Memahami Yesus Sejarah dalam Pemahaman Tuhan itu Satu

Belajar tentang realitas tertingggi merupakan suatu idealis berpikir yang takan pernah selesai untuk menelaah secara kritis tentangnya agar menjadi pemberitaan yang relevan bagi umat manusia., banyak sudut pandang memahami realitas tertinggi dengan banyak penyapaan yang di pahami entah mengapa penyapaan itu tidak pernah sentris pada satu sebutan saja, ada yang sering menyapa dengan sebutan Allah, Yesus, Tuhan, dan Tuhan Allah pada umumnya seperti demikian dikalangan kekristenan moderen.

Memahami Yesus Sejarah

seperti yang kita ketahui bersama keristenan berayun pada pernyataan Yesus itu Allah seratus persen ; kalau kita simak secara kritis di sisi lain misalnya kitab suci kita dan kristen ortodoks juga menegaskan bahwa Yesus itu seorang manusia. sebab Kristen Ortodoks tidak pernah menekankan Yesus itu Allah melainkan mereka merumuskan bahwa Yesus itu “Allah Sepenuhnya dan Manusia Sepenuhnya”.

sebagai manusia kristen moderen yang relevan bisa mengkomunikasikan rasional serta iman sehingga membbuat kekristenan sendiri sebenarnya mengakui bahwa Yesus itu seorang manusia juga. karena secara sosiologis Yesus menjadi manusia dan berinteraksi dengan manusia-manusia lain, memahami kehidupan dan memahami perdaban untuk membuat perubahan pada sendi-sendi kepemimpinan yang “cacat”, demikianlah teologi berayun dari realitas sosiologi. ini berati secara manusiawi kita dapat memahami kemanusiaan Ilahi dari diri Yesus sebagai manusia yang hidup di dunia.

karena jika Yesus adalah Allah yang ada di surga, yang tidak pernah bersentuhan dengan realitas kehidupan serta sejarah dunia manusia, itu berarti keilmuan kita manusia tidak mampu dan tidak akan bisa menjangkaunya.

oleh sebab itu diri Yesus hanya bisa diteliti, dibedah, dikritisi kalau dia seorang manusia yyang pernah hidup dalam sejarah dunia ini. dan secara kekristenan sedapatnya bisa mengakui bahwa Yesus itu adalah seorang manusia, yang tidak ditolak oleh keristenan moderan zaman ini.

bagaimana Manusia bisa merekonstruksi Yesus Sejarah dengan menggunakan metode interdisipliner yang bisa di jadikan acuan meneliti, seperti ; kritik teks, sejarah, antropologi, sosiologi serta arkeologi.

penentuan epistemologi yang digunakan yakni penentuan apakah suatu gambar sejarah itu bisa betul-betul objektif seratus persen (epistemologi positivis atau objektifitas atau historis), atau malah subjektivitas seratus persen (epistemologi subjektivitis atau fenomenalis atau narcisis atau solipisme historis), atau merupakan hasil interaksi berimbang antara objektivitas faktual dan subjektivitas si perekonstruksi fakta sejarah (epistemologi interaktivis).[1]

Tuhan di Pahami Satu ?

Jika demikian Pernyataan “Tuhan” adalah satu jika direkonstruksi dengan metode interdispliner itu akan menghasilkan substansi seperti apa ? jika kekristenan secarah sadar ataupun tidak sadar juga menyepakati Tuhan adalah ‘satu’.apa landasan berpikir kita untuk samapi menyepakati Tuhan itu satu ? kemudian yang dipahami dengan Tuhan adalah satu itu seperti apa ? kalau Tuhan itu satu kemudian konsep dan model beragama kita untuk menelaah penerimaan itu secara terbuka dan kritis harus dikomunikasikan kembali sehingga kita tidak melakukan sebuah pembenaran-pembenaran subjektivitas epistemologi tetapi ia benar-benar merupakan epistemologi positivis atau objektivitas atau historis. jika pribadi “Allah” bisa dipahami lantas bagaimana kita dapat merekonstruksi pribadi Allah itu dalam sejarah manusia ? jika memahami pribadi Yesus ia bagi saya bisa dipahami, karena merupakan hasil interaksi berimbang antara objektivitas faktual dan subjektivitas si perekonstruksi fakta sejarah (epistemologi interaktivis) sebab Yesus menjadi manusia dan hidup didunia.

Nah demikian juga sebuah Band Besar Indonesia SLANK Memahami Tuhan Yang Satu dalam Konsep Lirik Lagu Mereka yang berjudul “Uni Religi”… Seperti ini sepenggal liriknya ;
Agamaku agamamu tak halangi kita bersatu
Tuhanku beda tuhanmu, tapi kita tetap menyatuTuhan yang satu
Uni religi kita bisa Merangkai mimpi-mimpi indah
Uni religi pasti bisa Mencapai langit tertinggi
walau banyak nalar, walau banyak cara
Walau kita tak sama
Kebenaran itu satu, keadilan itu satu

saya tidak berayun untuk mau menyatakan bahwa Tuhan Itu satu tidak harus diterima, okelah secara pluralisme pemahaman Tuhan itu satu merupakan acuan bersatu secara harmonis dalam dialog-dialog dan juga dalam rekonsiliasi-rekonsiliasi, serta membuat kehidupan manusia ini dapat saling memahami dalam intereligius. tanpa penolakan akibat dogma. lantas bagaimana kita dapat merekonstruksi Pribadi “Allah” serta konsep Tuhan Adalah Satu kata satu itu berarti terfokus pada jumlah artinya Tuhan bersifat Kuantitas ? atau bagaimana ?

NB : Butuh Pencerahan dari Teman-teman dan bu dan usi……. Mari Berdiskusi

Daftar Bacaan
[1] Ioanes Rakhmat, Memandang Wajah Yesus Sebuah Ekslorasi Kritis. Pustaka Surya Daun, Maret 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s