupan seharian seperti televisi, mesin ATM, komputer, gelombang mikro, telefon bimbit dan sebagainya.[13] Sedangkan bagi Craig Brod technostress, sebagaimana didefinisikan dalam bukunya “Technostress : Biaya Manusia Revolusi Komputer”, adalah penyakit modern adaptasi yang disebabkan oleh ketidakmampuan untuk mengatasi atau beradaptasi dengan teknologi komputer baru dengan cara yang sehat itu dan memanifestasikan dirinya dalam cara-cara yang berbeda namun berkaitan. Dalam perjuangan untuk menerima teknologi komputer, dan dalam bentuk yang lebih khusus dari overidentification dengan teknologi computer.[14]

Teologi Kristen agar relevan dalam era cyber space, harus memfokuskan ajaran tentang manusia atau berkonsentrasi pada manusia. Kehadiran Alkitab Elektronik sangat sinkron dengan kebutuhan manusia moderen saat ini, penggunaannya yang relatif praktis karena selalu dibawasertakan ke manapun, mempermudah orang untuk beroleh kesempatan seluasnya dalam mengakses Alkitab. Hal inilah yang harus dimanfaatkan dalam koridor PAK.  PAK lebih menekankan etika daripada dogmatika. PAK menekankan axiologia (ajaran tentang nilai-nilai) dari pada ontologia (ajaran tentang hakikat sesuatu). Itu berati dengan kehadiran kebudayaan massa ia juga tidak menggugurkan nilai-nilai yang telah ada dalam kewibawaan Alkitab sebagaimana yang dipahami banyak orang Kristen.[15]

Sentral pemberitaan di dalam gereja juga dipengaruhi oleh keaktifan/ fungsi para pelayan. Pelayan khusus majelis jemaat terdiri dari ; Pendeta dan atau penginjil, penatua-penatua dan diaken-diaken. Mereka memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai berikut ;

  1. Melaksanakan pekabaran injil dan melengkapi warga jemaat bagi pekerjaan pelayanan dan pembangunan Tubuh kristus.
  2. Melayani ibadah jemaat, pemberitaan firman Allah dan Sakramen Kudus.[16]

Gereja-gereja di Indonesia perlu mawas diri dan mempersiapkan diri untuk menjawab masalah-masalah global di samping masalah regional, lokal jemaat. Gereja harus mengembangkan cara-cara komunikasi yang efektif dan menarik sehingga tidak diremehkan dan diabaikan. Gereja harus mampu menjembatani dengan gaya dan struktur serta fungsi yang relevan, permasalahan desa (mungkin lebih banyak agraris), lingkungan kota mungkin lebih banyak industrial, ekonomis, moral) dan lingkungan global yang mungkin di warnai oleh masalah-masalah filosofis, nilai-nilai dasar kemanusiaan, lingkungan etis teknologis. Di sini sangat menuntut agar gereja itu harus komunikatif terhadat kemajuan dunia cyber space.[17] Pemakaian teknologi tak dapat dilepasakan dari perbedaan-perbedaan kondisi masing-masing gereja sebagai berikut ;

  1. Kemampuan finansial jemaat, jemaat yang memiliki kemampuan finansial cukup,akan lebih mungkin mengikuti perkembangan teknologi moderen.
  2. Peran / pengaruh Pendeta, jika pendeta disuatu jemaat terbuka terhadap perubahan, maka akan cenderung mengikuti perkembangan teknologi dsn mendorong jemaat untuk memakai teknologi moderen dalam ibadah dan kegiatan-kegiatan gereja.
  3. Konteks wilayah, intensitas pemakaian alat teknologi moderen dalam gereja yang berada di kota besar lebih sering dibandingkan dengan gereja yang berada dipedesaan dan kota kecil. Hal ini jelas karena akses kota lebih baik dari pada desa.
  4. Usia anggota jemaat, kebutuhan besar pemakaian teknologi moderen berhubungan denga usia anggota jemaat, karena kaum muda lebih memiliki pengharapan besar guna penggunaan teknologi di gereja berbeda dengan kaum tua.
  5. Komunikasi, jemaat yang memiliki jalur komunikasi yang lancar akan dapat menangkap kebutuhan anggota jemaat. Sebaliknya, anggota jemaat dapat mengkomunikasikan kebutuhannya dengan lancar sehingga majelis jemaat dapat menindaklanjuti dengan kebijakan yang tepat.[18]

F. KERANGKA BERPIKIR

Dari masyarakat (dari luar), pendidikan merupakan suatu kegiatan universal dalam kehidupan manusia, karena pada hakikatnya, pendidikan merupakan usaha manusia untuk memanusiakan manusia itu sendiri, yaitu untuk membudayakan manusia. Meskipun pendidikan merupakan suatu gejala yang umum dalam setiap kehidupan masyarakat, namun perbedaan filsafat dan pandangan hidup yang dianut oleh masing-masing bangsa atau masyarakat dan bahkan individu menyebabkan perbedaan penyelenggaraan kegiatan pendidikan tersebut.

Dengan demikian selain bersifat universal pendidikan juga bersifat nasional. Sifat nasionalnya akan mewarnai penyelenggaraan pendidikan itu. Life long education, kalimat yang sering kita kenal sejak dulu sampai sekarang, yang artinya “Pendidikan sepanjang hayat”, PAK sebenarnya demikian, “Tuntutlah ilmu mulai dari ayunan sampai ke liang lahat”. Semua itu menjelaskan bahwa pendidikan telah menjadi kebutuhan pokok bagi manusia.

Dari dalam (Pelayan Khusus) Pendeta, Penatua, Diaken adalah pendidik yang dipilih dan dikhususkan gereja guna menyentuh kehidupan berjemaat dengan nilai moral, serta etika mendidik untuk menyiapkan warga jemaat menyongsong perubahan-perubahan sosial diakibatkan oleh kemajuan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi), lebih khususnya dengan kehadiran Alkitab Elektronik buatan LAI (Lemabaga Alkitab Indonesia). Perkembangan IPTEK yang merambah gereja ini memberi tanggungjawab tambahan bagi para pelayan.

Pelayan Khusus harus mampu memberikan transformasi dengan mulai menggunakan Alkitab Elektronik dan bisa juga dengan memahaminya secara teoritis. Hal ini perlu sebab seorang Pelayan Khusus pada hakikatnya selalu berhubungan dengan Alkitab dan Alkitab merupakan  dasar pijakan dalam tugas guna memperlancar pelayanan.

Alkitab Elektronik bisa digunakan pelayan sebagai media pemberitaan dan pengajaran bagi umat dan bagaimana Pelayan Khusus bisa menyiapkan warga gereja sehingga bisa menghadapinya dengan berpikir kritis namun terbuka. Tindakan ini tidak dimaksudkan untuk menghilangkan tradisi yang telah ada, namun lebih merupakan cara gereja menyikapi perubahan dan perkembangan teknologi secara teologis (kritis).

Dengan media elektronik manusia bisa membentuk perilaku, misalkan saja Alkitab Elektronik yang terintegrasi pada handphone bisa dibaca di mana saja sehingga dalam keadaan marah, putus asah, kecewa dan sebagainya manusia dengan mudah saja mengakses Alkitab dengan praktis guna pertumbuhan imannya, pembentukan karakter serta cara pikir oleh situasi dan kondisi batin. Dengan demikian selalu diingatkan oleh ayat-ayat Alkitab yang sifatnya menghibur serta memberi kekuatan ketika berada dalam kelabilan emosional, ataupun juga dalam ketenangan batiniah. Seperti inilah frame PAK yang selalu berusaha menata kehidupan bermasyarakat dan bergereja secara continue sehingga menjadi harmonis berpadu dengan teknologi.

Sama seperti pendidikan pada umumnya yang tidak hanya mengada di dunia ini, namun mengalami sebuah proses yang panjang baik dari hal yang substansi sampai pada hal teknis, dan selalu mengalami pembaharuan dari zaman ke zaman, maka Pendidikan Agama Kristen pun tidak luput daripadanya. Pendidikan Agama Kristen (PAK) atau Pembinaan Warga Gereja (PWG) menguraikan pokok pembelajaran pada prinsipnya berpusat pada Kristus, yang melalui FirmanNya PAK berpijak. Nilai-nilai moralitas yang dipetik, pengetahuan yang memadai, serta melahirkan pribadi yang potensial, beretika merupakan konsep umum PAK bagi setiap manusia yang dididik di dalamnya (pedagogis dan androgogis). Konsep umum itu dipikirkan serta dikemas pula hingga dapat memiliki sebuah kurikulum yang baik, metode pembelajaran yang relevan, bahkan sampai pada pendidiknya.

Dalam pengertian bahwa, PAK seturut perkembangan dunia yang beranjak dari kuno ke modern, tentunya mesti mengalami pembenahan dari waktu ke waktu mengikuti lajunya perkembangan dunia ini. Dari hal ini, maka tidak heran kalau PAK mesti meyesuaikan diri dengan kecanggihan dunia dalam bentuk apapun. PAK itu mesti bermanfaat untuk menunjang kepribadian manusia mengalami proses pendidikannya (Pendidikan PAK). Kalau yang PAK tekankan adalah pembentukan moral, etika kepribadian seorang manusia kristen, maka kecanggihan teknologi yang dipakai PAK mesti menunjang akan semuanya itu.

Teknologi adalah buah dan karya berpikir manusia yang melihat dunia dengan kemajemukan sosiologis dan juga teknologi. Itu berarti tidak semua orang bisa menerima teknologi atau mengoperasikannya. Sederhananya menjadi pengguna. Ada beberapa faktor manusia cenderung tidak menerima disebabkan karena manusia menutup diri terhadap perkembangan teknologi, manusia cenderung tidak memiliki pengetahuan tentang teknologi dimaksud misalkan komputer, serta tidak semua orang secara finansial mampu memperoleh alat teknologi, ini menimbulkan rasa tidak percaya diri serta stres karena tidak mampu menggunakannya sebab tidak dipenuhi dengan pengetahuan-pengetahuan menyangkut teknologi yang digunakan itu. Tetapi ini bukan menjadi alasan bahwa teknologi tidak bisa diterima secara baik atau cenderung ditolak. Melainkan tugas PAK untuk merasionalisasikan serangkaian produk teknologi yang ditawarkan oleh zaman moderen sekarang ini. Agar Gereja bertumbuh subur secara kritis serta dinamis menyesusaikan diri dengan konteks.

Manusia yang berkembang dan belajar di dalam kebudayaan massa merupakan manusia yang pro aktif memikirkan dunia ini dengan kebutuhannya. Berawal dari sebuah peradaban yang kuno manusia hanya mampu berbicara, merasakan, menilai sesuatu kenyataan yang terjadi di sekitar mereka itulah leluhur kita dahulu. Seperti inilah manusia pada awalnya melakukan sebuah komunikasi informasi. Seiring perubahan saman dunia dengan pengetahuan iptek mengalami perubahan di sektor teknologi informasi yang sangat meluas yakni adanya media elektronik televisi seakan membuat dunia menjadi kecil dan sempit yang mampu dijangkau untuk mengetahui informasi di seluruh pelosok dunia. Dengan mudah berbagi informasi serta pengetahuan dengan memiliki sebuah televisi.

Gereja memposisikan dirinya sebagai sebuah media yang ada di tengah-tengah pertumbuhan IPTEK tersebut dengan tidak menutup diri namun membuka diri menerima segala kemajuan zaman dengan terus menyikapinya secara komunikatif dan teologis. Gerak maju zaman menghadirkan sebuah produk Alkitab namun kali ini mengambil bentuk lain, tidak sama dengan sebuah kitab melainkan kitab dalam bentuk Elektronik. Alkitab yang dikemas menjadi sebuah program dilengkapi dengan latarbelakang kitab, nubuat, perumpamaan, juga peta dunia di zaman Alkitab yang dimediasi melalui media elektronik seperti handphone (telepon genggam), komputer, laptop, proyektor. Alkitab Elektronik tidak berdiri sendiri menjadi sebuah media yang tunggal namun hanya bisa beroperasi jika diintegrasikan (diinstalasi) ke dalam telepon genggam, komputer, dan laptop. Bagaimana nilai didik PAK melihat semua perubahan sosial yang terjadi di dalam gereja dan juga masyarakat. Nilai didik PAK bertumbuh dan berkembang dalam keluarga dan keluar kepada jemaat. Alkitab Elektronik adalah sebuah perubahan sosial yang terjadi di dalam gereja dan jemaat, sering sekali pemuda dan ada pun kalangan tua yang di dalam handphone, Laptop, dan komputernya menggunakan sebuah perangkat aplikasi Alkitab Elektronik yang sering digunakan pada saat beribadah ritual. Namun yang perlu dilihat yakni bagaimana kemajuan ini dari sudut pandang IPTEK dipahami sebagai sebuah kolaborasi budaya moderen dan budaya sebelumnya. Singkat kata, secara kristiani Pendidikan Agama Kristen (PAK) harus menekankan aksiologi (ajaran tentang nilai-nilai) dari pada ontologi (ajaran tentang hakikat sesuatu). Itu berarti bahwa dengan kehadiran kebudayaan massa juga tidak menggugurkan nilai-nilai yang telah ada dalam kewibawaan Alkitab sebagaimana telah dipahami.

