Bergereja di Era Digital Peluang Atau Tantangan ?

Ambon, 15 Oktober 2016 –

Mewartakan kabar baik adalah tugas semua orang, kali ini saya melihat dalam beberapa pertemuan Gerejawai misalnya Konas VII PGI yang berlangsung di Bandung, Konas VII sangat konsen membahas, mengupas, menteologikan isu Teknologi Informasi (IT). Sangat serius pola yang dibicarakan kala itu, Gereja-Gereja di bawah naungan PGI berjumpa berkolaburasi atas pengalaman-pengalaman bergereja mereka merespon IT sebagai peluang atau sebagai bahaya samudera raya yang akan menenggelamkan, atau justru mengangkat ke permukaan sehingga bermakna bagi samudera raya kehidupan Yakni ;

  1. Ketidakadilan
  2. Kemiskinan
  3. Radikalisme
  4. Cyberbully
  5. Pedofil Online
  6. Perdamaian

Samudera kehidupan kita saya petakan menjadi enam point, nah bagaimana Gereja menggunakan Peluang Teknologi Informasi memprovokasi pengetahuan manusia menjadi terbebas secara destruktif. Atau sebagai Gereja kita menjadi alergi kepada Samudera informasi digital ? mari kita bersama menelaah lebih lanjut.

Pekabaran atau pemberitaan Injil menjadi ciri khas bagi GPM yang harus didialogkan dan dikelola secara masif. Karena GPM sejak dulu melakukan proses pemuritan hingga pelosok papua, tanah toraja hingga sebagian Pulau Jawa.

Lensa Sejarah Yang Terekam

Belajar dari corong masa lalu saat manusia pelan-pelan mulai memikirkan corak menulis kemudian dapat dicetak menjadi satu dokumen tertulis yang dapat dibaca, maka Johannes Gensfleisch zur Laden zum Gutenberg lahir di kota Mainz sekitar 1398, Jerman, tercatat sebagai seorang penemu mesin cetak pertama kali [wikipedia].

20140209152014_1

Memulailah pengetahuan dapat ditularkan dalam bentuk sebuah dokumen tertulis. Saat inilah fungsi komunikasi kita mengalami kemajuan.

Kehidupan terus berjalan dalam keberlangsungan yang terus berjejaring melahirkan pula cetusan temuan perangkat telepon sederhana, pasti pembaca Netizen akan mengatakan bahwa penemu telepon adalah Alexander Graham Bell dibuat pertama kali di Boston tahun 1876. Tetapi penemu Italia Antonio Meucci telah menciptakan telepon pada tahun 1849. Pada September 2001, Meucci dengan resmi diterima sebagai pencipta telepon oleh Kongres Ameria. Sungguh memukai, ternyata satu demi satu manusia pada ruang dan pasion yang berbeda terus berpikir keras untuk melahirkan teknologi dengan alasan beragam tentunya.

Perubahan terus berlanjut melaju bersama buah pikir pengetahuan akibat ilmu yang terus dikembangkan lahirlah Penemu Telegraf adalah Samuel F.B Morse pada tahun 1837. Selain mesin telegraf, Samuel F.B Morse juga dikenal sebagai penemu dari kode Morse yakni dengan sistem representasi huruf, angka, dan tanda baca dengan menggunakan sinyal kode . mereka para pemikir tidak pernah usai berkelana memijakan ilmu penyebaran informasi cetak pada jarak yang saling berjauhan.

Satu persatu terlahir hingga pencetusan audio visual Reka cipta televisi dimulai pada tahun 1926 oleh pria asal Skotlandia, John Logie Baird, mendemonstrasikan televisi pertama dimuka umum. Pada saat yg sama, Vladimir Zworykin, warga AS membuat tabung kamera yg lebih canggih, Inilah yg menjadi cikal bakal televisi sekarang.

apa-itu-dunia-broadcasting

Benang ilmu tidak pernah putus, iya berlanjut berajut seperti seorang desainer mendesain busananya membentu satu bentuk yang dapat mempesona pasar dan konsumen. Peradaban dalam kekhasana melahirkan temuan-temuan, mengembangkan hasil temuan yang sudah ada kemudian melahirkan sinergisitas komunikasi, terhaya kemarin dan hari ini punya kesinambungan.

