Filipi 2 : 19-30 Memberitakan Injil Dengan Selalu Bersinergi

Beberapa minggu lalu saya dihubungi oleh mantan Pembimbing Skripsi saya untuk Berkhotbah di Jemaat GPM di Amahusu, saat itu saya berhalangan. Berselang seminggu, lelaki yang sedang menggeluti ilmu antropologi pada level S3 disalah satu Universitas Ternama di Indonesia lagi menghubungi dengan maksud yang sama. Saya langsung menyetujui untuk menerimanya. Minggu 18/09 dengan Pembacaan Filipi 2:19-30 menjadi panduan Khotbah.

Memahami Paulus

Paulus Adalah Sosok yang fenomenal, mengapa ? Karena iya bertumbuh dari kekacauan kehidupan. Kekacauan kehidupan dapat dilihat sebagai Anugerah bukan Stigma (tanda buruk), mengapa saya katakan kesalahan atau kejahatan itu anugerah ? Karena Paulus mampu melihat kesalahannya, ia mampu mengenal dirinya, menegur dirinya, serta bertobat terhadap diri sendiri dan juga Tuhan. Dikatakan Kesalahan adalah Anugerah karena Di balik kesalahan manusia dapat menemukan siapa dirinya secara utuh dan bisa berbalik (menjadi sadar) untuk tidak melakukan kesalahan lagi. Sesungguhnya disitulah kemahakuasaan Tuhan yang saya sebut Anugerah.

Jika kita diperhadapkan dengan sebuah tanggung jawab pada lingkungan kerja, tentunya kita tidak dapat kerja sendiri. Kita membutuhkan topangan orang lain, untuk sukseskan apa yang hendak dicapai.

Pertama kita butuh patner kerja yang solit, berintegritas, dan mampu bekerja mengutamakan kepentingan orang banyak.

Sosok Timotius dan Epafroditus

Ada dua sosok yang di lirik Paulus yakni Timotius dan Eprafoditus. Paulus mengirimkan Timotius dan Epafroditus untuk melayani jemaat di Filipi.  Timotius bisa diandalkan oleh Paulus karena kesetiaannya kepada Paulus telah teruji dalam pelayanan. Epafroditus bisa diandalkan oleh Paulus karena kesungguhan Epafroditus untuk memberikan yang terbaik dalam pelayanan sampai rela untuk mempertaruhkan nyawanya demi pekerjaan Kristus.

Timotius:

1. Kesetiaan Timotius telah teruji. Timotius menolong Paulus dalam pelayanan Injil sama seperti seorang anak menolong bapanya.

2. Timotius adalah seorang yang sehati sepikir dengan Paulus dan begitu sungguh2 memperhatikan kepentingan jemaat (di filipi).

3. Timotius tidak pernah mencari kepentingannya sendiri melainkan kepentingan Kristus Yesus.

Epafroditus:

1. Epafroditus di utus oleh jemaat Filipi untuk melayani keperluan Paulus dalam perjalanannya.

2. Dalam pelayanannya, Epafroditus sakit dan hampir mati. Tetapi dia tetap setia melayani Paulus kemanapun ia pergi.

Kesamaan Tujuan

Paulus memilih Timotius karena bagi Paulus Timotius memiliki kesamaan-kesamaan visi dan misi untuk kepentingan jemaat di Filipi. Jika mereka berselisi paham tentunya Paulus tidak akan mempercayakan kerjasamanya bersama Timotius.

Karena bagi Paulus kebanyakan orang yang mau diajak untuk memberitakan kabar baik Yesus Kristus Hanya sebagai tindakan yang sangat politis, artinya mengerjakan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu (mencari popularitas dll) yang adalah untuk kepentingan diri sendiri bukan kepentingan Pelayanan Yesus.

Paulus dalam keterbatasan yang terbatas, iya menyiarkan kabar baik yang sangat injili melalui surat yang ia tulis di dalam penjara !! untuk diberikan kepada jemaat di filipi. Saat itu Paulus masi menggunakan media kertas.