 

G. METODOLOGI PENELITIAN

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pendekatan deskriptif maksudnya ialah menjelaskan seluruh fenomena yang terjadi terkait dengan masalah yang dikaji secara sistematis, faktual dan akurat. Dengan kata lain, pendekatan deskriptif berusaha menggambarkan sifat suatu keadaan yang sementara berjalan pada saat penelitian dan melihat sebab dari sebuah fenomena tertentu.[19] Penelitian kualitatif lebih memfokuskan pada manusia yang selalu berubah sebagai alat, proses daripada hasil dan perhatian pada kedalaman dan ketepatan data.[20]

 

2. Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat dan waktu penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Jemaat GPM Bethel, Klasis Kota Ambon

  1. Waktu Penelitian

Penelitian ini berlangsung pada Agustus sampai dengan Oktober 2010.

3. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari :

  1. Sumber data primer penelitian ini adalah informan kunci dalam hal ini  pelayan khusus (pendeta, penatua, diaken) di Jemaat GPM Bethel.
  2. Buku-buku / sumber sekunder, artikel, serta bahan-bahan lain yang diakses melalui internet.

4. Teknik Pengumpulan Data

Data-data dalam penulisan ini didapat melalui wawancara dan observasi partisipatif.

5. Teknik Analisa DataAdapun langkah analisis data; reduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan atau verifikasi selengkapnya dijelaskan sebagai berikut;

a. Reduksi data

Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian, pengabstraksian dan pentransformasian data kasar dari lapangan. Proses ini berlangsung selama penelitian dilakukan, dari awal sampai akhir penelitian. Pada awal, misalnya ; melalui kerangka konseptual, permasalahan, pendekatan pengumpulan data yang diperoleh. Selama pengumpulan data, misalkan membuat ringkasan, kode, mencari tema-tema, menulis memo, dan lain-lain. Reduksi merupakan bagian dari analisis, bukan terpisah. Fungsi untuk menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuat yang tidak perlu, dan mengorganisasi sehingga interpretasi bisa ditarik. Dalam proses reduksi ini penelitian benar-benar mencari data yang benar-benar valid. Ketika penelitian menyangsikan kebenaran data yang diperoleh akan dicek ulang oleh informan lain yang dirasa peneliti lebih mengetahui.

 

b. Penyajian data

Adalah sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan untuk menarik kesimpulan dan pengambilan tindakan. Bentuk penyajiannya antara lain berupa teks naratif, matriks, grafik, jaringan dan bagan. Tujuannya adalah untuk memudahkan membaca dan menarik kesimpulan. Oleh karena itu sajiannya harus tertata secara apik. Penyajian data juga merupakan bagian dari analisis, bahkan mencakup pula reduksi data. Dalam proses ini peneliti mengelompokkan hal-hal yang serupa menjadi kategori atau kelompok satu, kelompok dua, kelompok tiga, dan seterusnya. Masing-masing kelompok tersebut menunjukkan tipologi yang ada sesuai dengan rumusan masalahnya. Masing-masing tipologi atas sub-sub tipologi yang bias jadi merupakan  urutan-urutan, atau prioritas kejadian. Dalam tahapan itu peneliti juga melakukan display (penyajian) data secarah sistematik, agar lebih mudah dipahami interaksi antar bagian-bagian dalam konteks yang utuh bukan segmental atau fragmental terlepas satu dengan lain. Dalam proses ini data diklasifikasikan berdasarkan tema-tema inti.

 

c. Menarik Kesimpulan atau Verifikasi

Penarik kesimpulan hanyalah sebagian dari satu kegiatan dari konfigurasi yang utuh. Kesimpulan-kesimpulan juga diverifikasi selama penelitian berlangsung. Makna-makna yang muncul dari data harus selalu diuji kebenarannya dan kesesuaiannya sehingga validitasnya terjamin. Dalam tahap ini peneliti membuat rumusan proposisi yang terkait dengan prinsip logika, mengangkatnya sebagai temuan penelitian, kemudian dilanjutkan dengan mengkaji secara berulang-ulang terhadap data yang ada, pengelompokan data yang telah terbentuk, dan proposisi yang telah dirumuskan. Langkah selanjutnya yaitu melaporkan hasil penelitian lengkap, dengan temuan baru yang berbeda dari temuan yang sudah ada. Berdasarkan uraian diatas, langkah analisis data dengan pendekatan ini dapat digambarkan sebagai berikut.[21]

Koleksi data                      Display data

Reduksi data

Pemaparan kesimpilan

6. Definisi Operasional

Agar pemahaman yang sama dapat terbangun dan tidak terjadi misskomunikasi, maka sejumlah defenisi operasional dari masalah yang dikaji akan dijelaskan pada bagian ini, yakni :

Alkitab Elektronik, : Salah satu aplikasi yang terintegrasi di dalam telepon genggam atau komputer yang berfungsi menampilkan teks Alkitab secara elektronik.

Pelayan khusus             : Orang-orang yang ditahbis untuk melayani jemaat. Mereka adalah pendeta, penatua, dan diaken.

PAK                              : Education for Continuity and Change. Memberikan perhatian yang sama baik dalam pendidikan Agama Dan Pendidikan Kristiani. Dalam hal ini, yang pertama menekankan kebutuhan untuk kesinambungan dan penerusan warisan.[22]

 

7. Cara Penyajian

Penulisan skripsi ini terdiri atas empat bab, yakni Bab I yang merupakan pendahuluan yang memuat latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka teoritik, kerangka berpikir, jenis penelitian, tempat dan waktu penelitian, sumber data, teknik pengumpulan data, teknik analisa data, definisi operasional dan cara penyajian. Bab II berisikan gambaran umum lokasi penelitian, deskripsi seluruh data penelitian yang didapat dan analisa data. Bab III temuan hasi penelitian. Bab IV merupakan penutup dari penulisan ini yang berisikan pokok pikiran untuk refleksi teologi, dan kesimpulan dan saran.

 

BAB II

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

A. KONDISI JEMAAT GPM BETHEL
1. Letak Geografis

Jemaat GPM Bethel adalah salah satu jemaat yang berada dalam wilayah koordinasi Klasis Kota Ambon. Secara administatif pemerintahan, jemaat ini termasuk dalam wilayah Kota Madya Ambon yang berada di ibukota Provinsi Maluku. Jemaat dengan luas wilayah pelayanaan ± 230 Ha ini berada di pesisir pantai Teluk Ambon hingga punggung bukit dengan batas-batas sebagai berikut :

Sebelah Utara             :  Berbatasan dengan wilayah pelayanan Jemaat GPM Bethabara di Jln. Rijali dan Jln. Martha Christina Tiahahu

Sebelah Selatan          :    Berbatasan dengan wilayah pelayanan Jemaat GPM Bethania pada kali Waitomu dan Jln.W. R. Supratman

Sebelah Barat             :    Berbatasan dengan Pantai Mardika dan Teluk Ambon

Sebelah Timur             :    Berbatasan dengan wilayah pelayanan Jemaat GPM Imanuel Karang Panjang dan Jemaat GPM Ebenhaezer di Skip. [23]

2. Aksebilitas

Jemaat GPM Bethel yang dekat sekali dengan sentra informasi dan komunikasi (sejumlah warung internet, pedagang Koran, majalah, dan sebagainya), sentra perekonomian (Pasar Mardika), bahkan sentra transportasi (Terminal Angkutan Umum Mardika) di kota Ambon menyumbangkan kepada anak-anak, remaja, pemuda-pemudi dalam jemaat ini kemudahan untuk mengakses berbagai kebutuhan, mulai dari kebutuhan pokok seperti pendidikan, kesehatan, sampai pada kebutuhan yang sifatnya sekunder atau instan. Letak yang strategis dan aksebilitas yang hampir tak terbatas ini tak pelak lagi membuat jemaat ini rentan terhadap berbagai perubahan dan perkembangan yang sedang terjadi, baik dalam skala lokal maupun internasional. Zaman modern sekarang ini dengan kehadiran INTERNET membuat masyarakat memiliki daya akses terhadap informasi sangat mudah dan cepat. Di Jemaat Bethel Klasis Kota Ambon sejak tahun 2010-2011 sudah ada 7 Warnet (Warung Internet), ini berarti Jemaat Bethel sudah dipagari dengan kemajuan-kemajuan teknologi. Dan ada beberapa hotel-hotel juga yang dibangun sekitar tahun 2010, ini merupakan sebuah kemajuan zaman dan dengan kemajuan ini manusia dibolehkan untuk bias menyesuaikan diri dengan menyiapkan kesediaan diri terhadap hal baru ataupun situasi baru sehingga jemaat ini bertumbuh subur dalam akses dengan sesama.

 

3. Demografi

Berangkat dari data Jemaat GPM Bethel, jumlah kepala keluarga di jemaat ini mencapai 1.614 dengan jumlah jiwa 6.634, yang terdiri dari 3.221 laki-laki dan 3.413 perempuan. Secara lebih terperinci dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

Tabel No. 1

Jemaat Berdasarkan Umur

No Umur 

(Tahun)

Jumlah 

(Orang)

1 00-05 526
2 06-09 493
3 10-12 385
4 13-15 390
5 16-19 541
6 20-40 2338
7 41-59 1353
8 60-dst 608
Total 6634

Sumber : Data Jemaat GPM Bethel tahun 2009

Totalitas jumlah warga Gereja secara kuantitas banyak usia perkembangan yang telah terkontabinasi mulai dari usia 16 tahun keatas merupakan usia yang telah terpengaruh langsung dengan teknologi, mengakses informasi secara langsung melalui internet serta media lainnya.

Tabel No. 2

Jemaat Berdasarkan Pendidikan

No Tingkat Pendidikan Jumlah (org)
1. SD 605
2. SMP 731
3. SMU 2422
4. D3 208
5. S1 632
6. S2 52
7. S3 4
Total 4.654

Sumber : Data Jemaat GPM Bethel tahun 2009

Melihat kapsistas sumberdaya manusia yang tersedia di Jemaat GPM Bethel Mardika boleh dikatakan baik, hanya saja proses pengolahan sumberdaya manusia ini harusnya dibina sejak dini secara kristiani melalui Pelayan Khusus serta orang tua, secara intensif sehingga melahirkan warga gereja yang berkualitas untuk gereja, jemaat, dan juga person.

Tabel No. 3

Jemaat Berdasarkan Pekerjaan

No Tingkat Pendidikan Jumlah (org)
1. PNS 748
2. Pegawai swasta 690
3. Pensiunan 418
4. TNI/POLRI 55
5. Wirausasaha 321
6. Lain-lain 381
Total 2613

Sumber : Data Jemaat GPM Bethel tahun 2009

Berdasarkan data demografi maka dapat dipahami bahwa Jemaat GPM Bethel bukanlah komunitas yang homogen. Di situ hidup berbagai etnis dan sub etnis yang membaur menjadi satu mulai dari Tionghoa, Jawa, Batak, Sulawesi, Saparua, Seram, Kei, Tanimbar, Kisar, Leti, Haruku, Moa, dan seterusnya dengan beragam pekerjaan dari yang bekerja serabutan sampai pada yang profesional. Hal ini mengisyaratkan adanya beragam kebutuhan, cara pandang, dan sebagainya, dan tentu juga mengisyaratkan adanya berbagai masalah yang mesti dikelola secara baik agar semuanya dapat terakomodir dalam pelayanan jemaat. Lebih dari itu, bertolak dari pendekatan yang sederhana bahwa semakin besar jumlah, semakin sulit pengorganisasian, maka sangat mungkin ada berbagai kendala yang ditemui dalam pelayanan terkait dengan bagaimana mengorganisir manusia dalam jumlah yang besar seperti Jemaat GPM Bethel. Oleh karena itu, diperlukan mekanisme yang memadai untuk menata kehidupan berjemaat. Terkait dengan itu maka sebuah proses penelitian dan pengkajian sebuah bentuk atau Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Pendekatan deskriptif maksudnya ialah menjelaskan seluruh fenomena yang terjadi terkait dengan masalah yang di kaji secara sistematis, faktual dan akurat.

Melihat kehidupan dan perkembangan jemaat dari sisi ekonomi memungkan mereka bisa memiliki berbagai media elektronik guna keperluan operasional setiap pribadi, misalkan dengan memiliki Computer, HandPhone, sebagai sarana penunjang kebutuhan hidup karena tuntutan saman.

 

4. Situasi Sosial

Bertolak dari uraian secara demografis, maka dapat dipahami bahwa Jemaat GPM Bethel adalah jemaat yang heterogen. Keragaman itu meliputi, baik etnis, budaya, peran sosial, status kemasyarakatan. Jemaat yang terus bertumbuh dan berkembah didalam saman era globalisasi   serta peran atau pengaruh kemajuan IPTEK (ilmu pengetahuan dan teknologi) yang selalu menjadi konsumsi masyarakat kota pada khususnya karena kemungkinan besar meiliki akses yang kuat untuk berhadap-hadapan langsung dengan IPTEK yang terealisasi.

