Relativisme Kultur

         Mendengarkan istilah etika, moral dan susila. Bagiku sudah tidak asing lagi bahkan ketiga suku kata ini selalu kita gunakan dalam melakukan komunikasi dialetik pada setiap perjumpaan kita dengan manusia lain. Aspek-aspek tersebut selalu di tuturkan, entah tepat sasaran dalam penggunaan istilah secara Etimologi dan batasan istilah itu secara Terminologi. Bagiku hal ini menjadi penting guna mengupayakan asas komunikasi yang mencapai sasaran atau tujuan sesuai dengan istilah yang kita gunakan. Ada baiknya sebelum istilah itu digunakan, seharusnya kita belajar dulu tentang sebuah istilah itu sejelas-jelasnya agar tidak terjadi pembiasan yang membiaskan tujuan. Iya pada bahasan ini saya tertarik untuk membahas tentang “Relativisme Kultural.”

        Dari dulu hingga sekarang saya selalu berpikir tentang “benar” (kebenaran). Adakah kebenaran itu ? ataukah kebenaran itu memiliki sesuatu standar untuk bisa membenarkan “sesuatu” secara mutlak ? pencarian itupun aku cari tapi tak kunjung kudapat dalam duniaku. Selalu akan mendapatkan pada tataran “melihat duniaku dengan dunia mereka”. Hingga suatu saat saya di pertemukan dengan “membaca” karya James Rachels tentang Filsafat Moral (2003). Wah sangat dasyat ternyata dengan membaca itu bisa menjawab ketidak tahuan saya. Terimakasih karena sudah membaca “sedikit” saja.

         Berbicara tentang kebenaran dari sisi Moral (Moralitas), lalu saya teringat dari “pesan” yang di baca. Dikatakan bahwa “kebudayaan yang berbeda memiliki kode moral yang berbeda juga”. Ungkapan tersebut memiliki makna yang luas sekali. Untuk bisa di pahami bagi masyarakat yang berbudaya, memiliki nilai-nilai adatis dan memiliki tradisi tentang tradisional suatu kelompok masyarata setempat. Bagiku sebuah ungkapan kebenaran Universal etika, menurut saya hanyalah sebuah “Mitos”. Kita melihat bahwa adat istiadat dari setiap masyarakat memiliki perbedaan sehingga dengan demikian hal tersebut mau mengatakan bahwa setiap budaya tidak ada yang seragam tetapi semua budaya dari setiap masyarakat setempat itu sangat heterogen. Dengan demikian isi otak mereka juga berbeda sebab mereka di bentuk dari budaya-budaya yang berbeda. Oleh sebab itu nilai adat-istiadat semacam demikian tidak bisa dikatakan “benar atau salah”, karena itu dapat mengimplikasikan bahwa ada satu nilai adatis yang bisa menjadi standar untuk menilai budaya orang lain secara subjektif. Namun perlu disadari bahwa tidak ada standar seperti demikian dalam mengukur kebenaran budaya orang lain. Karena setiap kebudayaan memiliki standar kebenaran tersendiri yang telah disepakati secara otonom dan heteronom, serta teonom. Iya saya mengutik tokoh pelopor sosiologi William Graham Sumner menulis pada Tahun 1906 demikian ;

”Jalan yang benar adalah jalan yang ditempuh oleh para pendahulu dan yang telah diturunkan. Tradisi itu menjadi pembenaran dirinya sendiri. Tradisi tak bisa diuji untuk pembenaran atas dasar pengalaman. Kebenaran harus di pahami melalui tata cara masyarakat yang bersangkutan, tidak menurut asal usul yang lepas, dari luar mereka, dan dibawa masuk untuk menguji tradisi menurut tata cara masyarakat, apapun yang ada, adalah benar. Mengapa demikian ? karena tatacara tersebut berupa tradisional, dan karenanya memuat dalam dirinya wewenang dari roh-roh nenek moyang. Jikalau kita sampai pada tatacara masyarakat setempat, kita berada pada akhir analisa kita”.

          Dengan demikian akan membuat banyak orang akan menjadi skeptis tentang etika, moral, susila. Iya demikianlah relativisme kultural yang selalu menantang keyakinan kita sehari-hari tentang objektivitas dan universalitas dari kebenaran moral. Jadi dengan demikian tidak ada kebenaran yang universal dalam etika, yang ada hanyalah kode-kode budaya yang beranekaragam.

Sehingga ada argumentasi perbedaan kultural yang timbul. Dengan argumentasi yang paling umum di lontarkan ke permukaan adalah ;

  1. Kebudayaan yang berbeda mempunyai kode moral yang juga berbeda.
  2. Oleh karena itu, tak ada “kebenaran” objektif dalam moralitas. Benar atau salah hanyalah soal pandanga, dan pandangan-pandangan itu berfariasi dari satu budaya ke budaya yang lain.

         Dengan demikian apa yang kita bisa belajar atau pelajari dari relativisme kultur ini ? adakah standar tentang suatu kebenaran dari sisi perbedaan budaya yang bisa di padukan dengan budaya lain ? dengan demikian berarti pada hakekatnya “salah” atau “benar” itu menjadi “samar” untuk menjelaskan hakekat dari teori tersebut.

Ambilah suatu tindakan yang di anggap jahat

Pembunuhan yang disengaja, misalnya

Perhatikan segala sesuatu dengan teliti dan katakan

Apabila dapat kamu peroleh fakta, atau keadaan nyata,

Dari apa yang disebut kejahatan…

Kamu tak akan dapat menemukannya

Sampai saat ketika kamu membalikan refleksimu

Kedalam dirimu sendiri

Dan menemukan suatu perasaan ketidaksenangan

Yang muncul dalam dirimu

Terhadap tindakan itu

Itulah fakta yang sesungguhnya

Tetapi ini hanyalah objek perasaan, bukan pikiran.

David Humne, A Treatise of Human Nature (1740)

2 Comments Add yours

  1. mardikabaru says:

    Mantap Maryo. Hanya perlu sedikit keteraturan dalam menempatkan alur. Alur tulisannya masih sedikit tumpang-tindih…. Itu hanya sedikit komen dari beta juga yang baru saja belajar menulis. Dhanke!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s