Media Sebagai Alat Komunikasi

Seandainya Paulus pada masa penginjilannya saat itu Teknologi Informasinya sudah popular seperti sekarang, bisa jadi Paulus turut reaktif atau adaptif terhadap kehadiran media digital berbasis internet, dan turut serta menggunakan Sosial Media untuk menyampaikan surat kepada Jemaat di Filipi.

Perubahan bentuk Media Komunikasi sesungguhnya adalah kemajuan ilmu pengetahuan seperti apa yang dikatakan Amsal 1:7. Sebabnya Alkitab juga mengalami kemajuan perubahan bentuk bukan substansi, dahulu ditulis di papyrus, lahir mesin cetak dan di cetak dalam gulungan-gulungan kertas, dan kemudian dikemas menjadi sebuah buku yang tersusun teratur (Alkitab). Sekarang Alkitab mengalami inovasi wujud atau bentuk menjadi Alkitab Elektronik. Ini sesungguhnya kemajuan pengetahuan yang harus di hormati dan digunakan. Jika ada penolakan (menghunakan Alkitab Elektronik) maka terima saja sebagai masa transisi perubahan atas inovasi yang baru. Toh lama kelamaan akan diterima dengan baik.

Kolegialitas

Timotius adalah sosok yang telah dilengkapi dengan pengalaman pelayanan bersama Paulus, sedangkan efrapoditus adalah sosok salah satu anggota jemaat yang dipercayakan melayani Paulus dari sisi pelayanan (makan minum) yang bersumber dari jemaat di Filipi.

Kerjasama menjadi wujud dari solidaritas persaudaraan sejati, dalam kerjasama disana ada kebersamaan serta rasa percaya merekat erat secara tulus karena tidak ada kepentingan pribadi.

Anatara Paulus, Timotius dan Efrapoditus tidak ada pendekatan struktural yang ada hanyalah kolegialitas. Mereka menjadi sejajar searah pikir untuk tujuan kepentingan yang baik yakni terus mengawal Jemaat di Filipi dalam pendewasaan iman.

Kita butuh menjadi pribadi yang rendah hati, sekalipun kita adalah pemimpin. Namun hal mendengarkan itu penting apalagi sesama rekan kerja yang menyatakan masukan berupa ide atau gagasan, maka hendaklah didengar untuk diperhatikan lanjut.

Sinergisitas dalam Kepelbagaian

Dalam kepelbagaian yang majemuk berdasarkan latar belakang ilmu, pekerjaan dan keahlian khusus. Maka sama-sama di ajak untuk saling bersinergi. Karena kita tidak dapat menyelesaikan salah satu pekerjaan sendiri tanpa bantuan orang lain atau tools yang digunakan. Apalagi untuk menjalankan berita penginjilan. Sebagai para pelayan di Gereja kita butuh sinergisitas yang berkelanjutan.

Menjadi Pewarta Kabar Baik

Proses memberitakan kabar baik ditentukan juga melalui keadaan perasaan. Pertanyaannya adalah ? Apakah jika kita ada dalam masalah, tekanan dan lain sebagainya, masikah kita mampu berpikir logis untuk melakukan hal baik ? Atau bahkan kita terhanyut oleh derasnya emosi keegoisan. Marilah menjadi dewasa dengan mengelolah perasaan serta pikiran agar tidak terjerumus kepada keputusan yang salah.

*** Kerjasama – Melihat – Mendengarkan – Mersakan – Serta Melakukan

*** Kerendahan Hati Membawa Kita Berjumpa Dengan Kepuasan Hati. Yaitu menyenangkan Hati Tuhan.

“Pelayan sejati tidak memanfaatkan Allah demi tujuan-tujuan mereka. Pelayan sejati membiarkan Allah memakai mereka untuk tujuan-tujuanNya” – Rick Warren.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s