Kompleksitas mewujud dalam berbagai bentuk interaksi sosial yang terus-menerus mengalami perubahannya seiring dengan perkembangan zaman yang semakin modern dan mewarnai sentra-sentra kehidupan, misalnya pasar, perkantoran, tempat hiburan, sekolah, dan seterusnya. Selebihnya, kompleksitas itu juga mewujud dalam berbagai perkembangan motivasi dan kepentingan baik dalam berelasi antar satu individu dengan individu lain dalam seluruh lapisan kehidupan bermasyarakat maupun kehidupan bergereja, karena dalam pembauran antar etnis dan interaksi-interkasi sosial yang semakin berkembang itu ada sejumlah plausibilatas yang bisa saja diinginkan maupun tidak diinginkan, secara sadar atau tidak tersadarkan misalnya perubahan-perubahan sosial yang terjadi meliputi kebiasaan-kebiasaan seperti setiap individu dalam melakukan ibadah ritual selalu menggunakan atau menenteng Alkitab media cetak. Dalam rentan waktu yang panjang seiring dengan perkembangan IPTEK serta kemajuannya lalu mulai beredar berbagai macam multimedia elektronik dimana media tersebut menjadi konsumsi umum bagi tiap individu seperti kepemilikan computer, hanphone, serta  proyektor. Ketiga media cetak tersebut memiliki kegunaan yang berbeda pula dan memiliki peran yang sama yaitu dengan menggunakan media tersebut pesan itu dapat sampai kepada jemaat. Ada media, pesan, serta jemaat. Media merupakan sebuah perantara di mana computer dan hanphone bisa mengintergrasi sebuah aplikasi didalamnya yang berkaitan dengan ibadah ritual jemaat seperti Alkitab Elektronik sehingga jemaat bukan saja dapat membaca Alkitab melalui Alkitab media cetak namun dapat membaca Alkitab melalui media elektronik seperti yang dimaksudkan. Dan dengan menggunakan proyektor didalam ibadah ritual minggu membuat ibadah ritual menjadi sangat menarik sebab setiap liturgi yang tertulis secara cetak beserta nyanyiannya telah terpampang melalui media proyektor dan mengurangi biaya pencetakan. Sekarang peranan PAK secara pedagogis dan androgogis yang mesti merealisasikan pendidikannya bagi warga jemaat sehingga warga jemaat mampu menerima kehadiran, perubahan yang baru dengan kritis dan juga realistis memlalui para pelayan khusus (Pendeta, penatua, diaken).

Situasi di atas mengisyaratkan kebutuhan akan mekanisme yang tepat sesuai dengan bagaimana tugas dan pengutusan gereja yang terpanggil dalam dunia. Jemaat ini pun menghadapi permasalahan yang sama karena merupakan bagian dari bangsa ini, yakni masalah transformasi nilai-nilai perubahan yang baru terkait dengan kebiasaan-kebiasaan yang turun-temurun dilakukan dalam ibadah ritual menggunakan Alkitab media cetak. Dengan bermunculan sebuah software yakni Alkitab Elektronik dan juga proyektor sebuah media yang memediasi ibadah ritual minggu dengan sensai dan gaya yang baru.

 

5. Aktivitas Pelayanan

Jemaat GPM Bethel terdiri dari 19 sektor pelayanan dengan 44 unit. Akibat konflik sosial yang terjadi sejak 19 Januari 1999, sektor 16 hingga 18 dan sebagian sektor 15 hancur oleh perbuatan kaum perusuh, dan sejak saat itu warga jemaat di sektor-sektor tersebut tinggal tersebar di beberapa tempat pengungsian. Oleh karena situasi dan suasana semakin kondusif, maka satu demi satu keluarga mulai membangun rumahnya dan kembali ke tempat semula, namun di antaranya hingga kini masih tinggal di barak pengungsian Belakang Soya. Wilayah pelayanan yang luas ini dilayani oleh 93 orang majelis jemaat yang terdiri atas 5 orang pendeta jemaat, 44 orang penatua dan 44 orang diaken. Jumlah penatua dan diaken tersebut disesuaikan dengan jumlah sektor dan unit dengan asumsi dasar bahwa satu pasang majelis jemaat (penatua dan diaken) melayani di satu unit pelayanan. Supaya  pelayanan di tingkat jemaat dapat berjalan dengan baik, maka ditetapkan kepengurusan pelayanan yang terdiri dari pimpinan harian majelis jemaat (PHMJ), pimpinan dan anggota seksi dan sub seksi yang membidangi seksi kesehatan dan pembinaan umat, pelayanan dan pembangunan masyarakat (PELPEM), finansial ekonomi (FINEK), dan pekabaran injil dan komunikasi (PIKOM). Seksi kerumahtanggaan ditangani langsung oleh PHMJ dalam hal ini adalah sekretaris dan wakil sekretaris. Demi pelaksanaan fungsi pelayanan yang menyentuh jemaat secara langsung di sektor-sektor maka setiap pendeta melayani di setiap wilayah yang sudah disepakati bersama sebagai berikut :

  1. Sektor 1, 2, 3, 4,                   : Pdt. R. Rahabeat
  2. Sektor 5, 6, 7, 13                  : Pdt. Ny. M. Orno
  3. Sektor 8, 9, 10, 11                : Pdt . Ny. Lekahena
  4. Sektor 12, 14, 16                  : Pdt. S. Hehanussa
  5. Sektor 15, 17, 18, 19            : Pdt. Nn. D. Akywen

Pembagian wilayah pelayanan ini berlangsung selama dua tahun dan setelah itu dilakukan rolling dengan pertimbangan bahwa pendeta yang ditempatkan di setiap jemaat akan melayani selama kurun waktu lima tahun.

Lebih lanjut, perlu diketahui bahwa terkait dengan praksis perubahan dalam era globalisasi sehingga teknologi mesti digunakan didalam ibadah ritual minggu. Disini proses sosialisasi juga bisa dilakukan melalui kunjungan keluarga yang dirasa penting dalam rangka penguatan jemaat menghadapi tantangan zaman ini dan pengaruhnya untuk keutuhan iman jemaat. Hal ini dilakukan oleh majelis jemaat di sektor-sektor pelayanan menjelang Perjamuan Kudus dan akhir tahun pelayanan[22]. Dari sini maka Badan Koordinasi Pelayanan (BAKOPEL) memiliki posisi dan peran yang sangat menentukan dalam jemaat dalam melihat masalah-masalah yang berkembang secara khusus.

 

B. DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA

1. Karakteristik Informan

Penelitian dilakukan di Jemaat GPM Bethel Klasis Kota Ambon. Untuk memperoleh data atau informasi terkait dengan penulisan ini, penulis memperoleh informasi dengan melakukan proses wawancara terhadap pelayan khusus (Pendeta, Penatua, Diaken).

 

2. Pelayan Khusus ( Pendeta, Penatua, Diaken)

Jemaat GPM Bethel memiliki 93 orang majelis jemaat yang terdiri atas 5 orang pendeta jemaat, 44 orang penatua dan 44 orang diaken. Boleh dikatakan bahwa Pelayan Khusus Jemaat GPM Bethel dari sisi pengetahuan sangat memadahi dan juga beranekaragam. Ada 13 Pelayan Khusus yang diwawancarai diantaranya memiliki latar belakang pedidikan yang baik. Ada yang berprofesi sebagai dosen berjumlah 3 orang, adapula yang pegawai negeri, pegawai swasta, guru, serta pensiunan.

ü  Berikut adalah data dari pemahaman Pelayan Khusus Jemaat GPM Bethel terhadap Alkitab Elektronik ;

Menurut Penatua HP, Alkitab Elektronik sebenarnya jembatan untuk membantu, selanjutnya ia ketahui ;

“ Yang saya pahami tentang Alkitab Elektronik merupakan perangkat lunak ciptaan LAI untuk mempermudah jalannya pelayanan, itu bagus juga sebenarnya, praktis tapi tidak samua orang menggunakannya,yang satu cetak dan yang satunya elektronik namun yang lebih saya pahami itu pada Alkitab media cetak karena tulisannya jelas. Alkitab Elektronik tidak ada masalah selagi isinya sama dengan Alkitab media cetak”.[23]


Lain lagi ungkapan Penatua P, yang menyimpulkan bahwa Alkitab Elektronik itu luarbiasa, hal ini nampak pada komentar sebagai berikut ;

“ Seperti ini yang saya ketahui menyangkut Alkitab Elektronik. Merupakan software yang teristalasi dalam handphone dan computer sehingga banyak sekali membantu karena saya bisa bawa ke mana saja.”.[24]

 

Pada lain pihak Penatua NA menyampaikan kepraktisan dari AE, pendapat yang dikemukakan antara lain ;

“ Seperti ini yang dipahami Alkitab Elektronik merupakan hasil temuan manusia untuk digunakan sebagai media penyampaian Firman Tuhan. Misalnya kalau mencari ayat-ayat itu dia cepat sekali dan bisa kita membaca Alkitab dimana saja seperti dijalan-jalan. Perbedaan pada fisik saja saya lebih memahami Alkitab media cetak sebab kebiasaan mempergunakan”.[25]

 

Penatua NS menyampaikan bahwa AE masih asing buat umat jadi perlu adanya sosialisasi, sehingga nilai kepraktisannya kelihatan positif, demikian komentarnya sebagai berikut;

“Saya ketahui Alkitab Elektronik itu sesuatu yang berkaitan dengan multimedia didalam mentransfer nilai firman itu yang sesuai dengan Alkitab Cetak Alkitab Elektronik memiliki penjelasan latar belakang sedangkan yang cetak tidak. Alkitab elektronik memiliki kelebihan latar belakang dan penjelasan-penjelasan. Perlu ada sosialisasi supaya masyarakat jemaat Kristen tau ada terbitan atau produksi terhadap Alkitab yang diterbitkan LAI baik secara elektronik. Dengan demikian juga orang akan tertarik. Sekaligus juga referensi untuk membuat renungan. Dan juga bisa menjadi suatu komparataif. Supaya kita jangan terlalu bersifat ortodoks. Agar ada nilai-nilai pembaruan. Pada prinsipnya alkitab seperti ini mesti ada mencernakan kembali, penjelasan-penjelasan khusus terhadap alkitab. Jadi firman yang tulis di sini elektronik mesti sesuai perilaku”.[26]

 

Pada lain pihak Pendeta L mengakatakan AE itu praktis namun juga punya kendala, seperti ini yang disampaikan :

“ Pemahaman saya seperti ini, Alkitab Elektronik itu produk LAI melihat sisi konteks yang moderen supaya dengan daya akses yang cepat setiap orang bisa membaca Alkitab dimana saja (menggunakan media elektronik), Misalkan kita hanya ingin mencari ayat-ayat saja, pikiran-pikiran.”.[27]

 

Pendeta A menuturkan kepraktisan AE serta kelebihan-kelebihannya, masi sejalan dengan Pendeta L, dan selanjutnya yang diketahui ;

“ Sederhananya demikian pikiran saya, Alkitab Elektronik memiliki rincian soal kitab. Mulai dari latar belakang samai nubuat dan perumpamaan semuanya sudah dirampung. Praktis karena kemasannya tersaji didalam handphone, Komputer. Namun isinya semua sama hanya beda kemasan”.[28]

 

Penatua GC sedikit melengkapi yang dikatakan Pendeta L, A. Meresponnya dengan mengungkapkan AE itu berguna dan sangat membantunya sebagai seorang pelayan khusus dan begini komentarnya ;

”Saya memahami Alkitab Elektronik sebagai sebuah media yang sangat membantu dalam pencarian segala sesuatu, dia punnya nama nabi. Jadi sangat bagus baik di handphone dan di laptop. Sanganat mudah  mencari informasi dalam alkitab itu membuat kita mudah mencari ayat-ayat sebab tingggal ketik langsung dicari secara otomatis serta memudahkan kita memahami dan mencernanya, Kalu soal memahami tergantung pribadi namun kalau saya lebih cenderung ke elektronik sebab mudah digunakan dan mecari juga gampang. Perbedaan Fisik, dan Elektronik memiliki perincian serta penjelasan soal latar belakang kitab. Alkitab Elektronik sangat membantu dalam pencarian segala sesuatu, dia punnya nama nabi. Jadi sangat bagus baik di handphone dan di laptop. Sanganat mudah  mencari informasi dalam alkitab itu membuat kita mudah mencari ayat-ayat sebab tingggal ketik langsung dicari secara otomatis serta memudahkan kita memahami dan mencernanya. Kalu soal memahami tergantung pribadi namun kalau saya lebih cenderung ke elektronik sebab mudah digunakan dan mecari juga gampang”.[29]

 

Sangat berbeda dengan yang lain, Penatua NP menyatakan kalau AE itu tidak praktis, juga memiliki kekurangan , seperti ini komentar yang dikemukakan ;

“Kalau yang saya pahami memang itu Firman Tuhan tetapi dia tidak praktis. Tidak memakai judul, artinya untuk mendalam saya belum perhatikan dan saya juga buka di handphone dan Komputer itu saya pung kendala perikop ini apa, dan tidak tau judul apa. Lebih memahami yang Alkitab Cetak. dari cetak karena dari cetak kita bisa tau perikop ini berbicara tentang apa, contoh Yesus memberi makan lima ribu orang dia punya ayat-ayat dia bicara soal itu. tetapi kalau kita cuma liat, tapi kalo orang yang sudah mendalam soal alkkitab dia sudah bisa mengetahui ayat ini bicara soal ini dia judul ini”.[30]

 

Agak berbeda dengan Penatua NP, tuturan Penatua ML melihat dari sisi konteks diamana ia berada, sehingga ia memahami betul soal AE berikut argumentasinya ;

“Seperti ini saya ketahui serta pahami karena saya menggunakannya, Alkitab Elektronik bisa tersimpan di handphone dan Komputer mudah di akses. Pasti dia beda kalau elektronik dimana saja kita bisa gunakan bukan berarti cetak tidak, elektronik agak sedikit kontekstual itu juga menolong otomatis kalau di tempat kerja ada teman yang muslim nanti mereka mengatakan kita sombong. Memahami dengan baik keduanya bisa di pahami dengan baik, kalau elektronik itu saya selalu lakukan untuk memperlengkap untuk pelayanan”.[31]

 

Seperti ini yang disampaikan Diaken Ibu P menyangkut pemahamannya, singkat saja :

“ menurut saya kalau mau memahami Alkitab itu kalau Roh Tuhan saja, saya belum mengalami karena belum diinstalisasi kedalam handphone.[32]


3. Analisis Pemahaman

Setiap pelayan khusus memiliki pemahaman sendiri-sendiri dan tidak menutup kemungkinan ada kesamaan tujuan dalam memberi pemahaman menyangkut multimedia. Mengenai Alkitab Elektronik sendiri para pelayan khusus sungguh memahaminya bahkan ada yang selalu menggunakannya untuk menunjang pelayanan dalam pembuatan renungan walaupun tidak banyak yang menggunakannya di dalam ibadah-ibadah ritual. Yang mereka pahami dari Alkitab Elektronik itu yakni sebuah media elektronik yang praktis dan efisiensi waktu terjangkau serta mudah untuk mencari ayat-ayat Alkitab dengan mudah dan cepat serta memiliki penjelasan berdasarkan latarbelakang setiap kitab. Seluruh pelayan khusus Bethel yang menjadi informan di sini menyadari sungguh bahwa ini merupakan kemajuan dari teknologi yang juga diterima dengan kritis. Pada bagian di atas dilihat pemahaman responden tentang Alkitab Elektronik.