Melalui Kleinrock lahir pada tanggal 13 Juni 1934 di Kota New York, ia lulus dari Bronx High School of Science pada tahun 1951 dan ia menerima gelar Sarjana Teknik elektro dan ilmu Komputer 1957 dari City College of New York. Pada tahun 1959 dan 1963, ia mendapatkan gelar master dan doktor (Ph.D.) di bidang teknik elektro dan ilmu komputer dari Institut Teknologi Massachusetts. Pada tanggal 29 Oktober 1969 ia menciptakan salah satu penemuan terbesar menjelang abad modern yaitu Internet yang secara tidak sengaja berhasil memecahkan kode digital dan menjadikannya sebagai paket-paket yang terpisah.

Ternyata masa lalu adalah sejarah belajar, sejarah merevolusikan ilmu, pengetahuan dan Teknologi. Satu saja tujuan mereka tentunya memberikan kemudahan-kemudahan hingga manusia semakin atraktif mengubah atau menciptakan perubahan pada perilaku dan cara berpikir. Pijaran-pijaran pengetahuan terus bersinar memancarkan terang menerangi kelana berpikir merajut ilmu menciptakan teori dan begitu seterusnya.

Perbedaan Cabang Ilmu

Ternyata perbedaan cabang ilmu terlahir untuk menjembatani perbedaan pengetahuan bukan untuk menyatukan (menyamakan) atau memisahkan tetapi berkesinambungan atau harmonisasi berkelanjutan.

D+ IOS UK BANNER WEB 659x412px.indd

Berhingga pada semua alat temuan tersebut merembes merambat basahi relung-relung yang religius. Mempengaruhi sisi liturgis hingga perilaku beribadah para jemaat. Gereja kita GPM adalah salah satu gereja Mainstream di Maluku. Para pendahulu telah melakukan penginjilan misonaris hingga ke tanah papua, toraja, hingga tanah jawa. Injil dikomunikasikan dengan berjalan kaki menggunakan perangkat sederhana tentunya, dan telah menghabiskan banyak waktu meneteskan keringat melahirkan kekristenan (protestan).

Konteks PI Bertumbuh

Konteks Pekanaran Injil kita mengalami perkembangan, pertumbuhan. Tentunya banyak Model yang dapat digunakan untuk mendialogkannya. Konteks masyarakat jemaat kita diperhadapkan bersama konteks heterogen (moderen – tradisional).

Menjadi realistis memandang Konteks GPM sebagai Gereja Pulau-Pulau. Faktanya adalah tidak semua medan Gumul GPM terkoneksi Internet yang dapat memungkinkan IT membuming secara merata, tetapi lima tahun kedepan Teknologi Komunikasi akan masuk pada wilayah-wilayah tersebut, ini adalah harapan bersama.

Konteks Moderen melihat seakan Membaca peluang  IT bukan sebagai ancaman tetapi peluang yang dapat digunakan sebagai  salah satu model yang harus diberdayagunakan.

Sandaran Hukum

Karena dalam Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau Undang Undang nomor 11 tahun 2008 atau UU ITE adalah UU yang mengatur tentang informasi serta transaksi elektronik, atau teknologi informasi secara umum.

Serta mengacu kepada PIP-RIPP GPM tentang Pengembangan Pendidikan Formal Gereja pada Konsep Teknologi Iinformasi Komunikasi, juga pengelolaan Informasi dokumentasi terintegrasi.

Tak dapat dipungkiri bahwa kita sekarang sedang berhadap-hadapan dan diperhadapkan dalam Konteks Masyarakat Tradiosonal – Moderen.

Siapakah Generasi Digital Native – Imigrant Native ?

Digital Native adalah kelompok yang saat mulai belajar menulis sudah mengenal internet atau yang saat ini berada di bawah 24 tahun sedangkan Immigrant Native Usia di atas 25 tahun bisa disebut digital immigrant, diisi oleh orang-orang dewasa yang bekerja dan main internet di waktu senggang atau di kantor. Mulai bermain dan aktif Facebook, Twitter, Youtube, dan lain-lain untuk membuktikan kepada dunia bahwa mereka ada.  Dua Konteks tersebut adalah kekinian perubahan sosial yang sedang berlangsung dan berlanjut.

Tugas Gereja adalah memberikan bobotan spiritual kekristinen pada ruang-ruang penggunaan, pemanfaatan, serta penyebaran informasi yang begitu mudah di posting /update melalu genggaman SmartPhone, ini harus diatur, dikelolah sehingga warga gereja kita tidak hanyut dalam samudera digital yang menenggelamkan karena miskin arahan profetis sebagai gereja. Tergugah GPM dalam kegelisaan sepanjang masa memberikan pelayanan yang terbaik baik warga gerejanya membuka ruang tersebut secara kongkrit. GPM berjalan dalam gelombang yang sama bersama warga gerejanya, GPm menjadi adaptif, teologis, serta gerejawi dalam pemenfaatan teknologi tepat guna.

