Salib Kristus Hadirkan Perubahan dan Kehidupan ! 

Khotbah di Gedung Gereja Ebenhaizer Jemaat GPM Imanuel Osm Pukul 6.30 (Wit).

 
Pembacaan Alkitab : Matius 17:1-9

Setelah itu hadirlah Petrus memberikan pernyataan untuk membangunkan kemah (mengerjakan sesuatu). Kemah di sini menunjukan keadaan posisi kehidupan setiap orang sesuai dengan kualitas proses kehidupan mereka yang diperolah dari hasil belajar. Belajar pada diri sendiri, belajar dari kehidupan keluarga dan belajar juga dari lingkungan masyarakat, juga belajar dari Tuhan.

Kedudukan, kekuasaan, dan kemapanan merupakan berkat yang diperoleh akibat berusaha secara cerdas dan keras. Hal itu baik sekali, karena Tuhan mengharapkan kehidupan keluarga Kristen menghadirkan wajah Kristus yang tersalib. Sehingga kita selalu digelisahkan akan kehidupan orang lain, kita peduli terhadap penderitaan orang lain, kita tidak dibutahkan oleh kedudukan kita. Tetapi kedudukan kita dipakai untuk Kemuliaan nama Tuhan.

Petrus adalah sosok yang gegabah, kritis dan ragu-ragu ketika segala sesuatu belum di uji kebenarannya. Saat Petrus sedang berkata-kata awan hitam hadir menggambarkan kehadiran Allah di dalam Yesus  “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.”

Seketika, Tersungkurlah para murid, saat para murid mengangkat kepalanya mereka hanya mendapatkan Yesus saja. Musa dan Elia tak terlihat lagi.

Penglihatan yang terjadi yakni kehadiran Musa dan Elia menjelaskan kegenapan misi Keristus, karena Musa hadir sebagai Nabi mewakili kitab Torat dan Elia mewakili Kitab para nabi.

Setelah itu mereka (para murid) bersama Yesus turun gunung, maka Yesus berkata : tidak boleh menceritakan kejadian yang tadi kepada siapapu sebelum anak manusia di bangkitkan dari antara orang mati !

Rangkaian Matius 17:1-9 menerangkan kepada kita bahwa hidup haruslah dijalani, karena hidup adalah proses menjadi baik karena hidup adalah belajar. Belajar memerlukan beberapa materi atau unsur yakni : lingkungan keluarga, masyarakat, lingkungan belajar (formal) dan realitas tertinggi (Tuhan). Unsur-unsur tersebut sedapatnya melahirkan kehidupan yang berkualitas. Kualitas akan mengangkat kita naik bukan turun. Menjadi manusia yang berkualitas, mendapatkan posisi yang baik dalam pekerjaan tentunya tidak memberikan jalan mulus pada proses kehidupan, malahan diperhadapkan dengan tantangan yang disebut realitas. Semua unsur itu akan melahirkan manusia berpotensi menjadi baik dan buruk.

Menjadi Murid Kristus hendakNya mampu memikul salib kristus terus dengan setia, menghadirkan cahaya wajah kristus pada diri kita. Karena Kekristenan kita adalah identitas diri kita, orang akan mengenal Kehadiran Kristus dengan Salibnya pada diri kita.

Salibnya membebaskan, bukan menghukum atau membelenggu. Salibnya hadirkan hidup berdamai sejahtera bukan hidup yang tidak berkualitas dan melahirkan kejahatan.

Maka dengan salib Kristus hendaknya kita membangkitkan kehidupan yang berdasarkan Firman Tuhan. Mengubur seluruh kehidupan kita yang lama, bercela dan tak layak. Karena hidup adalah belajar, hidup adalah perubahan. Hidupkanlah hal-hal yang baik, karena satu kebaikan akan berpotensi mempengaruhi orang lain untuk melakukan kebaikan. Dengan begitu Kristus Yang Mati di bangkitkan. Tuhan Menolong Kita semua.. Amin..!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s