 

ü Berikut adalah data dari penggunaan Pelayan Khusus Jemaat GPM Bethel terhadap Alkitab Elektronik ;

Selanjutnya dikemukakan Pelayan Khusus menggunakan AE didalam pelayanan mereka. Menurut Penatua N, penggunaan AE dan media cetak harus berjalan saling melengkapi, demikian ia menegaskan ;

“Sebenarnya boleh saja namun terpulang pada pemahaman masing-masing Di pergunakan sesuai konteks, saya lebih menggunakan Alkitab Elektronik untuk mencari ayat-ayat pembanding sebab cepat dalam mencari. Jemaat belum semua memahami adanya Alkitab Elektronik harus ada wacana soal hal dimaksud. Alkitab Elektronik dengan kemampuan mencari ayak-ayat secara cepat. Yang satu secara cetak dan yang satunya secara elektronik perbedaan pada fisiknya. Saya suka Alkitab Media cetak namun kalau butuh referensi langsung saja saya menggunakan Alkitab Elektronik dengan kemampuan mencari ayak-ayat secara cepat”.[33]

 

Hal ini tidak terlalu berbeda dengan yang disampaikan Penatua handphone, soalnya pada kebiasaan, serta faktor usia, menurutnya AE itu baik dan sah saja jika digunakan. Lebih mendalam kita dengarkan berikut ungkapannya ;

“Kalau untuk saya Alkitab Elektronik dapat digunakan tidak bermasalah, mungkin karena kita suda terbiasa dengan Alkitab Buku. Alkitab Elektronik tidak ada masalah selagi isinya sama dengan Alkitab media cetak. Alkitab Elektronik juga dapat dipakai sebagai media pengajaran dan pemberitaan namun kalau dirumah ada Alkitab cetak ya kita gunakan yang cetak saja. Kalau di handphone terlalu kecil tulisannya kecuali handphone communicator itu tulisannya jelas. Hanya menyangkut kejelasan pada tulisan dan mengenai pemahaman kaum muda dan tua serta tenga-tenga”.[34]

 

Saling melengkapi ungkapan Penatua P, bahwa AE itu tak punya hambatan dan sangat baik bagi kehidupan sekarang ini, sebagai berikut komentarnya ;

“seperti ini Alkitab Elektronik dari sisi penggunaan, Alkitab Elektronik saya  mencari ayat-ayat mendapatkannya cepat, terperinci. Kalau Alkitab Cetak mesti buka lagi dulu kemudian dicari lagi. Kedua kalau di komputer langsung mengetahui latar belakangnya, dia punya isi tentang penulis dan sebagainya. kalau elektronik itu menunjang kita. Sebenarnya sama saja hanya saja di elektronik ada latarbelakang dan penjelasan menyangkut kitab itu. Saya rasa Alkitab Elektronik tidak punya hambatan dan mengurangi isi alkitab dia tidak mengurangi nilai, bukan bukunya yang merupakan tujuan kita tetapi isinya dan itu dibenarkan sekali dan sangat dibenarkan.Tidak ada mengganggu sama sekali malah sangat membantu. Saya pernah menggunakan dalam peayanan ada beberapa kali, karena misalnya ada terang tidak memungkinkan saya tidak pake Alkitab Buku karena saya tidak bisa baca karena kesehatan mata, dan saya menggunakan dari handphone. Saya selalu di ibadah menggunakan Alkitab Elektronik karena itu saya punya kondisi mata yang tidak bagus, saya merasakan Alkitab Elektronik enak sekali karena mau mencari langsung dapat, ayat apa langsung dapat, misalkan mau tau siapa yang menulis cepat tau dan dapat sangant membantu. Saya tidak pernah menemukan kendala-kendala menyangkut Alkitab Elektronik.Kadang-kadang orang mungkin belum terbiasa mereka mengatakan ada ibadah namun membuka handphone, tetapi saya cuek saja karena saya membaca Alkitab. Selama saya tidak mengganggu orang saya santai”.[35]

 

Demikian Penatua NS, yang melihat pada umur, dan belum semua orang mengetahui, sebagai berikut ungkapannya ;

“ Dalam pelayanan boleh saja digunakan mungkin postif dari kacamata kaum mudah kalau Alkitab Elektronik digunakan. Saya belum pernah mempergunakannya didalam pelayanan. Misalnya handphone mati atau ada gangguan lalu jemaat mau mendengarkan pembacaan Alkitab bagaimana. Alkitab elektronik belum semua jemaat mengetahui masi bersifat langka, harus ada penyampaian transformasi Alkitab elektronik terhadap warga jemaat “.[36]

 

Pendeta L sangat terbuka terhadap perubahan,dan melihat kendalanya juga. Hal ini terlihat pada komentarnya sebagai berikut ;

” Penggunaan Alkitab Elektronik itu secara praktis misalkan mau cari dia punya latar belakang. Kita sering lihat lampu suka padam dan kalau mati berlamaan handphone batrei lemah dan kita tidak bisa menggunakan. Sebenarnya saling menunjang sebab yang elektronik kelebihannya dapat mencari ayat-ayat yang cepat. Sama saja sebab isinya kan sama bagi kita tidak ada masalah karena Alkitab kan bukan hanya soal buku karena suda ada teknologi yang canggih untuk digunakan kenapa tidak bisa digunakan. Kalau memang sangat memungkinkan, gunakan. Tetapi kalau dalam keluarga kan smua Alkitab ada dan mari kita gunakan. Listrik kadang-kadang sering padam dan itu kemungkinan tak bisa digunakan. Dan kalau mengggunakan ada menerima sms dan telepon. handphone, Nootebook perlu di cas penuh dan penggunaan handphone di offline “.[37]

 

Dari sisi penggunaan Pendeta A menyatakan kedua kitab ini sama saja, hanya berbeda kemasan, serta belum semua umat mengetahui. Dengan tegas mengatakan ;

“ Alkitab Elektronik dan Cetak sebenarnya sama saja hanya berbeda secara fisik. Sebenarnya tidak masalah untuk digunakan dalam pelayanan. Namun tidak semua umat bisa menerima itu karena ini barang baru. Harus ada sosialisasi soal Alkitab Elektronik. Semua hal tetap ada dia punya postif dan juga negative tergantung pada penggunanya saja. Tapi pandangan umat berbeda, mereka sudah pernah complain kalau Ibu kita tidak usah memakai Alkitab cetak lagi, kita tidak perlu beli lagi dan bilang LAI tidak usah cetak lagi cukup isi di handphone saja. Bagi tidak ada masalah juga kalau memakai handphone. Kalau orang pahami Alkitab itu Nansi Alkitab. Kalo di handphone kan bisa saja ada gambar porno dan di handphone itu juga ada macam-macam. Namun kalau dalam batas positif itu mesti digunakan karena kita terbuka bagi teknologi juga “.[38]

 

Sama juga denga Penatua FN menyatakan boleh saja digunakan, namun harus diperhatikan cara menggunakannya demikian, seperti ini pernyataannya ;

” Alkitab Elektronik digunakan dalam pelayanan itu biasa, kenapa tidak. Tetapi tergantung dari element masyarakat yang akan dipimpin. Karena ini bukan barang yang merupakan barang lasim digunaakan dalam ibadah jemaat tetapi itu merupakan bahagian penggunaan teknologi yang maju  lalu memudahkan orang supaya jangan pegang berat-berat bawa besar-besar, tetapi sesungguhnya itu lebih mudah. Saya belum pernah menggunakannya. Tetapi untuk penggunaan mesti disempurnahkan dalam perintah-perintah misalkan go to, kalau orang awam yang menggunakan itu lama sangat lama. Perlu lagi mempelajari langkah-langkah penggunaannya “.[39]

 

Sama juga dengan tuturan Penatua GC tidak masalah digunakan dalam ibadah, AE agak susah diterima kalau dalam berjemaat sebab pemikiran setiap orang berbeda. Sebagai berikut komentarnya ;

” Kalau Om Glend sendiri tidak ada masalah, tetapi kalau untuk konteks Gereja masyarakat agak susah diterima. Karena pola pikir pemahaman orang ke gereja itu bawa alkitab intinya begitu, jadi memahami hal itu dia ke gereja. Tetapi dari handphone tiba-tiba dia pergi isi handphone dalam saku itu juga tidak bawa nuansa. Mungkin untuk satu dekade ini orang belum terima tetapi cepat atau lambat perkembangan informasi teknologi ini akan menyebabkan itu juga kearah itu. Sekarang mungkin belum diterima karena pemahaman-pemahanam jemaat masih kaku soal hal itu. Saya menggunakannya untuk mempersiapkan renungan-renungan dari rumah dengan mempergunakan Alkitab Elektronik pada notebook. Selama ini tidak ada, tidak bermasalah “.[40]

 

Sangat berbeda dengan yang lain, Penatua NP menolak pembenaran digunakan dalam beribadah, karena penilaian orang terhadap handphone yang berisikan AE itu negatife. Seperti ini komentarnya ;

“ Tidak dapat dibenarkan dalam pelayanan, alasannya kita melayani orang dengan menggunakan salah satu handphone itu tidak baik dalam artian kita datang untuk melayani umat datang dengan handphone saja, lalu penilaian orang yang kita layani itu dia bilang ini majellis atau pengurus wadah ini dia bagaimana. Tapi kalau untuk saya lebih baik kita memakai yang media cetak supaya benar- benar bahwa apa yang selama ini kita gunakan yang dari dahulu itu, jangan kita memakai yang suda ada elektronik yang kita pakai. Dan yang berikut orang itu malas dia mau segala sesuatu yang praktis dia tidak mau menenteng kata besok saya pegang alkitab besar begini, kalau dari sisi pelayanan itu tidak baik. “.[41]

 

Penatua ML  mendukung dan membenarkan AE tidak bermasalah jika digunakan, selanjutnya ia ketahui sebagai berikut ;

” Dapat dibenarkan karena baik jadi tidak masalah karena tidak mengurangi dan menanamnah sesuai hakekat yang ada. Saya menggunakan Alkitab Elektronik dari efesiensi waktu, mempermudah dalam perbandingan soal kata-kata dan tinggal saya print untuk digunakan dalam pelayanan. Dan juga kalau mati lampu. Menanggulangi kendala saya himpun sekali semuanya materi untuk dibawa dalam pemberitaan firman, dan mesti dicek kembali lagi kata-kata “.[42]

 

Penatua EL, sungguh tidak menerima kehadiran AE, ia mengatakan dengan adanya AE akan terjadi suatu pembodohan. Seperti ini ditegaskannya sebagai berikut ;

“Kalau Alkitab Elektronik saya sudah melihat orang menggunakannya duluh dan dalam tahun ini atau sebelum itu kira-kira tahun 2009. Namun belakangan saya berbicara dengan teman-teman dan mereka mengatakan sudah ada Alkitab seluler fleksi, katanya khusus buat ayat-ayat Alkitab. Terus saya sempat bertanya apakah nanti dengan adanya alkitab begitu lalu nanti alkitab yang biasa kita bawa dan gunakan diibadah sudah tidak digunakan lagi ? artinya saya berpikir benar kita saman sudah canggih untuk sekarang ini pake handphone saja dia praktis namun kita berpikir secara alkitabiah saja. Alkitab ini kan kita punya kitab suci jadi jangan kita menggunakan handphone dengan alasan praktis, kata teman-teman saya nanti kalau mengendarai motor setengah mati kalau menggunakan alkitab cetak mau taru dimana. Itu kan kitab suci jadi mau berat ataupun tidak wajib dibawa”. Sekarang sangat nampak semua sudah sangat praktis lalu nanti sudah tidak membawa alkitab lagi dan masuk gereja lenggang saja. Nama yang sama namun berbeda pada fisiknya. Dan saya belum pernah menggunakan alkitab elektronik karena saya berpikir berdasarkan yang tadi bahwa okelah ia praktis tapi kita mempunyai kitab bukan kita bawa-bawa, dan akhirnya fungsi alkitab fisik yang sebenarnya nanti mau dikemanakan. Bagi saya dengan adanya alkitab elektronik itu merupakan suatu pembodohan atau mengubah tradisi atau karakter budaya kita. Bisa saja setan menggunakannya supay orang sudah tidak membawakan alkitab lagi dan orang hanya menggunakan handphone saja untuk bergaya. Kalau alkitab elektronik digunakan dalam pelayanan atau dibenarkan, rasanya tidak pantas apalagi kalau kita memimpin ibadah minggu, unit, wadah, nanti orang berpikir ini mereka suda gaya-gayaan apa lagi dengan memimpin ibadah menggunakan handphone atau nootboke dan nanti pada saat persidangan atau rapat evaluasi lalu diserang. Kalau buat saya pada prinsip alkitab tetap alkitab saja bukan alkitab elektronik. Untuk mengatasi kendala-kendala demikian saya rasa gereja. Gereja punya fungsi dan peran mungkin juga mulai dari rumah-rumah tangga supaya bisa mengarahkan generasi muda untuk memahami alkitab dengan baik agar jangan terlalu terfokus dengan yang praktis-praktis atau yang instan dan yang cepat-cepat padahal dulu-dulu orang bawa alkitab, kidung jemaat, dua sahabat lama. Saya rasa gereja sebagai bait Allah harus memperhatikan yang tadi agar jangan setan  akan pergunakan dengan metode-metode dengan handphone atau notebook (alkitab elektronik ini).  Misalnya sekarang iman bukan matematis. Namun menurut saya pemahaman setiap orang berbeda “.[43]

 

Diaken Ibu P menyampaikan bahwa AE belum memasyarakat tetapi sudah ada yang menggunakannya. Sangat singkat yang disampaikan sebabai berikut ;

“ Kalau dalam ibadah hari minggu saya belum pernah melihat, didalam wadah juga tidak ada. Alkitab Elektronik banyak belum memasyarakat. Tetapi ada teman sekolah yang sudah menggunakannya.[44]


4. Analisis Penggunaan

Alkitab elektronik digunakan pada saat-saat kritis saja seperti di jalan-jalan di kantor dengan alasan akses Alkitab yang berlebihan dengan menggunakan Alkitab cetak, misalnya di jalan-jalan yang memungkinkan terlihat oleh sebagian besar manusia sehingga bisa diasumsikan bahwa ada penyombongan iman. Namun ketika kita mempergunakan Alkitab elektronik asusmsi tersebut tidak kena.