Samudera Raya Kehidupan

Tantangan Kita adalah  dalam bagaimana mendialogkan PI yang menggawang pada konteks masalah sosial (LGBT dll), serta kesiapan masyarakat menghadapi MEA.

Trend Masalah TI sekarang ini – Ketidak Adlian, Kemiskinan, Radikalisme Online, Cyberbully, Pedofil Online, dan perdamaian. Masalah-masalah tersebut tak bisa dilihat sebelah mata, ini adalah konteks kita.

Bagi Saya Bobot Penggunaan, Pemanfaatan IT harus dimaksimalkan pada wilayah-wilayah yang terintegrasi jaringan Komunikasi internet. Dengan tidak mengabaikan wilayah yang belum terkoneksi. Menjadikan IT sebagai basis pemberitaan Firman dan Pemberdayaan manusia.

Memberikan fokus pada pembobotan cara penggunaan, pemanfaatan, serta penyebaran Injil yang dikomunikasikan pada aliran digital “Menuju Ujung Dunia. Sebenarnya menarik karena Pekabaran Injil (PI) berbasis IT adalah PI yang menembusi batas cahaya sang lyan terhadap ruang dan waktu secara geografis juga imanen.

Memahami GereJa di Era Digital

Memahami Gereja di Era digital – memandang Gereja Ala IT memaksakan kita harus merekosntruksi atau adaptif  sebab IT adalah produk terjemahan Kasih Allah karena Roh kudus, pengetahuan yang diterjemahkan menjadi Satu kajian terapan yakni perangkat Teknologi.

Bukankah jika sekarang banyak manusia sering berdoa di sosial media, kadang ada letusan-letusan emosional yang meledak-ledak, persungutan, cacimaki dan lain sebagainya. Ini sdalah fakta Netizen (Net =Internet | Citizen = warga) yang melihat, membaca serta mereduksi informasi di sosial media menggunakan cara yang terbatas mengakibatkan pola tafsir menjadi “haters” dan “Lovers”, ya ini realisitis.

Bukankah Alkitab kita sejak dahulu juga terisi dengan caci maki ? persungutan kepada Allah, kepada pemerintah ?  Kalimat-kalimat yang ditulis di Alkitab bukankah juga merupakan ledakan emosi karena keadaan sesungguhnya ?

Sebenarnya kita berdiri pada zaman yang berbeda, menggunakan media yang berbeda tetapi bentuk letusan-letusan emosi, pikir, keadaan disekitar telah menjadi suatu dokumen yang telah di Alkitabkan.  Sekali sebagai Gereja kita harus memberikan arah, sehingga yang menjadi “Haters” karena keterbatasan menafsir masalah dapat dicerahkan.

Gereja Berbasis IT adalah gereja yang hidup dibumi yang menggunakan, memanfaatkan hasil karya rohkudus untuk mendialokan dan menyebarkan kabar baik manusia. Gereja Memanfaatkan media untuk Memberikan pemahaman, meredam kebencian, cyber bully, pedofil online atau yang saya sebutkan sebagai samudera raya kehidupan (enam point) serta bertindak sebagai alat perdamaian yang mendamaikan.

Disinilah Gereja berjalan dalam gelombang yang sama bersama zaman ini. Gereja tidak perlu hanyut dalam samudera informasi atau tenggelam, tetapi mengendalikan, memanfaatkan informasi menjadi sebuah pengetahuan yang berdampak bagi lingkungan pelayanan Gereja Protestan Maluku.

Gereja Protestan Maluku di Arena Digital

GPM telah memiliki website sejak lama, sekitar tahun 2000 an tetapi karena teterbatasan sumber daya manusia maka semuanya “hilang” bukan berlalu, kontennya hilang tetapi idenya tetap hidup. Maka pada tahun 2011 GPM kembali menghidupkan situs yang telah lama hilang yaitu Website yang diberi nama SinodeGPM.Org, sejak itu GPM membuat Sosial media (facebook dan Twitter) pada tahun 2016 GPM juga ada pada gelombang instagram serta path, GPM adalah Gereja yang adaptif meneelah dan menerjemakan ide atau gagasan yang dibincang-bincangkan oleh anggota jemaatnya.

Kedepan pada tahun 2017 GPM akan menerapkan sebuah Model IT secara Konkrit yakni Radio Online, Serta TV Multiplatform sebagai salah satu cara mewartakan kabar baik di Era Digital.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s