Alkitab Elektronik sering dipakai oleh beberapa pelayan khusus guna menunjang pelayanannya untuk memperkaya renungan karena Alkitab Elektronik mempunyai kemampuan untuk mencari ayat-ayat dengan cepat dan di situ mereka mendapatkan ayat atau teks-teks paralel sehingga renungan semakin kaya. Diakui kalau penggunaannya di dalam ibadah hanya sebagian kecil satu dua orang saja sperti yang dikatakan oleh para pelayan khusus.

Adapun juga pelayan khusus sendiri yang menjadi pengguna aktif dalam setiap ibadah dengan alasan Alkitab Elektronik sangat bagus dan menarik juga alasan kesehatan yang katanya tidak mampu membaca Alkitab cetak. Menariknya asusmsi pelayan khusus yang menggunakannya mengatakan bahwa Alkitab Elektronik tidak ada persoalannya karena perbedaannya hanyalah pada fisik namun isinya semua sama dan yang paling penting ketika setiap nilai yang ada di dalam Alkitab Elektronik itu mampu diaplikasikan dalam kehidupan bukan soalnya pada fisik dan bentuk alkitab itu.

Dari amatan penulis dalam peribadahan, kemalasan setiap orang membawa Alkitab atau nyanyian bukan terletak pada kemajuan teknologi tersebut, sebab sebelum Alkitab Elektronik hadir, ada juga beberapa orang yang ke gereja bahkan tidak membawa apa-apa. Ini berarti bahwa malas atau tidaknya seseorang untuk membawa alkitab dan buku nyanyian setiap kali ibadah, bukan karena Alkitab Elektronik, melainkan lebih merupakan persoalan manusia itu sendiri.

 

ü Berikut adalah data dari pemanfaatan Pelayan Khusus Jemaat GPM Bethel terhadap Alkitab Elektronik ;

Penatua N, Beliau mengatakan bahwa memanfaatkan penggunaan Multimedia seperti Alkitab Elektronik sebab Gereja tidak boleh Gaptek (gagap teknologi) seperti ini komentarnya ;

“karena kita juga mesti melihat manfaatnya / kegunaannya karena dunia sudah terbuka dan moderen. Padahal tidak semua orang suka berteknologi. Alkitab lagi tidak perlu beli Alkitab lagi. Harusnya ke gereja itu kita mesti siap dari rumah menyiapkan semuanya termaksud mental, iman. Bisa sajakan ada orang yang tiba-tiba dia lewat, ada gereja dia langsung masuk tanpa ada persiapan, itu saya tidak setuju. Akhirnya nanti lama kelamaan orang suda tidak memiliki Alkitab dan itu akan pasti karena zaman ini akan berubah terus dan orang sudah tidak membeli “.[45]

Penatua HP menyatakan AE dapat dipakai sebagai media Pemberitaan dan  pengajaran, dan menyatakan Elektronik merupakan kemajuan IT, berikut ungkapannya ;

“ Alkitab Elektronik juga dapat manfaatkan sebagai media pengajaran dan pemberitaan namun kalau dirumah ada Alkitab cetak ya kita gunakan yang cetak saja. Bermanfaat ketika kita berada didalam pasar dan ditempat-tempat yang bukan dirumah, sebab masa kita membuka Alkitab cetak dijalan-jalan. Sebab Alkitab Elektronik merupakan suatu perkembangan ilmu pengetahuan IT. Namun masalah generasi tua dan muda juga soal menerima perubahan-perubahan ini. saya rasa kalau generasi muda dan usia 40an bisa menerima hal ini. Kalau menurut saya generasi tua seperti orang tua-orang tua kita mereka memang sulit menerima perubahan ini. contoh kecil kalau didalam gereja sudah tepuk-tepuk tangan, menggunakan band, lalu orang tua-tua sudah mengatakan ini mereka sudah buat apa didalam gereja. AE sangat bermanfaat sebab Alkitab Elektronik merupakan suatu perkembangan ilmu pengetahuan IT dan juga terbita LAI (Lembaga Alkitab Indonesia) yang turut mencetak Alkitab Cetak guna misi pekabaran injil“.[46]

Tanggapan Penatua HP menunjang Penatua P. Penatua P merespon baik sekali soal AE dan menginginkan semua anaknya memiliki AE berikut komentarnya ;

“ Alkitab Elektronik dapat dibenarkan dan dipergunakan sebagai media pengajaran dan pemberitaan sebab saman semakin maju kita mestinya menerima perubahan dengan mempergunakan teknologi untuk kebutuhan yang positif, malahan saya menganjurkan kepada setiap anak-anak saya di dalam handphone itu harus memiliki Alkitab Elektronik. “.[47]

Lain lagi dengan Penatua NA, ia katakana AE baik kalau konsusmsi pribadi, selanjutnya ia ketahui sebagaiberikut ;

“ Alkitab Elektronik kalau untuk konsumsi pribadi dan keluarga sah-sah saja. Misalnya kalau mencari ayat-ayat itu dia cepat sekali dan bisa kita membaca Alkitab dimana saja seperti dijalan-jalan. Alkitab Elektronik juga bermanfaat misalnya dalam keadaan darurat seperti di kantor, jalan dll kita bisa mempergunakannya. “.[48]

Penatua NS menayatakan AE baik digunakan dari sisi konteks, singkat pernyataannya sebagai berikut ;

“ Alkitab Elektronik bermanfaat ketika di kantor mau memimpin ibadah tidak membawa Alkitab Cetak ya menggunakan Elektronik. “.[49]

Sama dengan yang disampaikan NS, Pendeta L mengungkapkan juga bahwa memanfaatkan juga sesuai keadaan, dengan tegas mengatakan sebagai berikut ;

” Memanfaatkan AE sesuai kondisi dimana kita berada, karena semua orang belum mengerti dan mengetahui apa itu AE walaupun telah diterbitkan oleh LAI sebab tidak pernah ada wacana soal hal tersebut“.[50]

Saling melengkapi apa yang disampaikan Penatua FN melihat yang telah Pendeta L katakana. FN mengemukakan kepraktisannya menerobos ruang dan waktu. Sebagai berikut komentarnya ;

” Saya lebih cenderung Keduanya sama saja karena menunjang dan saling melengkapi. Dapat dibenarkan kenapa tidak sebab perbedaannya hanya fisik Alkitabnya namun isinya sama. Kan yang dilihat isinya yang mesti diaplikasikan buka Alkitab itu. Sangat membantu dan bermanfaat karena kepraktisannya juga jika kita sedang berpergian lalu ketika dibutuhkan Alkitab dalam keadaan darurat sementara tidak ada Alkitab cetak yang dibawa dan saya menggunakan Alkitab Elektronik “.[51]

 

Sama halnya Penatua GC, melihat AE sebagai media yang bermanfaat untuk menunjang pelayanan saya sebagai berikut komentarnya;

”Saya selalu mempergunakan Alkitab Elektronik di nootbook untuk membuat atau mempersiapkan renungan-renungan ketika mau melakukan pelayanan atau memimpin ibadah wadah. Saya tidak pernah menemukan kendalanya yang saya temukan itu semua positif sebab sangat membantu. Alkitab Eelektronik dapat dibenarkan dalam media pemberitaan serta pengajaran kan bedanya hanya di fisik namun isinya semua sama tergantung kita mengaplikasikan isisnya itu intinya. Alkitab elektronik ini bagi saya sangat bermanfaat dan rasanya bagi mereka juga yang sudah mengetahui soal ini. “.[52]

Ungkapan Penatua NP AE dipahami dari berbagai macam prespektif, seperti ini ia menegaskan ;

” AE Dapat dipakai sebagai media pembelajaran dan pemberitaan, soal media pemberitaan terbegantung pada pribadi masing-masing, kebanyakan orang yang suda merasa kedudukan tinggi dia suda merasa dunia suda canggih saya tidak perlu membawa Alkitab saya pakai saja lewat handphone, saya liat saudara sendiri juga kalau dia ke ibadah dia tidak membawa Alkitab tetapi dia buka pembacaan dari handphone lalu dia baca, terpulang dari pemahaman bagi dia itu baik tapi bagi saya tidak baik soal elektronikitu, saya lebih baik gunakan cetak“.[53]

Lain lagi yang dikatakan Penatua ML, menyatakan semua itu baik saja untuk digunakan, sebagai berikut pernyataannya ;

” Kalau semua baik itu gunakan saja dalam media pengajaran dan pemberitaan. Oleh sebab itu jangan kita terfokus di handphone, jadi AE membantu kita dalam persiapan saja. Dahulu kalau belum ada Alkitab Elektronik saya biasa ketik di handphone ayat-ayat yang khusus menopang teks dalam pemberitaan firman. Bagi saya Alkitab Elektronik tidak ada masalah semua terpulang pada pribadi saja. Dan kalau dijalan-jalan kita bisa gunakan Alkitab Elektronik bisa memperkuat kita dalam kesukaran. Cuman dalam penggunaan mesti diperhatikan hal teknis. “.[54]

Cukup terbuka pernyataan Diaken Ibu P terkait manfaat AE bagi pelayan khusus. Sebagai berikut komentarnya ;

“Pelayan khusus boleh saja menggunakannya, hanya tidak memiliki judul itu berarti ada hal-hal yang kita analisis sendiri karena judul mempengaruhi cara untuk membuat renungan pendek. Alkitab Elektronik bisa saja digunakan sebagai media pengajaran serta pemberitaan karena isisnya sama saja. Serta teman majelis pernah menggunakan pada saat membaca Alkitab, saya juga berniat menginstalnya di handphone hanya belum kesampaian. Saya menerimanya secara positif di dalam jemaat ini”.[55]

5. Analisis Pemanfaatan

Tidak semua pelayan khusus suka berteknologi, dan juga tidak semua pelayan khusus memanfaatkannya karena akses untuk memperoleh benda tersebut terbatas oleh perekonomian serta kebutuhan yang dilatarbelakangi oleh pemahaman di dalam spesifikasi handphone serta notebook. Namun, dapat dilihat kembali bahwa sebagian besar pekayan khusus memberi apresisai baik terhadap kehadiran atau keberadaan Alkitab Elektronik itu terkait dengan nilai kepraktisannya dan juga penjelasan terperinci tentang setiap kitab serta mampu menjawab persoalan konteks. Sebab Alkitab Elektronik sangat menunjang dan saling melengkapi Alkitab cetak ketika para pelayan mau mempersiapkan serta mendapat pemahaman yang luas menyangkut teks tersebut sebab paralel atau perbandingan dari kata-kata kunci ini nampak. Walaupun harus diakui adapun juga pelayan khusus yang memberikan apresiasi baik bagi Alkitab Elektronik, namun di sisi yang lain mereka juga mengutarakan kelemahannya seperti terjadi salah tafsir bagi umat dan juga jemaat nantinya tidak memeiliki Alkitab cetak lagi namun hanya menggunakan handphone saja ketika beribadah dan juga handphone memiliki multi fungsi sebab di dalam handphone juga bisa terjadi akses pornografi serta ada kemungkinan jemaat menjadi malas.

 

BAB III

REFLEKSI TEOLOGI

Manusia menyatakan sikap terhadap perubahan bumi ini selama berabad-abab dan sepanjang kehidupan ini masih bisa dinikmati manusia. Dalam berabad-abad lamanya dunia mengalami pergeseran dan perubahan yang begitu panjang sampai pada saat ini, di mana semuanya telah dikemas secara elektronik dan juga fleksibel terhadap sebagai respon terhadap kebutuhan zaman yang merupakan kebutuhan manusia itu sendiri sebagai pengguna yang sadar akan fungsi dan kegunaannya.

Di dalam kekristenan dan protestantisme diyakini bahwa manusia dan dunia ini merupakan buah tangan Tuhan Allah sehingga boleh dikatakan Tuhan sebagai Maha Pencipta (Creator) dari keberadaan dunia dan manusia sehingga manusia (co-creator) harus meneruskan karya penciptaan Tuhan melalui karyanya dalam dekade panjang hidup manusia. Hal ini memungkinkan manusia hidup dalam situasi yang kontekstual dan juga selektif secara pengaplikasiannya.

Sehingga pendidikan agama Kristen, seperti semua pendidikan, adalah kegiatan yang kompleks, dan tidak akan pernah ada deskripsi mengenai pendidikan agama Kristen yang lengkap. Pernyataan-pernyataan mengenai tujuannya, konteksnya, dan sebagainya akan muncul kemudian. Pendidikan agama Kristen ialah kegiatan politis bersama para peziarah dalam waktu yang secara sengaja bersama mereka memberi perhatian pada kegiatan Allah di masa kini kita, pada cerita komunitas iman Kristen, dan visi kerajaan Allah, benih-benih yang telah hadir di antara kita.[56]

Itu berarti teori pendidikan tidak dapat hadir dalam ruang hampa. Teori ini agaknya muncul dari pengalaman hidup manusia dalam konteks tempat mereka hidup.[57]

Mengatakan bahwa teori pendidikan harus kontekstual juga mengatakan teori tersebut harus dinamis ketimbang statis. Seperti waktu dan ruang berpindah dan berganti, seperti kejadian dan pengalaman terus berjalan dan mengalir, teori pendidiakan perlu merespon dengan segera dan tepat. Oleh karena itu, setiap orang pendidikan pasti memiliki suatu kisah dibelakangnya. Sering kali, kisahnya merupakan suatu konflik, ketegangan, realisasi, dari suatu kekurangan atau kebutuhan akan sesuatu, atau visi dari sesuatu yang lebih baik bagi komunitas atau masyarakat. Menurut John Dewey.[58] Dinamika tersebut membuat gereja tertantang dalam arus modernisasi yang penuh dengan konflik ide atau pemahaman tentang otoritas Alkitab elektronik.

Konflik tersebut merupakan tanggung jawab pengajaran PAK/PWG merupakan tugas Gereja dan kita semua yang merupakan anggota gereja. Namun, pendidikan agama Kristen sebagai bagian dari kurikulum pendidikan nasional di sekolah-sekolah (pendidikan formal), merupakan tanggung jawab sekolah (pimpinan sekolah) yang ternyata dapat dibantu oleh Gereja melalui berbagai sarana pelayanan pendidikan yang dimilikinya, misalnya khotbah, sekolah minggu, katekisasi, dan lain sebagainya.

Arah perubahan membawa Gereja masuk pada kebutuhan besar yang lahir dari dalam perubahan itu sendiri, antara lain tampak dalam kebutuhan akan perubahan suasana ibadah, konsentrasi karya gereja, kepemimpinan, serta penghargaan terhadap pluralitas penghayatan iman.  Globalisasi dan proses demokratisasi dalam masyarakat telah mengubah pola pikir anggota jemaat. Mereka hidup dalam lingkungan yang memberikan kebebasan berpendapat. Meskipun demikian, perlu disadari pula bahwa globalisasi merupakan proses yang paradoksal. Artinya, globalisasi menimbulkan kontradiksi-kontradiksi karena ternyata menampakkan dua macam kecenderungan dan akibat yang saling berlawanan. Jelaslah bahwa globalisasi memberikan pengaruh dan akibat ganda terhadap keberadaan dan nilai-nilai kehidupan, yaitu yang baik atau bermanfaat tetapi juga buruk atau merugikan.

Oleh  karena itu, dalam menyikapi globalisasi dan akibat-akibatnya, perlu kewaspadaan dan kearifan yang didasarkan pada kriteria-kriteria yang mengacu pada prinsip-prinsip teologi dan etis, yang alkitabiah dan sungguh-sungguh relevan-kontekstual dengan situasi dan kondisi yang ada. Ini adalah tugas gereja yang secara fungsional harus membimbing dan mengarahkan umat agar hidup sesuai dengan kehendak Allah di tengah zaman yang terus berubah.

Gereja perlu secara kritis mengadakan evaluasi dan seleksi secara benar dan tepat terhadap fenomena dan pengaruh-pengaruh globalisasi, mana yang positif dan negatif demi pemeliharaan dan pengembangan kehidupan iman umat seperti yang ditekankan PAK/PWG maupun pelaksanaan tugas dan panggilan gereja. Gereja memiliki peran untuk mengupayakan agar globalisasi jangan sampai menimbulkan hal-hal yang justru kurang atau bahkan tidak “memanusiakan manusia”.

Dalam Efesus 4:12 tersirat tugas dan tanggung jawab gereja, baik sebagai persekutuan maupun institusi untuk mempersiapkan para pelayan agar mampu melayani umat dengan baik. Hal ini tentu berkaitan dengan perubahan zaman yang semakin canggih yang membutuhkan keterampilan tertentu dari para pelayan khusus agar dapat terus melayani umat seiring perubahan manusia, sebab perubahan sosial juga mengisyaratkan perubahan karakter manusia.

Kesiapan para pelayan khusus untuk melayani umat, menentukan keberhasilan pelayanan gereja dan perkembangan spiritualitas umat. Sebelum sampai pada titik di mana gereja mampu mendorong umat untuk bersikap terbukan dan kritis terhadap berbagai tawaran perubahan, maka gereja secara institusional perlu terlebih dahulu bersikap terbuka dan kritis terhadap perubahan agar dari situ gereja dapat mengambil langkah untuk mempersiapkan para pelayannya.

Sikap terbuka dan kritis ini juga dapat berasal dari jemaat yang menghasilkan dorongan kepada gereja. Ketika gereja melihat, mendengar, dan menghadapi pelbagai hal baru yang disuarakan oleh anggota jemaat dan masyarakat. Sikap kritis mutlak diperlukan, namun dilandasi keterbukaan dan dialog untuk menyikapi pluralitas penghayatan iman dan setiap usulan perubahan. Gereja perlu bersikap terbuka tidak kaku dan tertutup karena konteks situasi di mana gereja berkembang terus, sejalan dengan derasnya arus globalisasi dan munculnya persoalan-persoalan baru.

Konsekuensinya adalah gereja di bidang PAK/PWG harus tanggap terhadap kepelbagaian, keragaman isi, metode dan jenis kebutuhan manusia yang dilayaninya. Ia tidak dapat memakai tangan besi dengan otoritas rohani memagari orang Kristen agar tetap seragam dalam pemikiran, perasaan dan ekspresi imannya. Dengan begitu, bukan berarti Gereja akan kehilangan esensi, tetapi harus berusaha mencari bentuk-bentuk spritualitas yang baru dan bermakna. Di situ terletak kekuatan gereja dan keuletannya bukan hanya untuk tetap bertahan, melainkan mampu melayani secara efektif.

Mungkin saja orang akan lebih suka memilih kombinasi PAK/PWG yang secara bombastis, diekspos secara publik seperti gaya presentator-presentaris TV, proyektor. Dengan media tersebut orang bisa saja mengajar tanpa bertatap muka. Inilah peranan media dalam pendidikan moderen. Gereja tidak cukup dengan hanya mengandalkan bentuk-bentuk tradisional. Harus dipikirkan bentuk-bentuk pelayanan baru agar kebutuhan umat dapat terjawab.

PAK berpijak berlandaskan Alkitab dan manfaatnya untuk Pendewasaan hidup. Alkitab merupakan isi kepercayaan orang kristen bukan? Untuk menjawab pertanyaan ini, banyak anggota jemaat yang akan menyebut Alkitab sebagai “pasal pertama” kepercayaan mereka. Kitab sucilah yang merupakan pokok kepercayaan terpenting, akan tetapi pengakuan Iman Rasuli tidak memuat sesuatu pasal tentang Alkitab! Setidak-tidaknya hal ini dapat memperingatkan, bahwa Alkitab bukanlah menjadi pusat kepercayaan Kristen. Dapatlah dikatakan, berkat adanya Gereja, jemaat beroleh Alkitab. Gereja lama telah menyambut Kitab Kudus orang Yahudi sebagai Firman Allah. Malahan dalam Perjanjian Lama, Gereja telah mendengar kesaksian tentang Yesus Kristus. Kesaksian itu juga selanjutnya diberitakan juga dalam pelbagai tulisan para rasul.  Demikianlah lama kelamaan terjadilah suatu himpunan kitab-kitab di dalam Gereja Kristen yang memiliki wibawa sebagai Kitab Kudus. Berkat adanya Gereja segala abad, Alkitab pun telah disampaikan kepada jemaat dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Sebaliknya, boleh dikatakan, bahwa berkat adanya Alkitab, ada Gereja Kristen. Gereja ada berdasarkan kesaksian para nabi dan rasul. Sebagaimana disampaikan bagi jemaat di dalam bentuk Alkitab. Berkat adanya Alkitab, selalu pula ada orang-orang yang menjadi percaya serta mempercayakan dirinya kepada Yesus Kristus. Artinya orang yang sudah mendengar suara Tuhan yang memanggilnya untuk menjadi anggota Jemaat Kristus di dunia ini. Inilah proses keberadaan Alkitab bagi Gereja Kristen hingga saat ini.

Alkitab merupakan sebuah landasan media pembelajaran dan pemberitaan bagi kekristenan mengalami perubahan secara fisik. Di mana Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) membuatnya untuk dipergunakan masyarakat agar lebih fleksibel dan kreatif. Zaman dulu Alkitab ditulis di atas papyrus dan masih berupa gulungan-gulungan secara terpisah-pisah. Seiring dengan gerak zaman, semuanya mengalami perkembangan seperti sekarang ini telah digunakan seperti Alkitab Cetak dan semua orang menggunakannya karena terkondisi. Sekarang boleh dilihat gerak zaman ini tidak diam namun terus maju sehingga Alkitab tidak hanya dapat berbentuk cetak namun juga Elektronik.

Alkitab Elektronik menjadi fenomena bagi masyarakat/warga Gereja sebab keberadaannya masih belum bisa diterima di semua kalangan masyarakat. Walaupun memang sudah ada pula yang menerima sekaligus menggunakan. Boleh dikatakan ini merupakan suatu hal yang baru untuk mau menerima media elektronik itu. Karena masyarakat telah lama sekali terkondisi dengan Alkitab Cetak sehingga mereka masih menganggap Alkitab Elektronik sebagai momok yang tidak baik, dipandang sebelah mata dan dikatakan juga merupakan ‘setan’ yang bisa merusak nilai tradisi yang telah ada. Perlu disadari bahwa dahulu manusia membaca Alkitab dengan media papyrus dan sekarang telah menerima Alkitab dalam bentuk buku. Ini berarti bahwa bentuk Alkitab mengalami perubahan seirama dengan perubahan konteksnya. Oleh sebab itulah, sering dikatakan bahwa kontekstualiasi itu perlu dua sayap yakni yang pertama tradisi dan yang kedua ilmu pengetahuan dan teknologi. Tradisi memungkinkan manusia untuk menjaga nilai-nilai baik yang diwariskan, sedangkan pengetahuan dan teknologi menuntun manusia kepada penemuan baru yang membantu mereka untuk hidup dengan lebih baik. Itu berarti manusia menempatkan media teknologi hanyalah sebagai alat bukan tujuan hidup, sebab yang menjadi tujuannya yaitu Firman Allah sebagaimana terkandung dalam Alkitab.

Kemunculan bentuk baru Alkitab (Alkitab Eletronik), tidak berarti punahnya betuk lain dari Alkitab (buku). Di sini Alkitab Elektronik disandingkan dengan Alkitab media cetak agar bisa tetap berfungsi bersama-sama sesuai kelebihan dan keterbatasan masing-masing media. Dari situ, maka bisa terjadi harmonisasi, kenyamanan serta fleksibelitasnya dirasakan dalam pelayanan Gereja, sebab Jemaat GPM Bethel merupakan jemaat kota yang dekat sekali dengan perkembangan IPTEK. Bukan berarti dengan kehadiran teknologi mau menyingkirkan nilai-nilai yang telah ada dan lama bertumbuh dan berkembang di dalam gereja, namun gereja itu juga mesti relevan terhadap zaman ini dan tidak menutup diri, mau terbuka dan mampu kritis dalam melihat kebutuhan masyarakat dalam Gereja.

LAI merancang Alkitab Elektronik sedemikian rupa sebagai media yang dapat digunakan oleh siapa saja, baik  Pendeta, dan pekerja kristiani, bahkan kaum awam sekalipun yang ingin mempelajari Alkitab lebih mendalam. Alkitab Elektronik dibuat dengan berbagai versi, sehingga aplikasi Alkitab Elektronik dinamis mengalami upgrade disebabkan karena kebutuhan manusia menginginkan inovasion.

Di era moderen sekarang ini, di bagian perkotaan kebanyakan sistem pekerjaan dikemas secara komputerisasi/pemakaian komputer sebagai alat bantu penyelesaian tugas, pengganti penyelesaian pekerjaan secara manual. Walaupun teknologi memberikan banyak kelebihan kepada sumber daya manusia, namun ia juga memberikan gangguan atau masalah kepada manusia sebagai pengguna. Misalnya, komputer tiba-tiba tidak dapat berfungsi dan semua dokumen penting dalam komputer tidak dapat diakses, ia bukan saja akan mengganggu kerja pengguna saja, komputer malah bisa menyebabkan pengguna merasa tertekan untuk menggunakan komputer tersebut. Selain itu, sekiranya seseorang tidak tahu untuk mengaplikasikan teknologi baru, maka mereka akan menjauhkan diri daripada penggunaan peralatan yang berteknologi. Oleh karena itu, kesediaan serta kesiapan diri perlu dibenahi karena zaman ini terus berkembang jika tidak beradaptasi dengannya maka akan ketinggalan di dalam berbagai hal. Dunia sekarang dikendalikan dengan sistem seperti itu, mau tidak mau kelak setiap orang, harus mempersiapkan diri agar mampu beradaptasi dengan baik.

PAK yang transformatif dan kreatif mengembangkan bentuk pelayanan yang sesuai dengan konteks (Kemajuan Teknologi). Teknologi yang adalah daya kreasi manusia yang berakar pada potensi manusia merupakan sebuah langkah maju. Teknologi merupakan ‘ciri’ dunia moderen yang lagi dikonsumsi manusia sebagai penguna dan penikmat. Karena Teknologi banyak membantu manusia untuk menyelesaikan tugasnya dengan cepat dan mempermudah, mempercepat kerja serta aktifitas keseharian.

Teknologi diciptakan oleh manusia dengan daya cipta penuh kreasi dan juga sarat potensi. Beberapa produk teknologi yang dihasilkan manusia seperti komputer, TV, dll ini merupakan wujud pengembangan diri secara potensial. Untuk menjawab kebutuhan manusia berdasarkan tuntutan perubahan pola pikir, berperilaku, diakibatkan oleh benda-benda elektronik sebagai gaya hidup manusia moderen.

Kemajuan teknologi ini pun dimanfaatkan oleh PAK seperti Alkitab Elektronik versi 2.0 sebagai sebuah mediator pengajaran serta pemberitaan tentang Firman Allah. Selain karena sangat praktis dan mudah dibawa ke mana saja dan dapat diinstal ke dalam handphone itu, tujuan pengadaan Alkitab dalam bentuk elektronik ini sebenarnya mengandung kepentingan edukasi sebab dengan keberadaannya yang bisa diakses kapan dan di mana saja, maka penggunaan Alkitab dalam rangka pembinaan spiritual dan perilaku bisa terbuka menerobos ruang dan waktu, bukan saja di gereja atau dalam ibadah-ibadah namun di mana saja proses ini berlangsung. Inilah proses PAK karena ia mendidik dari manusia lahir sampai masuk liang kubur, cara tersebut digunakan PAK untuk sanggup melakukan perubahan perilaku.

Teknologi adalah implikasi dari anugerah Allah kepada manusia, yakni kecerdasan. Pelayan khusus selaku mediator PAK bagi jemaat sering berjumpa dengan teknologi komputer dan produk dari teknologi tersebut melahirkan sebuah perangkat lunak atau software berupa Alkitab Elektronik di mana sebagian besar pelayan khusus GPM Bethel juga memahami dan turut menggunakannya walaupun tidak menggunakannya sesering Alkitab Cetak. Hanya beberapa orang saja yang sering mempergunakannya secara rutin untuk mempersiapkan renungan dan juga ada seorang penatua sebagai pengguna Alkitab Elektronik aktif sebab ia selalu menggunakan Alkitab Elektronik dalam beribadah dan juga gerak pelayanan.

Ini berarti bahwa kesiapan mental serta persediaan diri tentang pengetahuan teknologi itu dibutuhkan oleh semua warga gereja sehingga nilai PAK dan teknologi bisa berjalan seiring mengikuti gerak perubahan modernisasi dengan kritis tanpa menghilangkan nilai-nilai yang telah ada. Dengan menyadari bahwa teknologi adalah anugerah yang Tuhan berikan melalui buah pikir manusia sehingga bisa membuat sebuah perangkat elektronik guna kebutuhan banyak orang yang dapat mengatasi setiap permasalahan-permasalahan holistik seperti bidang administrasi, infrastruktur dan juga menyangkut ibadah ritual “Alkitab Elektronik” dan untuk memberi warna baru dan kepraktisan guna fleksibelitasnya seiring perkembangan teknologi namun tidak menghilangkan identitas iman berlandaskan Alkitab yang mengandung Firman Allah.

Selanjutnya, Perkembangan teknologi telah berjaya mengubah cara seseorang belajar atau bekerja dan teknologi tidak dapat dielakan oleh manusia dalam berbagai organisasi. Oleh karena itu, penerimaan atau penolakan terhadap teknologi adalah bergantung kepada persediaan diri seseorang dari segi fisikal atau mental. Terkait dengan hal ini ada sebuah konsep, yakni teknostres. Konsep ini menjadi popular sejak tahun 1980-an. Apabila seseorang tidak dapat mengendalikan perubahan teknologi dengan baik maka teknologi akan menyebabkan stres muncul. Stres yang muncul sebaga akibat tidak dapat menyesuaikan diri dengan berbagai produk teknologi inilah yang disebut teknostres. Teknostres semakin diperhatikan oleh organisasi dan juga dikenali sebagai penyakit.[59]

Tidak Kritis terhadap dampak teknologi dan laju perkembangannya membuat manusia menjadi kewalahan untuk menyikapinya dengan baik. Dalam era globalisasi kini, komputer memainkan peranan yang penting untuk meningkatkan keberkesanan dan kecepatan  bekerja. Penyesuaian diri terhadap perubahan teknologi yang berkembang dengan pantas bukanlah perkara mudah. Setengah individu mampu menerima perubahan ini namun masih ada yang tidak mampu menerimanya.[60]

PAK selaku sentral di dalam landasan pertumbuhan setiap orang yang terbentuk dan dimatangkan di dalam keluarga memiliki peran penting. Tingkat pengendalian setiap orang terhadap sebuah perubahan yang dianggapnya asing dan sulit untuk dijangkau merupakan hal yang manusiawi. PAK tidak berfokus kepada keluarga saja namun PAK selalu terjadi terus menerus dalam kehidupan ini di manapun berada. Gereja merupakan sentral gerak pelayanan yang turut memaikan peran PAK dalam masyarakat luas lewat pemberitaan-pemberitaan melalui khotbah-khotbah, sekolah minggu, katekisasi, dan juga wadah-wadah pelayanan. Peranan PAK dalam gereja sungguh menjadi acuan di mana masyarakat berkembang. Memaksimalkan warga gereja berpikir terbuka serta kritis menyikapi transformasi teknologi dalam gereja, mempersiapkan diri secara fisik dan juga mental untuk bersama-sama melangkah maju dengan perubahan-perubahan yang juga positif bagi banyak orang menjadi tanggungjawab yang tidak bisa diabaikan oleh Pendidikan Agama Kristen.

Bagaimana PAK bisa menyentuh dan memberi pemahaman terhadap umat terkait keberadaan Alkitab Elektronik dari sisi kesakralannya, sebab di sini tampak sekali masyarakat dan juga segelintir pelayan khusus tidak siap dalam persediaan dirinya secara fisik maupun mental menerima revolusi teknologi yang berkembang di dalam gereja. Mereka cenderung bingung untuk mengaktualisasikannya di mana akses terhadap barang moderen  secara ekonomis cukup mahal sehingga tidak semua orang memiliki handphone yang mahal untuk bisa memediasi Alkitab Elektronik di dalamnya dan juga komputerisasi jika terjadi kedangkalan akses dari sisi ekonomis. Oleh sebab itu, cara lain untuk menjembatani persoalan tersebut yakni persediaan diri secara fisik dan juga mental dari sisi pemahaman, pemanfaatan, serta penggunaan Alkitab Elektronik  terhadap transformasi yang terjadi dalam gereja. Sebab persoalannya yang moderen ini bukan terletak pada rajin atau tidaknya setiap orang ke gereja membawa Alkitab atau nyanyian untuk mengukur apakah ia telah bertumbuh dan berkembang secara matang terhadap proses PAK.

Dalam dunia yang terus bergerak menuju maksimalisasi komputer sebagai simbol perkembangan teknologi, maka upaya membangun sinergitas kritis antara PAK dan teknologi adalah tanggungjawab gereja yang sedang hidup dan melayani di dalam dunia moderen.

BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULANDari penyajian data sebagaimana terungkap diatas maka beberapa kesimpulan yang dapat ditarik berdasarkan dengan pemahaman, penggunaan, pemanfatan Pelayan Khusus Jemaat GPM Bethel adalah sebagai berikut :

 

  1. Alkitab elektronik merupakan sebuah proses hasil berpikir manusia untuk memenuhi kebutuhan praksis serta praktis mereka. Ini adalah sebuah revolusi terhadap Alkitab dengan melihat keseluruan konten-kontennya yang berada pada media tersebut. Alkitab elektronik versi 2.0 merupakan sebuah software (perangkat lunak) yang terinstal di dalam handphone, dan juga laptop serta komputer. Perlu disadari tidak semua orang fasi berteknologi dan tidak semua umat bisa memiliki handphone dengan kapasitas mengakses Alkitab elektronik sebab dari sisi finansial tergolong cukup mahal. Oleh sebab itu Alkitab elektronik masih digunakan hanya oleh beberapa orang. Karena perubahan sosial terkandang cenderung membuat orang stress karena berpikir untuk mampu beradaptasi dengan lingkungan yang telah terpengaruh oleh budaya teknologi modern. Sedangkan kesiapan mental dan kesediaan diri secara fisik belum memadai.
  2. Berbagai inovasi dilakukan oleh LAI sebagai pembuat serta pengelola Alkitab. LAI menerbitkan Alkitab elektronik agar bisa dikonsumsikan masyarakat serta Gereja. Untuk memudahkan pelayanan para pelayan khusus agar secara umum bisa mengetahui setiap latar belakang, setiap kitab dan juga nubuat, deutrokanonika, perumpamaan, ayat-ayat tematik, berbagai terjemahan dengan bahasa Inggris dan bahasa daerah Indonesia serta kamus Alkitab. Dengan demikian Alkitab elektronik memiliki perbedaan dengan Alkitab buku, sebab Alkitab buku tidak memiliki latarbelakang setiap kitab dan juga nubuat, deutrokanonika, periumpamaan, ayat-ayat tematik, berbagai terjemahan dengan bahasa daerah Indonesia secara sistematis.
  3. Para pelayan khusus jemaat GPM Bethel menggunakan Alkitab elektronik dalam pelayanan walupun hanya yang ada melihat, sebab realitas berjemaat seperti demikian bahwa tidak semua orang bisa berteknologi atau memahaminya, itu disebabkan karena akses informasi yang macet dan sikap menutup diri terhadap perubahan karena di anggap tidak bermanfaat. Itu  berarti ada yang memahaminya dengan melihat serta membaca sehingga mengetahui tentang Alkitab elektronik sejauh teoritis saja. Namun ada pelayan khusus yang menggunakannya sebagai media untuk memperlancar pelayanan. Dengan demikian PAK memainkan fungsi sebagai media melalui pelayan khusus untuk bagaimana bisa memediasi setiap warga Gereja bahwa LAI telah menerbitkan Alkitab elektronik dan itu sangan baik jika digunakan. Membuat sebuah wacana khusus terhadap inovasi Alkitab elektronik. Sebagai warga jemaat atau warga belajar, serta pelayan khusus bisa mengetahui serta memahaminya dengan pemahaman iman yang baik. Jadi pada hakekatknya PAK adalah pendidikan yang diberikan kepada semua orang dari semua golongan umur, sebagai usaha gereja yang mendidik dan mendewasakan iman orang-orang itu kepada Yesus Kristus. Jelas PAK adalah tugas Gereja yang sangat penting dan harus dilaksanankan bersama oleh seluruh anggota Gereja itu sendiri berdaasarkan panggilan AM orang percaya dimana moto PAK adalah : Fidesqua (iman yang diwariskan), mengajar dan mewujudkan, Fidesque (iman yang ditemukan). Pusat dari PAK bukanlah manusia, tetapi Allah. Dan tugas pelayan khusus adalah membimbing setiap orang ke dalam relasi yang benar dengan Allah mau ditegaskan di dalam Yesus Kristus dan dengan sesama manusia.
  4. Mau ditegaskan bahwa yang menjadi dasar dari PAK adalah Alkitab sebagai penyataan firman Allah. Faktanya di dalam Alkitab sebagai penyataan Allah merupakan penentuan bagi segala pekerjaan Gereja, termaksud di sini adalah penyelenggaraan PAK itu. Pendidikan agama itu ada sejak adanya manusia itu sendiri dan terjadi di setiap ruang dan waktu bukan hanya PAK secara formal yang terjadi pada ruang-ruang kelas. Oleh sebab itu sangat disayangkan kalau masih banyak pelayan khusus Gereja yang menganggap bahwa Alkitab elektronik yang digunakan di handphone itu mengganggu dan merisihkan. Sebab tidak sampai di situ saja karena akses penggunaan handphone bisa dianjurkan sebagaimana mestinya karena handphone adalah sebuah peroduk teknologi Multimedia di mana ia multifungsi, itu kelebihannya teknologi elektronik. Karena dengan Alkitab elektronik yang berada dalam handphone mampu membuat orang bisa membaca firman Allah dimana saja, kapan saja ia maus, serta sebagai penguatan iman ketika mengalami masalah karena mereka bisa saja langsung mengakses Alkitab itu melalui handphone. Ini juga wujud dari PAK yang transforamtif sebab pemberitaan lewat media handphone yang berisikan Alkitab elektronik bisa merubah perilaku.

 

B. SARANBerdasarkan kesimpulan maka fenomena Alkitab elektronik di dalam kehidupan bergereja juga beranekaragam. Maka adapun beberapa saran yang penulis sampaikan agar dapat membantu pelayanan GPM ke depan ;

 

  1. Gereja secara fungsional pada hakekatnya masih kaku melihat, memahami, mengaplikasikan sebuah fenomena-fenomena baru yang terjadi akibat perkembangan IPTEK, sebab LAI telah mengeluarkan Alkitab elektronik versi 2.0 sehingga boleh berdampingan dengan Alkitab buku supaya ada inovasi ke arah kemajuan sebuah pelayanan yang juga kontekstual. Para pelayan khusus sebagian besar masih kaku melihat, memahami, serta mengaplikasikannya bagi warga Gereja. Pelayan khusus seharusnya bisa mengayomi warga gereja serta memberi wacana-wacana baru terkait perubahan yang berkaitan dengan pelayanan seperti Alkitab elektronik. Bahwa pada dasarnya Alkitab itu adalah dasar pak berpijak itu adalah Firman Allah dan itu sah sebab semua isinya sama dengan Alkitab buku. Hanya kemasannya yang berbeda.
  2. MPH  Sinode GPM bahkan badan pelayanan klasis GPM Ambon, harus menjadi motifator dalam mentransformasikan sistim pelayanan. Terhadap pelayan khusus agar bisa menyuarakan inovasi terhadap Alkitab elektronik dijadikan wacana guna jemaat mengenalnnya dan dengan demikian tidak ada prespektif yang buruk terhadap Alkitab elektronik.
  3. Fakultas Teologi juga seharusnya menyuarakan wacana terkait Alkitab elektronik kepada mahasiswa. Bahwa itu baik untuk digunakan asalkan sesuai prosedur yang tepat. Sebab persoalannya hanya pada handphone yang multifungsi itu, cenderung mengalami multi tafsir juga.
  4. Kepada Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) yang terhormat, bahwa Alkitab elektronik terbitan versi 2.0 pada kenyataan setelah penulis melakukan penelitian kualitatif terhadap Alkitab elektronik pada Pelayan Khusus Jemaat GPM Bethel Ambon, pada kenyataan masih mengalami penolakan, sebagian Pelayan Khusus masih melihatnya sebagai sesuatu yang tidak layak untuk digunakan, sebab akses multifungsinya handphone.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Boehkle, Roberth R., 2002, Memperlengkapi Lagi Pelayanan dan Pertumbuhan. Jakarta: BPK Gunung Mulia

 

Brod, Craig (1984). Technostress: the human cost of the computer revolution. Reading, MA: Addison-Wesley.

 

Champion, S. (1988). Technostress: Technology’s Toll. School Library Journal

Clark, K. Dan Kalin, S. (1996). Technostressed Out? How to cope in the digital age.Library Journal.

 

Fore, Wiliam F., 2000, Para Pembuat Mitos, Injil Kebudayaan dan Media, Jakarta: BPK Gunung Mulia

 

Pekerja Klasis GPM Pulau Ambon, 2003, Himpunan tata gereja peraturan pokok dan peraturan organikgereja protestan maluku, Ambon : Badan Pekerja Klasis GPM Pulau Ambon

 

Hope S Antone, 2010, Pendidikan Kristiani Kontekstual, Jakarta : BPK Gunung Mulia

 

Hasil Studi Institut Komunikasi, 1991, Komunikasi dan Pendidikan Teologi, Yogyakarta

 

Kupersmith, J. 1992 Technostress and the reference librarian. Reference Services Review

Mary Elizabeth More, 1980,  Education for Continuity and Change. San Fransisco : Harper

 

Marianne Sawicki, 1988, The Gospel in Hostory, New York : Paulist Press

 

Petersen, C.W. Do you have technostress? Island View.http://www.cupevidc. org/iv/98/02/techno.html. Dicapai pada 9 desember 2010.

 

Pattiasina, J. M., dan Sairin, Weinata, 1997, Gerakan Oikoumene Tegar Mekar di Bumi Pancasila,  Jakarta: BPK Gunung Mulia

 

Robert, David Ord dan Coote, Robert B., 2000, Apakah Alkitab benar?, Jakarta: BPK Gunung Mulia

 

Rijnardus A. Van Kooij, Sri Agus Patnaningsih, Yam’ ah Tsalatsa A, 2008, Menguak Fakta, Menata Karya Nyata. Jakarta : BPK Gunung Mulia

Soetarman, Sairin, Weinata., Rakhmat, Ioanes., 1996, Fundamentalisme, Agama-Agama dan Teknologi, Jakarta: BPK Gunung Mulia

 

Strauss, Anselm dan Corbin, Juliet., 2007, Dasar-dasar Penelitian Kualitatif: Tatalangkah dan Teknik-teknik Teoritisasi data, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

 

Weil,M.M. dan Rosen,L.D. 1997, Technostress:coping with technology.New York. John Wiley & Sons

 

  • Sumber Internet

Kamus Komputer dan Teknologi Informasi.

http://www.total.or.id/info.php?kk=Cyberspace,               17 agustus 2010

Sarapan Pagi Biblika, Bible Study/Christian Library. http://www.sarapanpagi.org/papyrus-vt846.html, 17 Agustus 2010

 

Maryo Indra Manjaruni. http://www.facebook.com/home.php?#!/profile.php?id=1225738344. diakses 16 Agustus 2010

 

Maryo Indra Manjaruni. http://www.facebook.com/home.php?#!/profile.php?id=1225738344, diakses 17 Agustus 2010

Wikipedia Ensiklopedia Bebas, Elektronik. http://id.wikipedia.org/wiki/Elektronik, 21 Agustus 2010

 

Wikipedia Ensiklopedia Bebas, Elektronika. http://id.wikipedia.org/wiki/Elektronika, diakses 21 Agustus 2010, Sabtu, pukul 19.30. WIT


[69] Thomas H Groome, Christian Religious Education, Jakarta ; BPK Gunung Mulia, 2010, hlm. 36-37.

[59] Marianne Sawicki, The Gospel in Hostory, New York : Paulist Press, 1988, hlm 25

[58] Hope S Antone, Pendidikan Kristiani Kontekstual, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2010, hlm 11

[57] Clark, K. Dan Kalin, S. (1996). Technostressed Out? How to cope in the digital age.Library Journal. 12(13):30-34

[56] Champion, S. (1988). Technostress: Technology’s Toll. School Library Journal.35(3):48-51


[55] Hasil wawancara dengan Penatua Utha Nendisa,dilakukan 15.09. 2010. Pukul 01.30 Wit

[54] Hasil wawancara dengan Penatua Hanny Parinussa. Dilakukan 11.14.2010 Pukul  20.22 Wit

[53] Hasil wawancara dengan Penatua Patty. Dilakukan 11.05.2010 Pukul 14.07 Wit

[52] Hasil wawancara dengan Penatua Noce Abel. Dilakukan 11.12.2010 Pukul 19.20 Wit

[51] Hasil wawancara dengan Penatua No SImatauw. dilakukan 11.12.2010 Pukul 20. 00 Wit

[50] Hasil wawancara dengan Pendeta Lekahena. dilakukan 12.06.2010. Pukul 10.15 Wit

[49] Hasil wawancara dengan Penatua Freed Noya. dilakukan 11.04.2010. Pukul 12.30 Wit

[48] Hasil wawancara dengan Penatua Glend Corputty. dilakukan 11.04.2010. Pukul 22.14 Wit

[47] Hasil wawancara dengan Penatua Noce Picaully. dilakukan 10.25.2010. Pukul 18.30 Wit

[46] Hasil wawancara dengan Penatua Maryo Lansamputty. dilakukan 12.02.2010. Pukul 19. 00 Wit

[45] Wawancara dengan Diaken Ibu Pattikawa, dilakukan  27. 10.2010. Pukul 07. 00 Wit

 


[44] Hasil wawancara dengan Diaken Ibu Pattikawa, dilakukan  27. 10.2010. Pukul 07. 00 Wit


[43] Hasil wawancara dengan Penatua Eder Lokolo. dilakukan 12.01.2010, Pukul  20.30 Wit


[42] Hasil wawancara dengan Penatua Maryo Lansamputty. dilakukan 12.02.2010. Pukul 19. 00 Wit


[41] Hasil wawancara dengan Penatua Noce Picaully. dilakukan 10.25.2010. Pukul 18.30 Wit


[40] Hasil wawancara dengan Penatua Glend Corputty. dilakukan 11.04.2010. Pukul 22.14 Wit


[39] Hasil wawancara dengan Penatua Freed Noya, dilakukan 10. 05. 2010 Pukul Wit


[38] Hasil wawancara dengan Pendeta Nn D Akywen. dilakukan 12.06.2010 Pukul 10.00 Wit


[37] Hasil wawancara dengan Pendeta Lekahena. dilakukan 12.06.2010. Pukul 10.15 Wit


[36] Hasil wawancara dengan Penatua No SImatauw. dilakukan 11.12.2010 Pukul 20. 00 Wit

 



[35] Hasil Wawancara dengan Penatua Patty. Dilakukan 11.05.2010 Pukul 14.07 Wit


[34] Hasil Wawancara dengan Penatua Hanny Parinussa. Dilakukan 11.14.2010 Pukul  20.22 Wit


[33] Hasil wawancara dengan Penatua Utha Nendisa,dilakukan 15.09. 2010. Pukul 01.30 Wit


[32] Hasil wawancara dengan Diaken Ibu Pattikawa, dilakukan  27. 10.2010. Pukul 07. 00 Wit


[31] Hasil wawancara dengan Penatua Maryo Lansamputty. dilakukan 12.02.2010. Pukul 19. 00 Wit


[30] Hasil wawancara dengan Penatua Noce Picaully. dilakukan 10.25.2010. Pukul 18.30 Wit


[29] Hasil wawancara dengan Penatua Glend Corputty. dilakukan 11.04.2010. Pukul 22.14 Wit


[28] Hasil wawancara dengan Pendeta Akywen. dilakukan 12.06.2010 Pukul 10.00 Wit



[27] Hasil Wawancara dengan Pendeta Lekahena. dilakukan 12.06.2010. Pukul 10.15 Wit


[26] Hasil Wawancara dengan Penatua No SImatauw. dilakukan 11.12.2010 Pukul 20. 00 Wit


[25] Hasil Wawancara dengan Penatua Noce Abel. Dilakukan 11.12.2010 Pukul 19.20 Wit


[24] Hasil Wawancara dengan Penatua Patty. Dilakukan 11.05.2010 Pukul 14.07 Wit


[23] Hasil awancara dengan Penatua Hanny Parinussa. Dilakukan 11.14.2010 Pukul  20.22 Wit


[22] Lihat Hasil Persidangan Jemaat GPM Bethel Tahun 2009


[22] Mary Elizabeth More, Education for Continuity and Change. San Fransisco : Harper, 1980, hlm. 25


[21] Basrowi dan Suwandi. Memahami Penelitian Kualitatif.  Jakarta : Rineka Cipta, 2008,  hlm. 209-210


[19] Anselm Strauss dan Juliet Corbin, Dasar-dasar Penelitian Kualitatif: Tatalangkah dan Teknik-teknik Teoritisasi data, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007, hlm. 4-10.

[20] Ibid


[18] Rijnardus A. Van Kooij, Sri Agus Patnaningsih, Yam’ ah Tsalatsa A. Menguak Fakta, Menata Karya Nyata. Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2008. Hlm 54-55


[17] J. M. Pattiasina, Weinata Sairin. Gerakan Oikoumene Tegar Mekar di Bumi Pancasila. Jakarta: BPK Gunung Mulia,1997. Hlm 332


[16] Himpunan Tata Gereja, Peraturan Pokok dan Peraturan Organik Gereja Protestan Maluku,  Ambon: Badan Pekerja Klasis GPM Pulau Ambon, 2003, hlm 44


[15] Roberth R. Boehkle. Memperlengkapi Lagi Pelayanan dan Pertumbuhan. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002, hlm. 61-63


[12] Weil,M.M. dan Rosen,L.D. Technostress:coping with technology.New York, 1997. John Wiley & Sons.

[13]Petersen, C.W. Do you have technostress? Island View.http://www.cupevidc. org/iv/98/02/techno.html. Dicapai pada 9 desember 2010.

[14] Brod, Craig. Technostress: the human cost of the computer revolution. Reading, MA: Addison-Wesley.


[11] Kupersmith, J. Technostress and the reference librarian. Reference Services Review. 1992,  20(2):7-14.


[9] http://id.wikipedia.org/wiki/Elektronik, diakses 21 Agustus 2010, Sabtu, pukul 19.30. WIT

[10] http://id.wikipedia.org/wiki/Elektronika, diakses 21 Agustus 2010, Sabtu, pukul 19.30. WIT

 


[8] http://www.total.or.id/info.php?kk=Cyberspace, diakses17 agustus 2010, Selasa, pukul 10.00 WIT


[7] Soetarman, Weinata Sairin, Ioanes Rakhmat, Fundamentalisme, Agama-Agama dan Teknologi, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996, hlm. 123


[6] Hasil Studi Institut Komunikasi 1991. Komunikasi dan Pendidikan Teologi, Yogyakarta : 1991, hlm. 16, 24


[5] http://www.sarapanpagi.org/papyrus-vt846.html, Ambon diakses 17 Agustus 2010, Jam 1 siang


[1]Wiliam F. Fore. Para Pembuat Mitos, Injil Kebudayaan dan Media, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000. Hlm 40,43


[2] David Robert Ord Robert B. Coote. Apakah Alkitab Benar?, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000, hlm. 21


[3] http://www.facebook.com/home.php?#!/profile.php?id=1225738344. Ambon, diakses17 Agustus 2010, pukul 2 siang


[4] Wikipedia ensiklopedia bebas, Multimedia. http://id.wikipedia.org/wiki/Multimedia. 30 september 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s